Piala Dunia 2026 memasuki fase yang lebih kejam, ketika 32 tim terbaik mulai menatap babak gugur dengan ambisi berbeda. Format besar turnamen kali ini membuat cerita semakin banyak, dari bintang mapan, tim unggulan, hingga negara kejutan yang mencuri perhatian.
Lionel Messi, Kylian Mbappe, Harry Kane, hingga Erling Haaland menjadi magnet utama karena performa mereka terus bersinar sejak fase grup. Namun, turnamen ini juga melahirkan cerita baru lewat penampilan Vozinha bersama Tanjung Verde dan Eloy Room bersama Curacao.
Babak 32 besar akan menjadi ujian sebenarnya karena setiap kesalahan bisa langsung berakhir dengan kepulangan. Berikut peta kekuatan setiap tim, alasan mereka bisa menjadi juara, dan faktor yang mungkin membuat langkah mereka terhenti.
Argentina: Formula Messi Masih Hidup
Argentina datang sebagai juara bertahan dengan status pemuncak Grup J setelah mencatat dua kemenangan. Menurut Opta, peluang juara Argentina berada di angka 15,9 persen, dengan proyeksi lawan Tanjung Verde pada 3 Juli.
Alasan Argentina bisa juara masih berpusat pada Lionel Messi yang justru semakin tajam di usia senja. Dalam sembilan pertandingan Piala Dunia terakhir setelah berusia 35 tahun, Messi mencetak 12 gol dan kembali menjadi pusat permainan.
Argentina juga belum kebobolan dan nyaris tidak memberi lawan peluang bersih bernilai tinggi. Enzo Fernandez, Lisandro Martinez, dan para pemain muda lain kembali bekerja keras agar Messi bisa fokus menentukan hasil pertandingan.
Masalahnya, Argentina masih terlihat pasif ketika bertahan dan bisa ditekan tim yang punya penguasaan bola kuat. Mereka juga lemah dalam duel udara, hanya menang sekitar 40 persen, sehingga berpotensi kesulitan menghadapi tim besar yang punya postur lebih kuat.
Australia: Bertahan Rapat, Menyerang Terbatas
Australia lolos sebagai runner-up Grup A dengan catatan satu menang, satu imbang, dan satu kalah. Peluang juara mereka hanya 0,3 persen, dengan proyeksi melawan Mesir pada 3 Juli.
Kekuatan terbesar Australia adalah organisasi pertahanan yang sangat disiplin. Dalam tiga laga grup, mereka hampir tidak memberi lawan tembakan bersih, sementara Alessandro Circati dan Harry Souttar tampil solid di lini belakang.
Kiper Patrick Beach juga mencatat persentase penyelamatan 91,7 persen dan membantu Australia mencatat dua clean sheet. Pola lima bek, blok rendah, dan serangan balik menjadi identitas utama Socceroos.
Namun, problem Australia juga sangat jelas: mereka sulit menciptakan peluang berkualitas. Mereka baru mencetak dua gol dalam tiga laga dan tidak punya permainan build-up yang cukup kuat untuk menekan lawan lebih dominan.
Belgia: Doku Jadi Pembeda, Generasi Tua Jadi Beban
Belgia finis sebagai juara Grup G dengan catatan satu menang dan dua imbang. Peluang juara mereka berada di angka 1,5 persen, dengan lawan babak 32 besar berasal dari peringkat ketiga Grup A, I, atau J.
Jérémy Doku menjadi alasan terbesar Belgia masih berbahaya. Meski baru memainkan 53 persen menit Belgia, ia memimpin tim dalam percobaan satu lawan satu dan pelanggaran yang dimenangkan di area serang.
Saat Doku bermain, Belgia terlihat jauh lebih hidup dan mencetak enam gol dalam dua laga. Ketika ia absen, Belgia kesulitan dan bermain imbang 0-0 melawan Iran.
Kekhawatirannya ada pada usia skuad. Thibaut Courtois, Kevin De Bruyne, Thomas Meunier, Romelu Lukaku, Brandon Mechele, dan Hans Vanaken sudah berusia 33 tahun ke atas, sehingga intensitas turnamen panjang bisa menjadi masalah.
Bosnia dan Herzegovina: Kekuatan Udara yang Menakutkan
Bosnia dan Herzegovina lolos sebagai peringkat ketiga Grup B dengan satu menang, satu imbang, dan satu kalah. Peluang juara mereka hanya 0,1 persen, dengan proyeksi menghadapi Amerika Serikat pada 1 Juli.
