Suhu politik di luar lapangan hijau memanas tepat satu hari menjelang kick-off Piala Dunia 2026. Pemerintah Amerika Serikat akhirnya buka suara terkait gelombang penolakan masuk terhadap sejumlah elemen penting turnamen, termasuk keputusan kontroversial memulangkan wasit elite asal Somalia, Omar Artan.
Dalam pernyataan resminya, Gedung Putih menegaskan bahwa otoritas keamanan dalam negeri tidak akan melonggarkan proses penyaringan (vetting) demi alasan turnamen olahraga semata.
Kebijakan ketat ini langsung memicu ketegangan diplomatik di belakang layar antara negara tuan rumah dan FIFA sebagai badan tertinggi sepak bola dunia.
Omar Artan, yang sejatinya masuk dalam daftar resmi 52 pengadil lapangan bentukan FIFA untuk Piala Dunia edisi ke-23 ini, terpaksa menelan pil pahit saat mendarat di Bandara Internasional Miami. Alih-alih menuju hotel delegasi, ia justru ditahan di area imigrasi sebelum akhirnya dideportasi kembali ke Istanbul, Turki.
Menanggapi polemik yang menggelinding cepat, pihak Gedung Putih merilis dokumen resmi yang menjelaskan landasan hukum penolakan sang wasit terbaik Afrika (CAF) 2025 tersebut.
“Berdasarkan pemeriksaan lanjutan oleh Bea Cukai dan Perlindungan Perbatasan (CBP), ditemukan informasi negatif (derogatory information), termasuk adanya indikasi asosiasi dengan terduga anggota organisasi teror.
Hal ini membuat pelancong tersebut tidak memenuhi syarat untuk masuk ke Amerika Serikat di bawah Undang-Undang Imigrasi dan Kewarganegaraan,” tulis pernyataan resmi Gedung Putih kepada The Athletic, Kamis (11/06/2026).
Berbicara kepada awak media di tengah persiapan upacara pembukaan, Donald Trump menegaskan bahwa pemerintahannya bersikap sangat selektif demi menjaga keamanan nasional selama turnamen 39 hari ini berlangsung.
“Kami bekerja sangat erat untuk memastikan bahwa hanya orang-orang yang tepat (the right people) yang diizinkan masuk ke negara kita,” ujar Trump lugas pada Rabu (10/6/2026) waktu setempat.
Nyatanya, intervensi ketat imigrasi AS tidak hanya memakan korban seorang Omar Artan. Tembok birokrasi ini juga mengguncang jurnalis internasional dan anggota tim nasional negara peserta.
Salah satunya dari Asosiasi Pers Olahraga Internasional (AIPS) yang resmi melayangkan protes dan mendesak FIFA untuk melakukan intervensi setelah sejumlah jurnalis terakreditasi dari kawasan Afrika dan Iran menghadapi pembatalan sepihak serta penolakan visa.
Striker Timnas Irak Aymen Hussein juga sempat ditahan dan diinterogasi selama berjam-jam di Bandara O’Hare Chicago minggu lalu. Ponsel pribadinya digeledah secara digital sebelum akhirnya diizinkan masuk.
Tidak seberuntung Hussein, fotografer resmi skuad Irak langsung malah ditolak masuk di pintu kedatangan dan dipulangkan hari itu juga.
Rentetan insiden ini kontras dengan janji manis Presiden FIFA, Gianni Infantino, setahun lalu yang menjamin bahwa “semua orang akan disambut dengan tangan terbuka di Kanada, Meksiko, dan Amerika Serikat.”
Kini, menghadapi kenyataan pahit kedaulatan hukum sebuah negara, FIFA terpaksa melunak dan mengakui keterbatasan kuasa mereka.
“FIFA tidak terlibat dalam proses imigrasi negara tuan rumah, termasuk ajudikasi visa. Kami telah diberi tahu oleh otoritas setempat bahwa status Tuan Artan tidak akan diubah saat ini,” bunyi rilis resmi juru bicara FIFA.
“Sama seperti turnamen terdahulu, pemerintah tuan rumah memegang kendali mutlak atas siapa yang berhak menerima visa dan masuk ke wilayah mereka.”
Dalam konferensi pers terpisah di Mexico City jelang laga pembuka antara Meksiko vs Afrika Selatan di Estadio Azteca, Gianni Infantino memberikan pembelaan yang cukup realistis mengenai keterbatasan lembaganya.
“Sangat disayangkan apa yang terjadi pada wasit dari Somalia. Namun, kami bukanlah raja dunia yang dapat memerintah pemerintahan dan kepolisian. Kami adalah sebuah organisasi olahraga,” ujar pria berdarah Swiss-Italia tersebut.
Meski didera badai kritik keimigrasian, Infantino menolak narasi bahwa FIFA menyesal menunjuk Amerika Serikat sebagai salah satu poros utama penyelenggaraan bersama Kanada dan Meksiko.
Ia mencontohkan keberhasilan diplomasi sepak bola yang tetap mampu menerbangkan Timnas Iran ke benua Amerika Utara sebagai bukti kekuatan olahraga.
“Orang-orang sebelumnya mengatakan Iran tidak mungkin bisa datang ke Piala Dunia. Saya berjanji kepada mereka bahwa mereka akan datang, dan mereka sekarang ada di sini. Saat Iran bermain, stadion akan penuh dan sepak bola akan menyatukan dunia,” cetus Infantino optimis.
Selain masalah dokumen perjalanan, Infantino juga meluruskan gelombang protes fans terkait mahalnya harga tiket pertandingan di Amerika Serikat.
“Harga tiket masuk awal sebesar 60 dolar AS (sekitar Rp1 juta) adalah harga masuk terendah dari seluruh kompetisi olahraga di Amerika untuk fase playoff,” terangnya.
Menurutnya, jika FIFA mematok harga di bawah standar tersebut, calo akan menguasai pasar sekunder dengan harga berkali-kali lipat. “Melalui harga resmi ini, setiap dolar yang masuk akan dikembalikan sepenuhnya untuk pengembangan infrastruktur sepak bola global,” tegasnya.
Scr/Mashable















