Nama Andrés Escobar kembali menjadi perbincangan setiap kali Piala Dunia berlangsung.
Bukan hanya karena tragedi yang merenggut nyawanya setelah Piala Dunia 1994, tetapi juga karena bek legendaris Kolombia itu sebenarnya berada di ambang kepindahan menuju AC Milan, klub yang saat itu sedang mencari penerus sang kapten legendaris, Franco Baresi.
Saat tampil bersama timnas Kolombia di Amerika Serikat pada 1994, Escobar sedang menikmati puncak kariernya. Penampilannya yang tenang, disiplin, dan elegan membuatnya dijuluki “The Gentleman of Football”.
Media Italia saat itu bahkan melaporkan bahwa AC Milan telah memasukkan namanya sebagai kandidat utama untuk memperkuat lini belakang Rossoneri setelah era Franco Baresi mulai mendekati akhir. Negosiasi transfer disebut telah berjalan dan hanya tinggal menunggu rampungnya Piala Dunia.
Ketertarikan AC Milan bukan tanpa alasan. Di bawah asuhan Fabio Capello, klub raksasa Serie A tersebut baru saja menjuarai Liga Champions 1993/1994 dan mulai mempersiapkan regenerasi di sektor pertahanan.
Meski Baresi masih menjadi kapten dan belum langsung pensiun pada musim panas 1994, usianya yang telah menginjak 34 tahun membuat Milan mulai mencari bek tengah yang diproyeksikan menjadi suksesor jangka panjangnya.
Escobar dinilai memiliki karakter bermain yang sesuai dengan filosofi pertahanan Milan, yakni tenang saat menguasai bola, piawai membaca permainan, dan mampu membangun serangan dari lini belakang.
Namun, harapan tersebut sirna setelah Kolombia gagal lolos dari fase grup Piala Dunia 1994. Kekalahan 1-2 dari tuan rumah Amerika Serikat menjadi titik balik, ketika Escobar secara tidak sengaja mencetak gol bunuh diri yang kemudian terus menghantuinya.
Sepulang ke Medellín, Escobar memilih kembali ke kehidupan normal meski sempat diingatkan sejumlah rekan agar menunda kepulangannya. Pada 2 Juli 1994, ia ditembak enam kali di luar sebuah klub malam setelah mendapat hinaan terkait gol bunuh diri tersebut.
Bek berusia 27 tahun itu meninggal dunia, mengakhiri karier yang diyakini masih akan bersinar di level tertinggi sepak bola Eropa.
Hingga kini, kisah Andrés Escobar masih dikenang sebagai salah satu tragedi terbesar dalam sejarah sepak bola dunia.
Bagi para pendukung AC Milan, kisah tersebut juga menyisakan pertanyaan yang tak pernah terjawab: bagaimana jadinya jika bek Kolombia itu benar-benar mengenakan seragam Rossoneri dan melanjutkan estafet kepemimpinan lini belakang dari Franco Baresi.
Mimpi besar itu akhirnya hanya menjadi bagian dari sejarah yang tak pernah terwujud.
Scr/Mashable