Bosnia punya keunggulan fisik yang tidak dimiliki banyak tim. Nikola Katic, Tarik Muharemovic, Edin Dzeko, Benjamin Tahirovic, hingga Ermedin Demirovic memberi mereka ancaman besar dalam duel udara dan bola mati.
Mereka rata-rata melakukan 33,3 duel udara per pertandingan dan memenangkan 65 persen di antaranya. Tiga dari lima gol Bosnia juga datang dari situasi bola mati, membuat mereka menjadi lawan yang tidak nyaman.
Namun, permainan di bawah bola menjadi persoalan. Bosnia tidak cukup cepat untuk serangan balik, tidak cukup rapi dalam penguasaan bola, dan baru mengalahkan Qatar selama fase grup.
Brasil: Kaya Penyerang, Tidak Seimbang
Brasil memuncaki Grup C dengan dua kemenangan dan satu hasil imbang. Peluang juara mereka berada di angka 7,1 persen, dengan proyeksi menghadapi Jepang pada 29 Juni.
Brasil masih memiliki talenta serang luar biasa meski Raphinha cedera hamstring. Vinicius Junior sudah mencetak empat gol dan satu assist, sementara Matheus Cunha, Igor Thiago, Gabriel Martinelli, Luiz Henrique, Rayan, Endrick, dan Neymar tetap menjadi opsi.
Carlo Ancelotti punya kemampuan besar membuka momen magis dari pemain bintang. Vinicius bahkan menjadi penyelamat dalam laga melawan Maroko dan tampil dominan saat menghadapi Skotlandia.
Tetapi Brasil tampak timpang. Pos bek sayap masih bergantung pada Danilo dan Douglas Santos, sementara Casemiro yang berusia 34 tahun tetap memikul beban besar di lini tengah karena pressing tim tidak maksimal.
Kanada: Identitas Kuat ala Jesse Marsch
Kanada lolos sebagai runner-up Grup B dengan satu menang, satu imbang, dan satu kalah. Peluang juara mereka 0,5 persen, dengan proyeksi menghadapi Afrika Selatan pada 28 Juni.
Di bawah Jesse Marsch, Kanada bermain cepat, agresif, dan menekan tinggi. Mereka termasuk tim dengan percobaan serangan balik terbanyak dan mencetak tiga gol dari high turnover.
Jonathan David dan Cyle Larin menjadi penyelesai utama, sementara intensitas kolektif membuat Kanada sulit diberi ruang. Lawan Afrika Selatan pada babak 32 besar juga relatif memberi peluang.
Masalahnya, gaya Red Bull yang sangat langsung mulai dianggap mudah dibaca pada level klub modern. Jika bertemu tim yang lebih terorganisasi seperti Maroko atau juara Grup F, Kanada bisa kesulitan mempertahankan pola tersebut.
Tanjung Verde: Pertahanan Berani, Serangan Minim
Tanjung Verde menjadi kejutan besar setelah finis runner-up Grup H dengan tiga hasil imbang. Peluang juara mereka hanya 0,04 persen, dengan proyeksi menghadapi Argentina pada 3 Juli.
Kekuatan Tanjung Verde adalah pertahanan total. Mereka hanya kebobolan dua gol di grup yang berisi Spanyol dan Uruguay, sementara kiper berusia 40 tahun, Vozinha, menjadi salah satu cerita terbaik turnamen.
Mereka sangat baik memenangkan bola kedua, menutup ruang tembak, dan membuat lawan frustrasi. Hasil imbang melawan Spanyol menjadi bukti bahwa mereka bisa meredam raksasa.
Kelemahannya ada di sepertiga akhir. Dua gol mereka datang dari tendangan bebas Kevin Pina dan serangan balik Hélio Varela, tetapi secara umum mereka hanya menciptakan sedikit peluang berkualitas.
Kolombia: Agresif dan Tidak Pernah Berhenti
Kolombia mencatat dua kemenangan dari dua laga awal dan terlihat sangat intens. Peluang juara mereka 2,6 persen, dengan proyeksi melawan Kroasia pada 3 Juli.
Luis Díaz, Jhon Arias, dan James Rodríguez menjadi motor permainan. Ketiganya menghasilkan kombinasi gol, assist, peluang, tembakan, umpan progresif, dan duel yang membuat Kolombia terus menekan lawan.
