Alasan Mengapa Bendera Arab Saudi Pantang Menyentuh Rumput di Piala Dunia 2026

22.06.2026
Alasan Mengapa Bendera Arab Saudi Pantang Menyentuh Rumput di Piala Dunia 2026
Alasan Mengapa Bendera Arab Saudi Pantang Menyentuh Rumput di Piala Dunia 2026

Ada pemandangan menarik sekaligus tidak biasa dalam prosesi upacara menjelang laga antara Spanyol dan Arab Saudi pada laga lanjutan Piala Dunia 2026, Minggu (21/6/2026) malam waktu setempat.

Jika biasanya bendera raksasa kedua negara kontestan dibentangkan rata di atas lapangan, tidak demikian dengan bendera Arab Saudi. Di Stadion Atlanta, Amerika Serikat, bendera hijau milik perwakilan Asia tersebut tampak diangkat tinggi-tinggi oleh para sukarelawan, mengambang di udara tanpa menyentuh rumput sama sekali.

Demi menjaga asas keadilan dan keseimbangan estetika dalam sebuah laga internasional, bendera Spanyol pun diperlakukan dengan cara yang sama.

Lantas, mengapa hal ini bisa terjadi?

Makna Suci di Balik Sehelai Kain Hijau

Alasan utama di balik protokol khusus ini terletak pada desain sakral yang melekat pada bendera Arab Saudi. Di atas latar belakang hijau, terdapat tulisan kaligrafi Arab berwarna putih yang merupakan kalimat Syahadat—sebuah kesaksian iman yang menjadi inti dari ajaran agama Islam.

Di bawah kalimat suci tersebut, terdapat gambar sebilah pedang berdiri tegak.

Bagi masyarakat dan pemerintah Arab Saudi, bendera ini bukan sekadar simbol identitas nasional, melainkan lambang keagamaan yang sangat suci dan harus dihormati.

Berdasarkan Undang-Undang Bendera Arab Saudi yang disahkan sejak tahun 1973, hukum negara tersebut melarang keras bendera mereka menyentuh tanah, air, atau permukaan rendah apa pun.

Aturan ketat ini juga yang membuat bendera Arab Saudi menjadi satu-satunya bendera di dunia yang pantang dikibarkan setengah tiang, bahkan saat masa berkabung nasional sekalipun.

FIFA Ubah Protokol Dadakan

Sebelum bergulirnya Piala Dunia 2026, FIFA sebenarnya telah memperkenalkan versi baru untuk seremoni jelang pertandingan. Dalam format baru ini, para pemain dan wasit akan berdiri melingkar di tengah lapangan, sementara dua bendera raksasa negara yang bertanding dibentangkan mendatar di kedua sisi lapangan.

Namun bagi pihak Arab Saudi, format baru ini langsung memicu benturan sensitif terkait aturan agama dan protokol negara mereka.

Merespons hal tersebut, Federasi Sepak Bola Arab Saudi (SAFF) langsung melayangkan permohonan resmi kepada FIFA. Otoritas tertinggi sepak bola dunia itu pun bergerak cepat dan menyetujui opsi alternatif: mengangkat kedua bendera tinggi-tinggi di udara.

Langkah ini diambil FIFA untuk menghindari kesan tidak adil. Jika hanya bendera Arab Saudi yang diangkat sedangkan bendera Spanyol tetap dibentangkan di tanah, visual di lapangan akan terlihat tidak seimbang. Oleh karena itu, kedua bendera akhirnya diperlakukan secara setara.

Aturan yang Sama untuk Irak, Berbeda dengan Iran

Kasus serupa ternyata tidak hanya dialami oleh Arab Saudi. Tim nasional Irak, yang benderanya memuat tulisan “Allahu Akbar” (Allah Maha Besar), juga mendapatkan perlakuan khusus yang sama.

Saat laga Irak kontra Norwegia, FIFA menerapkan penyesuaian protokol setelah menerima permintaan resmi dari Federasi Sepak Bola Irak.

Menariknya, situasi berbeda justru terlihat pada tim nasional Iran. Meski bendera negara mereka juga memuat unsur-unsur religius yang kental, bendera Iran terpantau tetap dibentangkan rata di atas rumput saat mereka bersua Selandia Baru.
Berdasarkan laporan, hal ini terjadi karena Federasi Sepak Bola Iran tidak mengajukan permintaan penyesuaian protokol khusus kepada pihak FIFA.

Scr/Mashable





Don't Miss