Lionel Messi Pensiun, Argentina Justru Hadapi Ujian Terbesar setelah Era Keemasan

01.09.2026
Argentina vs Mesir Berujung Ricuh, Kerusuhan Suporter Argentina Pecah Usai Lolos ke Perempat Final Piala Dunia 2026
Argentina vs Mesir Berujung Ricuh, Kerusuhan Suporter Argentina Pecah Usai Lolos ke Perempat Final Piala Dunia 2026

Lionel Messi pensiun dari Timnas Argentina pada usia 39 tahun, menutup perjalanan internasional yang dimulai sejak 2005 dan berakhir setelah final Piala Dunia 2026. Keputusan itu bukan sekadar perpisahan seorang kapten, melainkan titik balik terbesar Albiceleste dalam dua dekade terakhir.

Reuters melaporkan Lionel Messi pensiun setelah mencatat 207 penampilan dan 125 gol, dua angka yang menempatkannya sebagai pemegang rekor Argentina. Ia pergi dengan Copa America 2021 dan 2024, Finalissima 2022, Piala Dunia 2022, serta status finalis Piala Dunia 2026.

Surat perpisahan Messi yang dipublikasikan AFA memperlihatkan keputusan itu telah dipikirkan sejak 21 Juli, dua hari setelah final melawan Spanyol. Dalam catatan tambahan, Messi mengatakan peristiwa terkait ayahnya membuat keyakinannya untuk berhenti semakin kuat.

Karena itu, Lionel Messi pensiun bukan dalam keadaan Argentina runtuh atau kehilangan daya saing, tetapi ketika tim masih berada di puncak sepak bola dunia. Justru kondisi tersebut membuat fase transisi sekarang menjadi lebih menarik sekaligus berbahaya bagi Lionel Scaloni dan para pemainnya.

Argentina sebenarnya telah hidup bersama ancaman perpisahan Messi selama bertahun-tahun, tetapi ancaman itu selalu terasa abstrak selama sang kapten masih tersedia. Kini Lionel Messi pensiun, dan seluruh pertanyaan mengenai kreativitas, kepemimpinan, identitas, serta keberanian dalam pertandingan besar menjadi benar-benar nyata.

Lionel Messi Pensiun, Argentina Harus Berubah

Piala Dunia 2026 memperlihatkan paradoks yang sulit diabaikan karena Messi memang menua, tetapi pengaruhnya tidak pernah benar-benar mengecil. Ia tetap menghasilkan delapan gol dan empat assist, sementara Argentina terus mencarinya ketika ruang menyempit dan pertandingan memasuki fase menentukan.

FIFA mencatat Messi menutup turnamen dengan memperpanjang rekor penampilan Piala Dunia menjadi 34 pertandingan, sebuah ukuran tentang panjangnya pengaruh tersebut. Final melawan Spanyol juga menjadikannya pemain nonkiper tertua yang pernah tampil dalam pertandingan puncak Piala Dunia.

Kekalahan 0-1 dari Spanyol melalui gol Ferran Torres pada menit ke-106 menggagalkan akhir sempurna sekaligus membuka masalah Argentina. Reuters mencatat Albiceleste bahkan gagal melepaskan satu tembakan pada waktu normal ketika ruang Messi berhasil dipersempit lawan.

Inilah sebabnya Lionel Messi pensiun menghadirkan persoalan yang lebih besar daripada sekadar mengganti pencetak 125 gol internasional. Argentina harus mencari cara baru untuk menciptakan peluang, mengontrol tekanan, memecah blok rendah, dan menyelesaikan pertandingan tanpa bergantung pada satu pemain istimewa.

Tidak Akan Ada Messi Baru untuk Argentina

Godaan terbesar setelah Lionel Messi pensiun adalah mencari sosok muda, memberi nomor 10, lalu menobatkannya sebagai penerus sang legenda. Pendekatan seperti itu berisiko merusak proses regenerasi karena tidak ada pemain yang seharusnya dibebani kewajiban meniru karier dua dekade Messi.

Forbes menyoroti Nico Paz sebagai salah satu nama penting dalam transisi Argentina, terutama setelah kontribusinya bersama Como sepanjang musim 2025-2026. Pemain 21 tahun itu mencatat 12 gol dan enam assist di Serie A serta menunjukkan kemampuan menerima bola di antara lini.

Namun, nilai Nico Paz justru terletak pada kemungkinan menjadi bagian dari sistem baru, bukan menjadi salinan Messi. Ia dapat membawa kreativitas dari antarlini, sementara Franco Mastantuono tetap relevan untuk regenerasi jangka panjang meski tidak masuk skuad Piala Dunia 2026.