Kolombia rata-rata mencatat 17,5 tembakan per laga dan sering memaksa lawan melakukan pelanggaran. Mereka juga kuat dalam duel dan cukup efektif lewat umpan silang.
Namun, kualitas tembakan masih menjadi masalah. Mereka sering offside, rata-rata nilai xG per tembakan rendah, dan memberi lawan peluang yang lebih bersih dibanding peluang yang mereka ciptakan sendiri.
Ekuador: Bertahan Kuat, Menunggu Gol Datang
Ekuador lolos dari Grup E dengan dua menang dan satu imbang. Peluang juara mereka 0,7 persen, dengan proyeksi menghadapi Meksiko.
Ekuador sempat mengalami nasib buruk karena menciptakan banyak peluang tanpa gol. Setelah 39 tembakan dan 3,85 xG tanpa hasil melawan Pantai Gading dan Curacao, mereka akhirnya bangkit saat mengalahkan Jerman.
Moisés Caicedo, Piero Hincapié, Willian Pacho, dan Pervis Estupiñán membuat blok pertahanan Ekuador terlihat kuat. Mereka hanya kebobolan dua gol dari tembakan bernilai total 2,7 xG dalam tiga laga.
Tetapi lini depan masih terbatas. Enner Valencia yang berusia 36 tahun dan Gonzalo Plata tetap menjadi tumpuan, sehingga Ekuador bisa kesulitan ketika bertemu pertahanan elite.
Inggris: Skuad Mewah, Kreativitas Dipertanyakan
Inggris datang dengan peluang juara 8,7 persen dan proyeksi menghadapi peringkat ketiga Grup I, J, atau K pada 1 Juli. Thomas Tuchel membangun tim yang cepat, kuat, dan sangat terstruktur.
Inggris punya diferensial xG +3,7 dalam dua laga awal. Mereka kuat dalam tembakan dari dalam kotak, solid dalam bertahan, dan berbahaya lewat set piece.
Dengan materi pemain yang termasuk tiga terbaik di turnamen, Inggris punya modal besar untuk melaju jauh. Tuchel juga dikenal mampu menyusun detail taktik dalam pertandingan besar.
Namun, Inggris kekurangan kreativitas karena nama seperti Trent Alexander-Arnold, Cole Palmer, Phil Foden, dan Jarrod Bowen tidak dibawa. Cedera betis Declan Rice juga menjadi kekhawatiran karena ia penting untuk dominasi fisik tim.
Mesir: Mohamed Salah dan Momentum Baru
Mesir lolos tanpa kalah dari Grup G dengan satu menang dan dua imbang. Peluang juara mereka 0,5 persen, dengan proyeksi menghadapi Australia pada 3 Juli.
Bagi Mesir, ini momen bersejarah karena mereka akhirnya melaju ke fase gugur Piala Dunia. Mohamed Salah menjadi pembeda dengan satu gol dan dua assist.
Secara statistik, Mesir tampil cukup seimbang. Mereka sedikit lebih banyak menembak daripada lawan, kuat dalam duel, dan berbahaya dalam serangan langsung.
Namun, Mesir termasuk tim tua. Banyak menit bermain diisi pemain berusia 29 tahun ke atas, sementara mengandalkan sprint dan direct play sepanjang babak gugur bisa menjadi beban besar.
Prancis: Mbappe Membuat Segalanya Mungkin
Prancis sempurna dengan tiga kemenangan dan punya peluang juara 15,9 persen. Mereka diproyeksikan menghadapi Swedia pada 30 Juni.
Kylian Mbappe kembali menunjukkan bahwa Piala Dunia adalah panggung terbaiknya. Bersama Michael Olise dan Ousmane Dembélé, ia membuat serangan Prancis meledak dengan kombinasi gol dan assist yang sangat produktif.
Prancis nyaman membiarkan lawan menguasai bola sebelum menghukum lewat transisi cepat. Dengan kedalaman talenta terbaik di turnamen, formula ini tetap sangat berbahaya.
Tetapi pertahanan Prancis terlihat pasif. Mereka tidak menekan seagresif edisi 2018 atau 2022, sehingga Dayot Upamecano harus melakukan banyak intervensi penting.
Jerman: Banyak Senjata, Kontrol Belum Stabil
Jerman memuncaki Grup D dengan dua menang dan satu kalah. Peluang juara mereka 4,3 persen, dengan proyeksi melawan Paraguay pada 29 Juni.
