Timnas Brasil memastikan langkah ke babak 16 besar Piala Dunia 2026 setelah membalikkan keadaan dan mengalahkan Jepang dengan skor dramatis 2-1 pada babak 32 besar di Houston Stadium, Texas, Amerika Serikat, Selasa (30/6/2026) WIB. Kemenangan tersebut tidak hanya mengantarkan Selecao melaju ke fase berikutnya, tetapi juga melahirkan sederet rekor menarik bagi kedua tim.
Brasil sempat berada dalam tekanan setelah Jepang unggul lebih dahulu lewat gol Kaishu Sano pada babak pertama. Namun perubahan strategi yang dilakukan pelatih Carlo Ancelotti, termasuk memasukkan Endrick pada babak kedua, berhasil mengubah jalannya pertandingan hingga Casemiro menyamakan kedudukan sebelum Gabriel Martinelli mencetak gol kemenangan pada masa injury time.
Gol Martinelli menjadi salah satu momen paling bersejarah dalam laga tersebut. Berdasarkan data Stats Foot, terakhir kali gol kemenangan pada menit ke-90 lebih di fase gugur Piala Dunia yang menghindarkan sebuah tim dari babak perpanjangan waktu terjadi ketika Nacer Chadli membawa Belgia menyingkirkan Jepang pada Piala Dunia 2018.
Kini, Martinelli mengulang momen dramatis serupa dengan memastikan Brasil menang sebelum laga memasuki extra time.
Dernières fois qu’un joueur a inscrit un but victorieux à partir de la 90e minute de jeu en phase à élimination directe en Coupe du Monde pour éviter la prolongation :
🇧🇪 Nacer Chadli contre Japon le 2 juillet 2018
🇨🇦 Stephen Eustáquio contre Afrique du Sud le 28 juin 2026
🇧🇷…— Stats Foot (@Statsdufoot) June 29, 2026
Bagi Brasil, kemenangan ini juga memperpanjang rekor impresif mereka di Piala Dunia. Selecao kini belum pernah tersingkir pada pertandingan pertama fase gugur sejak dikalahkan Argentina di babak 16 besar Piala Dunia 1990, mempertegas status mereka sebagai salah satu tim dengan tradisi terkuat di turnamen sepak bola paling bergengsi di dunia.
Laga ini sempat menghadirkan ancaman serius bagi Brasil. Untuk pertama kalinya sejak menghadapi Jepang pada fase grup Piala Dunia 2006, Selecao kembali tertinggal lebih dahulu dari wakil Asia di ajang Piala Dunia.
Saat itu Brasil mampu bangkit dan menang 4-1, sedangkan pada edisi 2026 mereka kembali menunjukkan mental juara dengan membalikkan keadaan menjadi kemenangan 2-1.
🇧🇷 Le Brésil n’avait plus été mené au score contre une nation asiatique à la Coupe du Monde depuis le 22 juin 2006 contre la Japon. #BREJAP
— Stats Foot (@Statsdufoot) June 29, 2026
Sebelum bangkit pada babak kedua, Brasil juga mencatat catatan yang jarang terjadi. Mereka tertinggal saat turun minum pada laga Piala Dunia untuk pertama kalinya sejak perempat final Piala Dunia 2018 ketika dikalahkan Belgia. Fakta tersebut menunjukkan betapa disiplin dan efektifnya permainan Jepang dalam 45 menit pertama.
Meski gagal melaju ke babak 16 besar, Jepang tetap mencatat sejumlah pencapaian membanggakan.
Gol Kaishu Sano membuat Samurai Biru berhasil mengoleksi delapan gol sepanjang Piala Dunia 2026, menyamai rekor gol terbanyak yang pernah dicetak negara Asia dalam satu edisi Piala Dunia, menyamai pencapaian Korea Selatan saat menjadi tuan rumah pada tahun 2002.
🇯🇵 Le Japon a inscrit 8 buts à la Coupe du Monde 2026, égalant le record pour une nation asiatique lors d’une édition dans la compétition (8 pour la Corée du Sud en 2002). #BREJAP
— Stats Foot (@Statsdufoot) June 29, 2026
Kaishu Sano juga menjadi sosok sentral dalam pertandingan tersebut. Selain mencetak gol internasional pertamanya bersama tim nasional Jepang, gelandang yang musim lalu menjadi pemain dengan jumlah intersepsi terbanyak di Bundesliga itu tampil luar biasa dalam memutus alur serangan Brasil, termasuk memblok peluang emas Lucas Paqueta pada babak pertama.