Lionel Messi pensiun seharusnya mendorong Argentina membagi pekerjaan yang sebelumnya terkonsentrasi pada satu pemain kepada beberapa figur sekaligus. Nico Paz dapat mengatur kreativitas, Julian Alvarez memberi agresivitas vertikal, Lautaro Martinez menyediakan penyelesaian, sedangkan Enzo Fernandez dan Alexis Mac Allister menjaga sirkulasi.

Dengan pola seperti itu, kehilangan Messi tidak harus dijawab dengan pencarian seorang superstar baru, melainkan pembentukan ekosistem serangan yang lebih beragam. Argentina dapat menjadi lebih sulit dibaca karena lawan tidak lagi cukup mematikan satu pusat kreativitas untuk mengurangi ancaman Albiceleste.

Julian Alvarez Bisa Menjadi Wajah Baru

Jika Argentina membutuhkan figur depan setelah Lionel Messi pensiun, Julian Alvarez memiliki kombinasi pengalaman, usia, fleksibilitas, dan mentalitas paling masuk akal. Ia telah bermain di pertandingan besar, memahami tuntutan Scaloni, serta mampu menjadi penyerang tengah maupun bergerak di ruang yang lebih luas.

Akan tetapi, Alvarez tidak perlu dipaksa menjadi playmaker seperti Messi karena kekuatannya justru muncul dari mobilitas, pressing, penetrasi, dan serangan langsung. Argentina akan lebih efektif bila membangun struktur yang membuat Alvarez menerima pelayanan berkualitas, bukan menjadikannya sumber seluruh kreativitas.

Lautaro Martinez juga tetap penting karena menawarkan profil penyerang kotak penalti yang lebih natural dan pengalaman sebagai pemimpin. Kombinasi Alvarez dan Lautaro memberi Scaloni beberapa pilihan, mulai dari dua penyerang, rotasi nomor sembilan, sampai skema dengan satu striker dan gelandang serang.

EFE mencatat skuad Argentina untuk Piala Dunia 2026 masih memuat 17 pemain dari kelompok juara dunia 2022, tetapi regenerasi sudah terlihat. Nico Paz, Giuliano Simeone, dan Valentin Barco masuk dalam kelompok baru yang dipersiapkan berdampingan dengan tulang punggung lama.

Fakta tersebut berarti Lionel Messi pensiun tidak membuat Argentina harus membangun ulang tim dari fondasi paling dasar. Tantangannya adalah memindahkan otoritas permainan dari generasi lama kepada kelompok baru tanpa menghancurkan struktur kompetitif yang sudah dibentuk Scaloni selama bertahun-tahun.

Argentina Bisa Lebih Agresif Tanpa Messi

Secara taktik, Lionel Messi pensiun bahkan membuka beberapa kemungkinan yang sebelumnya sulit diterapkan secara penuh oleh Argentina. Pada tahun-tahun terakhir, Scaloni memberikan kebebasan besar kepada Messi dan menyesuaikan mekanisme pressing agar energi sang kapten tetap tersedia untuk fase menyerang.

Kompromi tersebut sangat rasional karena satu sentuhan Messi di sepertiga akhir lebih berharga dibanding memaksanya mengejar bek lawan selama sembilan puluh menit. Namun, pemain lain harus menutup ruang lebih banyak ketika Argentina kehilangan bola dan menghadapi transisi cepat.

Tanpa Messi, Argentina berpotensi menerapkan tekanan awal yang lebih seragam karena seluruh pemain depan dapat memiliki beban defensif hampir setara. Alvarez, Giuliano Simeone, dan pemain muda lain memungkinkan Scaloni membangun tim yang lebih intens, agresif, serta cepat merebut kembali penguasaan.

Tetapi keuntungan atletis itu tidak otomatis membuat Argentina lebih baik karena pressing hanya membantu merebut bola, bukan menjamin terciptanya peluang. Lionel Messi pensiun berarti Albiceleste kehilangan pemain yang mampu mengubah situasi biasa menjadi peluang emas melalui satu keputusan yang tidak terduga.

Di sinilah ujian sesungguhnya muncul, sebab Argentina harus mengganti kualitas improvisasi dengan mekanisme kolektif yang lebih terstruktur tanpa menjadi terlalu mekanis. Tim terbaik setelah Messi harus mampu bermain dengan pola, tetapi tetap memiliki cukup kebebasan untuk menyelesaikan pertandingan yang kacau.

Kehilangan Terbesar Ada di Ruang Ganti

Dampak Lionel Messi pensiun juga tidak dapat dihitung hanya melalui gol, assist, atau statistik peluang tercipta karena pengaruhnya berkembang menjadi sesuatu yang jauh lebih besar. Dalam generasi Scaloni, Messi berubah dari superstar pendiam menjadi pusat emosional sebuah kelompok yang sangat kompak.