Kai Havertz, Joshua Kimmich, Florian Wirtz, Jamal Musiala, dan Deniz Undav memberi Jerman banyak opsi. Undav bahkan menjadi supersub tajam dengan tiga gol dan dua assist hanya dalam 86 menit.
Felix Nmecha, Aleksandar Pavlovic, dan Nathaniel Brown juga memperkaya dinamika tim. Jerman punya kualitas untuk menyakiti lawan dari permainan terbuka maupun bola mati.
Namun, Jerman mengalami beberapa periode kehilangan kontrol dalam laga melawan Amerika Serikat, Pantai Gading, dan Ekuador. Cedera Nico Schlotterbeck juga bisa memperbesar kerentanan di lini belakang.
Ghana: Nol Kebobolan, Minim Tembakan
Ghana punya peluang juara 0,3 persen dan diproyeksikan menghadapi juara Grup K pada 3 Juli. Mereka belum kebobolan dalam 180 menit awal, termasuk saat menahan Inggris.
Di bawah Carlos Queiroz, Ghana membangun identitas fisik dan defensif. Lawrence Ati Zigi sempat cedera, tetapi Benjamin Asare tampil bagus saat menggantikannya.
Ghana juga punya Antoine Semenyo yang belum benar-benar panas. Jika ia mulai menemukan ritme, Ghana bisa menjadi lawan yang lebih berbahaya.
Namun, persoalan besarnya adalah produksi serangan. Mereka hanya membuat sembilan tembakan dalam dua laga, sehingga sulit membayangkan mereka menang lima laga gugur hanya lewat adu penalti atau skor tipis.
Pantai Gading: Adaptif, tetapi Kurang Tembakan
Pantai Gading lolos sebagai runner-up Grup E dengan dua menang dan satu imbang. Peluang juara mereka 0,3 persen, dengan proyeksi menghadapi Norwegia pada 30 Juni.
Kekuatan Pantai Gading terletak pada fleksibilitas. Mereka bisa bermain dengan penguasaan bola tinggi, bertahan rendah, pragmatis, maupun sangat langsung sesuai lawan.
Mereka juga punya banyak pemain dari lima liga top Eropa dan tampil cukup matang secara taktik. Yan Diomande menjadi bintang baru setelah menciptakan banyak peluang.
Namun, Pantai Gading jarang menembak. Volume tembakan mereka rendah, dan belum ada pemain yang benar-benar menjadi sumber gol konsisten di laga besar.
Jepang: Rapi, Terukur, tetapi Kehilangan Banyak Bintang
Jepang lolos sebagai runner-up Grup F dengan satu menang dan dua imbang. Peluang juara mereka 1,1 persen, dengan proyeksi menghadapi Brasil pada 29 Juni.
Jepang sangat baik dalam mengontrol permainan. Mereka jarang kehilangan bola di area berbahaya, memiliki ritme penguasaan stabil, dan hampir tidak memberi lawan peluang transisi berkualitas.
Ayase Ueda mencetak dua gol dan satu assist, sementara Daichi Kamada menyumbang tiga gol. Basis permainan Jepang terlihat kuat meski skuad tidak lengkap.
Kendala utamanya adalah absennya Kaoru Mitoma, Takumi Minamino, dan Wataru Endo. Tanpa tiga pemain level tinggi itu, kualitas serangan Jepang bisa menurun ketika level lawan meningkat.
Meksiko: Keajaiban Azteca Jadi Modal
Meksiko memuncaki Grup A dengan tiga kemenangan. Peluang juara mereka 2,0 persen, dengan proyeksi melawan peringkat ketiga Grup C atau E pada 30 Juni.
Keuntungan terbesar Meksiko adalah faktor kandang. Dua laga gugur pertama mereka berpotensi dimainkan di Estadio Azteca, yang menjadi senjata emosional sekaligus atmosfer menekan bagi lawan.
Meksiko belum kebobolan dan hanya membiarkan lawan menciptakan total 1,5 xG dalam tiga laga. Start sempurna memberi mereka ruang untuk berkembang.
Namun, serangan Meksiko belum meyakinkan. Mereka hanya menciptakan sedikit peluang bernilai tinggi, termasuk ketika melawan Afrika Selatan yang bermain dengan sembilan pemain.
Maroko: Lebih Matang dari 2022
Maroko lolos sebagai runner-up Grup C dengan dua menang dan satu imbang. Peluang juara mereka 1,9 persen, dengan proyeksi menghadapi Belanda pada 29 Juni.
