Goncalo Ramos dan Kutukan Nomor 9 AC Milan, Akankah Bernasib Beda?

03.07.2026
Goncalo Ramos dan Kutukan Nomor 9 AC Milan, Akankah Bernasib Beda?
Goncalo Ramos (nomor 9) ketika membela Portugal di Piala Dunia 2026 vs Kroasia.

Kedatangan Gonçalo Ramos ke AC Milan langsung memicu antusiasme besar di kalangan tifosi Rossoneri.

Bukan hanya karena nilai transfernya yang fantastis 74 juta euro plus bonus dari Paris Saint-Germain tetapi juga karena satu fakta yang membuat banyak orang merinding, striker asal Portugal itu resmi menjadi pemilik nomor punggung 9 baru AC Milan.

Di atas kertas, transfer ini tampak seperti langkah besar bagi AC Milan. Ramos datang dengan reputasi mentereng, pengalaman bermain di level elite Eropa, dan mental juara setelah meraih berbagai trofi bersama PSG.

Namun di balik semua itu, ada satu pertanyaan besar yang kini menjadi sorotan: mampukah Goncalo Ramos memikul beban nomor 9 di AC Milan?

Pertanyaan ini bukan sekadar soal nomor punggung. Di San Siro, nomor 9 memiliki sejarah panjang dan sayangnya, dalam lebih dari satu dekade terakhir, sejarah itu lebih sering terasa seperti kutukan daripada simbol kejayaan.

Nomor 9 di AC Milan pernah identik dengan striker legendaris seperti Filippo Inzaghi, sosok predator kotak penalti yang menjadi mimpi buruk para bek lawan. Namun setelah Inzaghi pensiun, nomor tersebut justru seperti membawa nasib buruk.

Goncalo Ramos (nomor 9) ketika membela Portugal di Piala Dunia 2026 vs Kroasia.

Satu per satu penyerang datang dengan ekspektasi besar, tetapi gagal memenuhi harapan. Alexandre Pato, yang sempat digadang-gadang sebagai calon superstar dunia, justru dihantam badai cedera setelah mewarisi nomor 9.

Alessandro Matri gagal total saat pulang ke klub masa kecilnya. Fernando Torres, sang El Niño, juga tak mampu menghidupkan kembali magisnya di Milan.

Daftarnya terus berlanjut: Mattia Destro, Luiz Adriano, Gianluca Lapadula, André Silva, Krzysztof Piątek, Gonzalo Higuaín, hingga Mario Mandžukić yang semuanya gagal bersinar ketika mengenakan nomor sakral itu.

Bahkan Olivier Giroud, yang akhirnya mampu mematahkan sebagian narasi kutukan dengan kontribusi penting untuk Scudetto Milan, tetap sempat dibayangi tekanan besar saat mengenakan nomor tersebut.

Kini, beban itu berpindah ke Goncalo Ramos.

Namun jika dilihat lebih dalam, Ramos mungkin adalah sosok yang berbeda dari pendahulu-pendahulunya.

Di usia 25 tahun, ia berada pada fase ideal dalam karier seorang striker, cukup muda untuk berkembang, tetapi juga cukup matang untuk menghadapi tekanan tinggi.

Ramos bukan tipikal penyerang yang hanya hidup dari servis rekan setim. Ia dikenal punya pergerakan cerdas, pressing agresif, duel udara kuat, dan finishing yang klinis.

Saat membela Benfica, Ramos menunjukkan insting predator yang luar biasa dengan mencetak 41 gol dalam lebih dari 100 pertandingan. Performanya di Piala Dunia bersama Portugal juga sempat mencuri perhatian ketika ia tampil eksplosif menggantikan Cristiano Ronaldo. Momen itu membuktikan bahwa Ramos tidak gentar berada di bawah sorotan besar.

Pengalamannya di PSG juga menjadi modal penting. Meski tak selalu menjadi starter utama, Ramos belajar bagaimana bertahan di ruang ganti yang dipenuhi bintang dunia. Ia merasakan tekanan di level tertinggi, mulai dari Ligue 1 hingga Liga Champions. Mental semacam ini yang dibutuhkan untuk bertahan di klub sebesar AC Milan.

Meski begitu, tantangan Ramos di Serie A jelas tidak mudah. Liga Italia terkenal dengan pertahanan rapat dan taktik disiplin. Banyak striker hebat datang dengan reputasi besar tetapi kesulitan beradaptasi dengan kerasnya sepak bola Italia.

Selain itu, tifosi AC Milan bukan sekadar menunggu gol. Mereka ingin melihat striker nomor 9 yang bisa menjadi simbol era baru klub. Setelah investasi besar yang dikeluarkan manajemen, ekspektasi terhadap Goncalo Ramos akan sangat tinggi sejak pertandingan pertamanya.

Kunci keberhasilan Ramos di AC Milan kemungkinan ada pada tiga hal: adaptasi cepat terhadap tempo Serie A, chemistry dengan lini tengah Rossoneri, dan kemampuan menjaga konsistensi. Jika ketiga aspek ini berjalan baik, Ramos punya peluang besar untuk sukses.

Pada akhirnya, pertanyaan tentang apakah Goncalo Ramos mampu memikul beban nomor 9 di AC Milan mungkin tidak akan terjawab dalam semalam.

Sepak bola Italia selalu memberi ujian berat bagi para striker. Namun satu hal pasti, Ramos datang bukan sekadar untuk mengisi posisi kosong.

Ia datang untuk menantang sejarah.

Apakah ia akan menjadi korban terbaru kutukan nomor 9 AC Milan? Atau justru menjadi striker yang akhirnya mengakhiri mitos buruk tersebut?

San Siro menunggu jawabannya.

Sumber foto: Instagram @milanista.indonesia

Scr/Mashable





Don't Miss