5 Alasan Inggris Nyaris Dipermalukan Kongo di Piala Dunia 2026, Tuchel Blunder Taktik?

02.07.2026
5 Alasan Inggris Nyaris Dipermalukan Kongo di Piala Dunia 2026, Tuchel Blunder Taktik?
5 Alasan Inggris Nyaris Dipermalukan Kongo di Piala Dunia 2026, Tuchel Blunder Taktik?

Timnas Inggris resmi mengamankan tiket ke babak 16 besar Piala Dunia 2026 untuk menantang Meksiko. Kepastian ini didapat setelah The Three Lions menang comeback dramatis 2-1 atas Republik Demokratik (RD) Kongo.

Namun, sebelum sang kapten Harry Kane keluar sebagai pahlawan lewat borongan dua golnya di menit-menit akhir, armada Thomas Tuchel harus melewati 75 menit yang penuh frustrasi. Inggris bahkan berada di ujung tanduk dan terancam pulang lebih awal.

Mengapa raksasa Eropa ini bisa dibuat kelabakan oleh wakil Afrika? Berikut adalah analisa 5 penyebab utama Timnas Inggris nyaris menelan pil pahit:

1. Blunder Taktik: Salah Baca Strategi Lawan

Sebelum laga dimulai, Thomas Tuchel memprediksi Kongo akan bermain defensif total dengan formasi 5-3-2 dan hanya mengandalkan serangan balik lewat umpan-umpan lambung. Namun, realita di lapangan justru berbalik 180 derajat.

Pelatih Kongo, Sebastien Desabre, membuat kejutan besar dengan menerapkan skema agresif 4-1-4-1. Strategi ini membuat Kongo sukses mendominasi penguasaan bola hingga 73 persen di menit-menit awal pertandingan.

Salah analisis ini bikin lini tengah Inggris mati kutu dan kehilangan kendali permainan sejak peluit pertama dibunyikan.

2. Lini Belakang Rapuh dan Banyak “Celah”

Longgarnya koordinasi pertahanan Inggris harus dibayar mahal saat laga baru berjalan 7 menit. Berawal dari umpan silang akurat Chancel Mbemba, struktur pertahanan The Three Lions langsung kocar-kacir.

Bek kanan Djed Spence terlalu fokus mengawal Noah Sadiki, sehingga terlambat menutup ruang gerak Brian Cipenga. Alhasil, Cipenga dengan leluasa melepaskan tembakan yang menaklukkan kiper Jordan Pickford di tiang dekat.

Inggris bahkan nyaris tertinggal 0-2 andai Yoane Wissa tidak membuang peluang emas di mulut gawang pada akhir babak pertama.

3. Start Lambat dan Kena Mental

Performa loyo Inggris di paruh pertama membuat para suporter frustrasi. Riuh sorakan kekecewaan (boo) dari tribune penonton bahkan menggema saat jeda minum (water break).

Statistik mencatat performa buntu Inggris yang tidak mampu melepaskan satu pun tembakan tepat sasaran (shot on target) dalam 22 menit pertama. Tertinggal gol cepat juga membuat para pemain asuhan Tuchel bermain terburu-buru dan panik.

Secara historis, Inggris punya kutukan tidak pernah menang di fase gugur Piala Dunia jika tertinggal di babak pertama. Beruntung, magis Harry Kane berhasil mematahkan kutukan sejarah tersebut.

4. Sektor Sayap Mandek dan Minim Kreativitas

Tuchel kembali dipusingkan oleh performa melempem para penyerang sayapnya. Dipercaya sebagai starter, Marcus Rashford dan Noni Madueke tampil melempem tanpa tusukan berarti sebelum akhirnya ditarik keluar pada menit ke-61. Mandeknya kedua koridor sayap ini membuat serangan Inggris mudah patah.

Permainan Inggris baru hidup setelah Anthony Gordon dan Bukayo Saka masuk dari bangku cadangan. Terbukti, Gordon-lah yang melepaskan dua umpan matang (assist) yang dikonversi menjadi gol oleh Harry Kane untuk menyudahi perlawanan Kongo.

5. Kiper Lawan Tampil Kesurupan

Di luar masalah internal Inggris, ketangguhan kiper Kongo, Lionel Mpasi, wajib diacungi jempol. Sang penjaga gawang tampil luar biasa dengan deretan penyelamatan krusial di babak pertama, termasuk menggagalkan dua sundulan jarak dekat Jude Bellingham.

Mpasi juga menunjukkan refleks tingkat dewa saat menepis tendangan keras Harry Kane di sudut sempit. Performa heroik Mpasi sukses menjaga keunggulan Kongo selama 75 menit dan nyaris menciptakan salah satu kejutan terbesar di Piala Dunia 2026.

Scr/Mashable





Don't Miss