Maroko bukan hanya tim bertahan dan serangan balik seperti 2022. Mereka kini lebih nyaman menguasai bola, bahkan mencatat 49 persen penguasaan melawan Brasil dan lebih dominan saat menghadapi Skotlandia serta Haiti.
Kedewasaan taktik ini membuat Maroko punya lebih banyak cara menang. Mereka tetap berbahaya dalam transisi, tetapi kini juga bisa membangun serangan lebih sabar.
Kekhawatirannya ada pada kedalaman skuad. Dalam 30 menit akhir, Maroko beberapa kali kehilangan kontrol setelah pergantian pemain, sehingga bangku cadangan bisa menjadi titik lemah di fase gugur.
Belanda: Lengkap, tetapi Koeman Jadi Pertanyaan
Belanda memuncaki Grup F dengan dua menang dan satu imbang. Peluang juara mereka 5,5 persen, dengan proyeksi menghadapi Maroko pada 29 Juni.
Kemenangan 5-1 atas Swedia menjadi pernyataan besar. Cody Gakpo dan Brian Brobbey tampil tajam, sementara Virgil van Dijk memimpin lini belakang yang meredam Alexander Isak dan Viktor Gyökeres.
Belanda bisa bermain penguasaan bola maupun serangan balik. Mereka memiliki kualitas klub besar di setiap lini dan tradisi sulit dikalahkan di Piala Dunia.
Namun, kepercayaan kepada Ronald Koeman masih menjadi tanda tanya. Keputusan terlalu defensif saat melawan Jepang membuat Belanda kehilangan kontrol dan kebobolan gol penyama.
Norwegia: Haaland Bisa Membawa Mereka Jauh
Norwegia punya peluang juara 4,5 persen dan diproyeksikan menghadapi Pantai Gading pada 30 Juni. Erling Haaland menjadi pusat segalanya.
Haaland tampil seperti striker paling berbahaya di turnamen, mencetak gol dengan rasio hampir satu gol per babak. Bersama Martin Odegaard, Julian Ryerson, Kristoffer Ajer, Torbjorn Heggem, dan Sander Berge, Norwegia punya generasi emas.
Kualitas Haaland membuat Norwegia selalu punya peluang meski tidak dominan. Ia bisa menciptakan gol dari situasi minim ruang.
Namun, pertahanan Norwegia rapuh. Mereka sempat memberi banyak peluang berkualitas kepada Senegal dan secara statistik membiarkan lawan menembak lebih banyak daripada mereka sendiri.
Paraguay: Duel, Kecepatan, dan Identitas Keras
Paraguay lolos sebagai peringkat ketiga Grup D dengan satu menang dan dua imbang. Peluang juara mereka 0,2 persen, dengan proyeksi menghadapi Jerman pada 29 Juni.
Paraguay tahu persis identitas mereka: bermain cepat dan memenangkan duel. Mereka mencatat rata-rata 121 duel per laga, tertinggi di turnamen, serta 95 penguasaan bola per pertandingan.
Gaya itu membuat lawan dipaksa masuk ke ritme Paraguay. Mereka tidak selalu menang duel dalam persentase tinggi, tetapi volume ekstrem membuat tekanan terus terjadi.
Masalahnya, ancaman gol mereka sangat kecil. Paraguay hanya mencetak dua gol dan total xG mereka dalam tiga laga cuma 1,11, terendah di antara banyak tim fase gugur.
Portugal: Elegan, tetapi Kurang Otot
Portugal punya peluang juara 6,2 persen dan diproyeksikan menghadapi Ghana pada 2 Juli. Kekuatan utama mereka adalah lini tengah penuh teknik.
Vitinha, Bruno Fernandes, Bernardo Silva, Nuno Mendes, Pedro Neto, dan João Neves membuat Portugal sangat dominan dalam umpan. Mereka memimpin dalam passes per possession dan punya akurasi umpan 91,3 persen.
Gelar Nations League terbaru menjadi bukti bahwa Portugal bisa mengalahkan tim besar seperti Spanyol dan Jerman. Jika ritme umpan berjalan, mereka bisa membuat lawan kelelahan.
Namun, Portugal kurang kuat secara fisik. Roberto Martinez juga masih sangat bergantung pada Cristiano Ronaldo yang berusia 41 tahun, dan itu bisa menjadi dilema taktik dalam laga ketat.
