Florentino Perez Ungkap Real Madrid Dicurangi Wasit dan Kehilangan 18 Poin

14.05.2026
Florentino Perez Ungkap Real Madrid Dicurangi Wasit dan Kehilangan 18 Poin
Florentino Perez Ungkap Real Madrid Dicurangi Wasit dan Kehilangan 18 Poin

Presiden Real Madrid, Florentino Perez, meluapkan kemarahan besarnya yang ditujukan langsung kepada pihak La Liga dan korps wasit Spanyol. Reaksi keras ini meledak setelah Los Blancos dipastikan gagal total dalam perburuan gelar juara Liga Spanyol musim ini.

Dalam pidato resminya pada Selasa (12/5/2026) malam waktu setempat, Perez meluncurkan serangan terbuka yang sangat agresif. Pengusaha kakap asal Spanyol tersebut mengeklaim bahwa Real Madrid sengaja dijegal di sepanjang musim melalui serangkaian keputusan pengadil lapangan yang merugikan.

“Saya baru memenangkan 7 gelar La Liga bersama Real Madrid? Seharusnya 14! Mereka telah merampok 7 gelar lainnya dari saya,” ujar Perez dengan nada tinggi usai melihat sang rival abadi, Barcelona, resmi mengunci gelar juara musim ini.

Sebelumnya, kekalahan menyakitkan 0-2 dalam laga El Clasico pada Senin (11/5/2026) membuat posisi Real Madrid kian terpuruk. Los Blancos kini tertinggal jauh hingga 14 poin dari Barcelona, padahal kompetisi hanya menyisakan tiga pertandingan lagi.

Menurut Perez, jarak poin yang sangat lebar di papan klasemen saat ini sama sekali tidak mencerminkan kualitas performa kedua tim di lapangan. Pria berusia 79 tahun itu menegaskan, “Para wasit telah merampok 18 poin dari kami!”

Ungkit Lagi Skandal Kasus Negreira

Tidak berhenti sampai di situ, Perez juga sengaja mengorek kembali luka lama sepak bola Spanyol dengan mengungkit skandal Negreira yang sempat mengguncang dunia. Ia melabeli kasus tersebut sebagai skandal terbesar sepanjang sejarah sepak bola dan mengecam lambatnya penyelesaian hukum dari pihak berwenang.

Kasus Negreira sendiri menyeret mantan Wakil Presiden Komite Wasit Spanyol, Jose Maria Enriquez Negreira. Ia dituduh menerima aliran dana lebih dari 7 juta euro dari pihak Barcelona selama periode 2001 hingga 2018.

Jaksa penuntut Spanyol menduga uang tersebut digunakan untuk melicinkan keputusan wasit agar menguntungkan Barcelona. Di sisi lain, Barcelona bersikeras bahwa uang itu murni untuk membayar laporan analisis dan konsultasi teknis terkait perwasitan.

Perez pun secara blak-blakan mempertanyakan transparansi dan integritas sistem perwasitan yang memimpin kompetisi saat ini.

“Wasit-wasit dari era Negreira ternyata masih aktif bertugas sampai sekarang. Ini benar-benar tidak masuk akal! Barcelona membayar Negreira selama dua dekade, dan sekarang orang-orang bentukan mereka masih saja memimpin pertandingan,” ketus Perez.

Pernyataan kontroversial dan serangan verbal yang sangat frontal dari Florentino Perez ini diprediksi akan membuat hubungan antara Real Madrid dengan pihak La Liga, Barcelona, serta badan perwasitan Spanyol semakin memanas dan memasuki fase krisis dalam beberapa waktu ke depan.

Real Madrid Harus Membayar Harga Mahal Akibat Blunder Transfer yang Bikin Terpuruk

Musim tanpa gelar yang dialami Real Madrid saat ini bukan sekadar cerminan masalah teknis di atas lapangan. Lebih dari itu, kegagalan ini menyingkap retakan besar dalam kebijakan transfer yang selama ini menjadi kebanggaan klub raksasa Spanyol tersebut.