Jepang kembali memperlihatkan mentalitas luar biasa setiap memasuki fase gugur Piala Dunia. Samurai Biru selalu berhasil mencetak gol lebih dahulu dalam tiga pertandingan knockout terakhir mereka, yakni melawan Belgia pada 2018, Kroasia pada 2022, dan Brasil pada 2026.
Sayangnya, ketiga pertandingan tersebut berakhir dengan kekalahan sehingga mereka masih harus menunggu sejarah kemenangan pertama di fase gugur Piala Dunia.
Catatan tersebut membuat Jepang kini menjadi negara dengan jumlah pertandingan fase gugur terbanyak di Piala Dunia tanpa sekalipun meraih kemenangan. Dari lima pertandingan knockout yang telah dijalani sepanjang sejarah, seluruhnya berakhir dengan kegagalan meski beberapa kali tampil sangat kompetitif.
Hasil melawan Jepang turut mempertegas dominasi Brasil saat menghadapi negara di luar Eropa pada ajang Piala Dunia.
Kemenangan atas Samurai Biru menjadi kemenangan kesembilan secara beruntun Brasil atas negara non-Eropa di Piala Dunia.
Kekalahan terakhir Brasil dari negara non-Eropa terjadi pada Piala Dunia 1990 ketika takluk 0-1 dari Argentina di babak 16 besar.
Brasil kembali menunjukkan konsistensinya sebagai salah satu kekuatan terbesar sepak bola dunia.
Selecao menjadi satu-satunya negara dalam sejarah yang selalu berhasil menembus 16 besar di seluruh 23 edisi Piala Dunia yang pernah digelar.
Rekor tersebut belum mampu disamai negara mana pun hingga Piala Dunia 2026.
Gol penyama kedudukan yang dicetak Casemiro juga masuk dalam catatan sejarah. Pada usia 34 tahun 126 hari, gelandang veteran tersebut menjadi pencetak gol tertua kedua Brasil dalam sejarah Piala Dunia.
Ia hanya kalah dari Bebeto yang mencetak gol ke gawang Denmark pada Piala Dunia 1998 saat berusia 34 tahun 137 hari.
🇧🇷 Casemiro (34 ans et 126 jours) devient le 2e buteur le plus âgé du Brésil dans l’histoire de la Coupe du Monde derrière Bebeto contre le Danemark le 3 juillet 1998 (34 ans et 137 jours). #BREJAP
— Stats Foot (@Statsdufoot) June 29, 2026
🇧🇷 Casemiro (34 ans et 126 jours) devient le 2e buteur le plus âgé du Brésil dans l’histoire de la Coupe du Monde derrière Bebeto contre le Danemark le 3 juillet 1998 (34 ans et 137 jours). #BREJAP
— Stats Foot (@Statsdufoot) June 29, 2026
Laga melawan Jepang juga menjadi momen bersejarah bagi Brasil karena menurunkan dua pemain berusia 19 tahun, yakni Rayan dan Endrick, dalam pertandingan fase gugur.
Terakhir kali Brasil memainkan dua pemain di bawah usia 20 tahun pada laga knockout terjadi pada perempat final Piala Dunia 1958 saat menurunkan Pele (17 tahun) dan Jose Altafini (19 tahun) melawan Wales.
Gol Kaishu Sano membuat Brasil tertinggal 0-1 hingga turun minum.
Itu menjadi pertama kalinya Selecao menutup babak pertama dalam keadaan tertinggal di Piala Dunia sejak kalah dari Belgia pada perempat final edisi 2018.
Selain itu, Jepang juga menjadi tim Asia pertama yang mampu memimpin atas Brasil di Piala Dunia sejak pertemuan kedua tim pada fase grup Piala Dunia 2006.
Di balik penampilan impresifnya, Jepang kembali harus menelan kekecewaan di fase gugur.
Samurai Biru kini menjadi negara dengan jumlah pertandingan fase gugur terbanyak dalam sejarah Piala Dunia tanpa pernah meraih kemenangan, yakni lima pertandingan.
Lebih menyakitkan lagi, Jepang selalu unggul terlebih dahulu dalam tiga pertandingan knockout Piala Dunia terakhir, tetapi semuanya berakhir dengan kekalahan.
Rangkaian hasil tersebut adalah kalah 2-3 dari Belgia pada babak 16 besar Piala Dunia 2018 setelah sempat unggul 2-0, tersingkir dari Kroasia melalui adu penalti pada babak 16 besar Piala Dunia 2022 usai bermain imbang 1-1 setelah lebih dulu unggul, kalah alah 1-2 dari Brasil pada babak 32 besar Piala Dunia 2026 meski memimpin hingga turun minum.
Scr/Mashable