Afrika Selatan: Bangkit Setelah Start Buruk
Afrika Selatan lolos sebagai runner-up Grup A dengan dua menang dan satu imbang. Peluang juara mereka 0,1 persen, dengan proyeksi menghadapi Kanada.
Bafana Bafana sempat tampak gugup saat kalah dari Meksiko di Azteca. Namun, setelah kebobolan cepat dari Ceko, mereka bangkit dan tidak kebobolan lagi dalam 173 menit berikutnya.
Duet bek Mbekezeli Mbokazi dan Ime Okon menjadi fondasi penting. Afrika Selatan menemukan ketenangan dan kualitas pada momen yang tepat.
Tetapi gol tetap menjadi persoalan. Mereka hanya menghasilkan sekitar 0,9 xG per pertandingan, sehingga ketajaman serangan kemungkinan menjadi batas perjalanan mereka.
Spanyol: Tetap Spanyol, Tetap Berbahaya
Spanyol memuncaki Grup H dengan dua menang dan satu imbang. Peluang juara mereka 12,8 persen, dengan proyeksi menghadapi runner-up Grup J pada 2 Juli.
Spanyol punya Lamine Yamal, Pedri, Nico Williams, dan rangka veteran yang membuat mereka tetap menjadi favorit. Setelah ditahan Tanjung Verde 0-0, mereka menjawab dengan kemenangan agregat 5-0 dalam dua laga berikutnya.
Mereka bisa mendominasi bola dan tetap menyakiti lawan lewat kecepatan sayap. Secara struktur, tidak ada kelemahan besar yang terlihat.
Namun, formula juara Euro 2024 belum sepenuhnya kembali. Nico Williams belum berada di bentuk terbaik, sementara Rodri belum sama sejak cedera ACL pada September 2024.
Swedia: Tajam Saat Transisi, Rapuh Saat Bertahan
Swedia lolos sebagai peringkat ketiga Grup F dengan satu menang, satu imbang, dan satu kalah. Peluang juara mereka 0,4 persen, dengan proyeksi menghadapi Prancis pada 30 Juni.
Swedia sangat berbahaya dalam serangan langsung. Alexander Isak dan Viktor Gyökeres adalah dua penyerang yang hanya membutuhkan sedikit ruang untuk menghukum lawan.
Anthony Elanga juga memberi kecepatan tambahan. Mereka sudah mencetak gol dari high turnover dan menciptakan banyak direct attack.
Namun, pertahanan Swedia terlalu murah hati. Lawan mereka rata-rata menciptakan tembakan dengan nilai xG tinggi, sehingga sulit bertahan di lima laga gugur jika peluang bersih terus diberikan.
Swiss: Statistik Bagus, Mental Jadi Ujian
Swiss memuncaki Grup B dengan dua menang dan satu imbang. Peluang juara mereka 2,2 persen, dengan proyeksi menghadapi peringkat ketiga Grup G atau J pada 2 Juli.
Secara angka, Swiss sangat menjanjikan. Mereka menjadi salah satu tim dengan diferensial xG terbaik, menciptakan banyak peluang, dan membatasi lawan dalam tiga laga awal.
Granit Xhaka memimpin campuran pemain senior dan muda seperti Johan Manzambi. Swiss punya kualitas dari belakang hingga depan.
Tetapi drama internal dan bahasa tubuh menjadi kekhawatiran. Ketika gagal menambah gol melawan Qatar, mereka terlihat gugup dan akhirnya kebobolan penyama.
Amerika Serikat: Jalur Mulus, Risiko Bertahan
Amerika Serikat memuncaki Grup D dengan dua kemenangan awal. Peluang juara mereka 3,9 persen, dengan proyeksi menghadapi Bosnia dan Herzegovina pada 1 Juli.
Di bawah Mauricio Pochettino, banyak hal berjalan sesuai harapan. Pemain kunci relatif sehat, Folarin Balogun tajam, Alex Freeman berkembang pesat, dan rotasi melawan Turki membantu menjaga tenaga.
AS juga mendapat jalur potensial yang relatif ramah menuju perempat final. Mereka mengalahkan dua lawan kuat dengan agregat 6-1 dan nyaris menahan Turki memakai mayoritas pemain cadangan.
Namun, celah pertahanan masih jelas. Dalam rangkaian melawan Belgia, Portugal, Senegal, dan Jerman, mereka kebobolan 11 gol, lalu masih menunjukkan kelengahan melawan Paraguay dan Turki.
Scr/Mashable