Kekalahan telak dari Barcelona di Camp Nou menjadi titik nadir yang secara praktis menutup perjalanan Real Madrid di musim 2025/26. Namun, yang memicu perdebatan panas di media Spanyol bukanlah sekadar skor akhir, melainkan komposisi skuad yang diturunkan oleh sang pelatih.

Dalam laga paling krusial musim ini, hanya satu dari enam pemain baru yang didatangkan sejak musim panas 2024 yang tampil sebagai starter, yakni Trent Alexander-Arnold. Bek asal Inggris tersebut diboyong dari Liverpool dengan biaya sekitar 8 juta euro demi mengejar pendaftaran FIFA Club World Cup.

Sementara itu, deretan pemain berbiaya fantastis lainnya seperti Dean Huijsen, Alvaro Carreras, hingga Franco Mastantuono hanya menghuni bangku cadangan. Padahal, total investasi yang dikucurkan Real Madrid untuk memboyong ketiganya menembus angka 170 juta euro (sekitar Rp2,9 triliun).

Laporan dari media ternama AS menyebutkan bahwa ini adalah sinyal nyata bahwa Real Madrid mulai kehilangan efektivitas yang selama ini menjadikan mereka kiblat di pasar transfer pemain.

Kehilangan Sentuhan Emas

Selama bertahun-tahun, Los Blancos seolah memiliki “sentuhan mendaras” dalam urusan transfer strategis. Nama-nama seperti Vinicius Junior, Rodrygo, Federico Valverde, Thibaut Courtois, hingga Aurelien Tchouameni sukses bertransformasi menjadi pilar tim tak lama setelah tiba di Bernabeu.

Puncaknya terjadi pada bursa transfer musim panas 2023, di mana manajemen Madrid melakukan langkah yang hampir sempurna. Jude Bellingham didatangkan dengan nilai lebih dari 100 juta euro dan langsung menjadi megabintang.

Arda Guler menunjukkan potensi besar, sementara Joselu hadir sebagai pelapis yang sangat efektif. Hasilnya? Madrid sukses mengawinkan gelar La Liga dan Liga Champions musim 2023/24.

Paradoks Kylian Mbappe

Namun, dua jendela transfer terakhir memberikan kesan yang jauh berbeda. Kylian Mbappe sejatinya tetap menunjukkan ketajamannya dengan catatan gol yang impresif sejak bergabung secara gratis. Namun, sebuah paradoks muncul: Real Madrid justru harus puasa gelar selama dua musim berturut-turut sejak kedatangan sang superstar Prancis tersebut.

Masalahnya bukan terletak pada Mbappe secara individu, melainkan cara Madrid membangun tim di sekelilingnya. Klub dinilai kehilangan keseimbangan yang sebelumnya membawa mereka mendominasi Eropa. Lini serang kini dipenuhi bintang-bintang besar namun minim koneksi, sementara posisi krusial lainnya justru luput dari peningkatan kualitas yang memadai.

Nasib Endrick menjadi contoh nyata dari ketidakefektifan ini. Talenta muda Brasil itu hampir tidak mendapatkan kesempatan pamer kemampuan sebelum akhirnya “dibuang” ke Lyon dengan status pinjaman. Investasi sebesar 60 juta euro untuk pemain berusia 19 tahun itu pun hingga kini belum memberikan nilai yang sepadan bagi klub.

Krisis Kepercayaan di Manajemen

Tekanan kini mulai mengarah tajam kepada Jose Angel Sanchez dan Juni Calafat, dua aktor utama di balik layar transfer Real Madrid. Mereka yang dulu dipuja karena kemampuan mengendus bakat-bakat terbaik, kini mulai menghadapi keraguan besar.

Tentu saja, Huijsen, Alvaro Carreras, maupun Mastantuono masih sangat muda dan memiliki waktu untuk membuktikan kualitas mereka. Namun, di level sepak bola setinggi Real Madrid, kesabaran adalah barang mewah yang jarang tersedia dalam waktu lama.Musim tanpa gelar selalu berujung pada evaluasi besar-besaran.

Kali ini, publik Santiago Bernabeu mulai mempertanyakan kebijakan transfer yang awalnya digadang-gadang akan membuka era baru bagi masa depan klub.

Scr/Mashable





Don't Miss