Tiga tim Italia kebobolan 10 gol di leg pertama babak play-off Liga Champions 2025/2026, angka yang menimbulkan pertanyaan serius tentang posisi Serie A di Eropa.
Tak perlu kata-kata berbunga-bunga. Tak perlu alasan. 3-10 adalah skor agregat setelah leg pertama babak play-off Liga Champions untuk Inter, Juventus, dan Atalanta. Tiga tim, tiga kekalahan, satu perasaan yang sama: Serie A tertinggal saat melangkah ke panggung besar.
Inter kalah 1-3 dari Bodø/Glimt. Juventus menderita kekalahan memalukan 2-5 melawan Galatasaray. Atalanta kalah 0-2 dari Borussia Dortmund. Yang patut diperhatikan bukanlah hanya hasilnya, tetapi cara mereka kalah. Ketika lawan mereka meningkatkan tempo permainan, tim-tim Italia menunjukkan kelambatan dan kurangnya agresivitas.
Mantan pelatih terkenal Fabio Capello tidak bertele-tele membahas masalah ini. Ia menunjuk tiga masalah: kebugaran, kecepatan penguasaan bola, dan konsistensi. Ketiga elemen ini terdengar sederhana, tetapi merupakan fondasi sepak bola modern. Ketika tempo permainan meningkat, tim-tim Italia tidak dapat mempertahankan intensitas tersebut. Mereka lebih mudah kehilangan penguasaan bola. Mereka mundur lebih lambat. Dan pertahanan mereka tidak lagi cukup solid untuk mengimbanginya.
Inter Milan adalah contoh yang paling jelas. Di lapangan Bodø, mereka hampir tidak mampu memainkan gaya sepak bola yang biasa mereka mainkan. Transisi sayap dan upaya untuk membongkar pertahanan lawan tidak terlihat.
Federico Dimarco duduk di bangku cadangan sepanjang pertandingan, yang membuat Capello mempertanyakannya. Mungkin itu keputusan taktis. Mungkin itu prioritas untuk Serie A. Tetapi ketika Anda memasuki Liga Champions, Anda tidak boleh berpuas diri. Bodø tidak hanya berlari lebih banyak; mereka lebih terorganisir dan lebih klinis dalam penyelesaian akhir.
Juventus menghadapi masalah serupa. Dengan Bremer yang sudah tidak berada di lapangan, pertahanan kehilangan kekokohannya. Galatasaray memanfaatkan ruang kosong dengan kecepatan dan permainan langsung. Juve kekurangan bek tengah dengan kaliber yang cukup untuk mempertahankan struktur yang stabil.
Capello yakin Juventus masih memiliki sekitar 40% peluang di leg kedua. Namun untuk mencapai itu, klub Turin tersebut harus mengubah pendekatan mereka, terutama di lini pertahanan.
Atalanta kalah dari Dortmund dalam pertandingan di mana mereka lebih lemah secara fisik dan kualitas lini tengah. Dortmund mendikte tempo dan memaksa Atalanta untuk bermain sesuai dengan itu. Ketika lawan lebih kuat, Anda harus menyesuaikan diri. Tetapi menurut Capello, Atalanta tidak melakukan cukup banyak. Mempertahankan filosofi yang sama ketika kalah dalam permainan terlalu berisiko di kompetisi ini.
Masalahnya bukan hanya pada pertandingan individu. Capello menyatakan secara jujur: Para bek Italia saat ini dituntut untuk memulai serangan, tetapi kurang solid dalam bertahan. Mereka tahu cara mengoper bola, tetapi tidak lagi sebaik generasi sebelumnya dalam melakukan tekel. Saat menghadapi pemain yang cepat dan terampil, celah langsung terlihat.
Perbedaan lainnya terletak pada intensitas permainan. Di Serie A, bahkan benturan kecil pun dapat mengganggu pertandingan. Di Liga Champions, semuanya terjadi dengan cepat dan terus menerus. Jika Anda sedikit lambat, lawan Anda sudah berada di belakang Anda. Perbedaan kebiasaan ini menyulitkan tim-tim Italia ketika mereka berkompetisi di Eropa.
Capello juga menyebut Premier League sebagai tolok ukur baru. Di sana, kecepatan dan kekuatan adalah hal yang wajib. Pemain-pemain bagus berbondong-bondong ke Inggris karena lingkungan yang sangat kompetitif. Ketika talenta menjanjikan muncul di Serie A, mereka dengan mudah tersingkir. Hal ini secara langsung memengaruhi kualitas dan daya saing liga.
Skor 3-10 (3 gol dicetak, 10 gol kebobolan) bukanlah akhir dari segalanya. Inter masih memiliki leg kedua di San Siro. Juventus dan Atalanta juga masih memiliki peluang. Tetapi apa pun hasil akhirnya, tanda bahaya telah berbunyi. Serie A tidak bisa hanya mengandalkan kenangan masa keemasannya. Mereka perlu mengubah metode pelatihan, organisasi, dan bahkan pendekatan mereka terhadap tempo permainan.
Dulu, Italia adalah tujuan para juara. Kini, mereka harus mengejar ketertinggalan dari tim-tim lain. 3-10 adalah angka yang dingin. Namun justru kedinginan inilah yang memaksa sepak bola Italia untuk menghadapi kenyataan.
Jika keadaan tidak berubah, kesenjangan hanya akan semakin melebar.
Scr/Mashable