Reuters mencatat penghormatan datang dari Enzo Fernandez, Lautaro Martinez, Rodrigo De Paul, Angel Di Maria, hingga Presiden AFA Claudio Tapia, sementara federasi juga menyanjung warisannya. Gelombang reaksi itu menunjukkan Messi memberi standar profesional sekaligus rasa aman kepada rekan setim.

Setelah Lionel Messi pensiun, ban kapten memang dapat berpindah kepada pemain lain, tetapi otoritas emosional tidak bisa diwariskan melalui keputusan administratif. Cristian Romero, Emiliano Martinez, De Paul, Lautaro, atau Enzo harus membangun legitimasi mereka sendiri melalui perilaku, konsistensi, dan performa.

Kemungkinan paling sehat justru muncul melalui kepemimpinan kolektif karena Argentina mempunyai beberapa karakter kuat dengan fungsi berbeda di dalam skuad. Romero membawa agresivitas, Emiliano Martinez menghadirkan keberanian, De Paul menawarkan energi emosional, sedangkan Enzo dan Mac Allister memberi kontrol permainan.

Model tersebut dapat menjadi peninggalan penting era Messi, sebab generasi berikutnya tidak perlu kembali menggantungkan semuanya kepada seorang ikon tunggal. Lionel Messi pensiun bisa menjadi kesempatan Argentina mendistribusikan kepemimpinan seperti mereka harus mendistribusikan kreativitas di atas lapangan.

Pensiun 2026 Sangat Berbeda dari 2016

Messi pernah menyatakan berhenti dari Argentina pada 2016 setelah kekalahan melawan Chile di final Copa America Centenario, ketika frustrasi mengalahkan harapan. Saat itu, ia pergi sebagai pemain hebat yang masih dihantui pertanyaan mengenai kegagalannya membawa trofi utama untuk negara.

Sepuluh tahun kemudian situasinya berbalik karena Lionel Messi pensiun sebagai juara dunia, dua kali kampiun Copa America, dan pemimpin generasi emas Argentina. Reuters menggambarkan perjalanan itu sebagai transformasi dari hubungan rumit dengan tim nasional menuju kisah penebusan dan kemenangan.

Messi juga tidak lagi hidup di bawah bayang-bayang Diego Maradona seperti pada fase awal karier internasionalnya yang penuh perbandingan. Piala Dunia 2022 memberi legitimasi yang selama bertahun-tahun dipakai sebagai ukuran utama dalam perdebatan mengenai tempatnya dalam sejarah Argentina.

Final Piala Dunia 2026 memang berakhir dengan kekalahan dari Spanyol, tetapi kekalahan tersebut tidak mengurangi statusnya sebagaimana final 2014 pernah memicu keraguan. Lionel Messi pensiun setelah membuktikan bahwa ia mampu memimpin Argentina melewati kegagalan, tekanan, dan ekspektasi paling berat.

Itulah sebabnya perpisahan 2026 terasa lebih final dan lebih damai, meskipun suratnya memperlihatkan betapa berat keputusan tersebut secara pribadi. Messi pergi karena merasa waktunya selesai dan karena melihat pemain muda Argentina sudah cukup baik untuk menerima giliran berikutnya.

Warisan Terbesar Messi Bukan 125 Gol

Angka 125 gol dan 207 penampilan akan menjadi monumen statistik, tetapi warisan terbesar ketika Lionel Messi pensiun sebenarnya berada pada perubahan mentalitas Argentina. Ia membantu mengubah tim yang bertahun-tahun dibebani trauma final menjadi kelompok yang terbiasa memenangkan pertandingan paling penting.

Copa America 2021 memutus penantian panjang trofi senior, Piala Dunia 2022 menyelesaikan narasi terbesar kariernya, kemudian Copa America 2024 memperpanjang dominasi generasi tersebut. Argentina akhirnya belajar bahwa kegagalan tidak selalu berarti akhir, melainkan dapat menjadi bagian dari proses kemenangan.

Warisan itu sangat penting untuk Nico Paz, Alvarez, Enzo, Mac Allister, Giuliano Simeone, Barco, dan generasi berikutnya yang tidak mengalami tekanan serupa. Mereka mewarisi tim nasional dengan budaya juara, bukan tim yang terus bertanya kapan kutukan kegagalan akan berakhir.

Karena itu, Lionel Messi pensiun justru meninggalkan Argentina dalam posisi yang relatif sehat dibanding banyak tim besar setelah kehilangan pemain ikonik. Scaloni masih memiliki inti berpengalaman, pemain muda menjanjikan, struktur permainan kuat, dan sejarah kemenangan yang masih sangat segar.

Bahaya terbesar bukan kekurangan talenta, melainkan keinginan mempertahankan Argentina lama terlalu lama karena nostalgia terhadap era yang baru saja selesai. Transisi akan berhasil jika Scaloni berani mengubah hierarki, memberi menit kepada pemain muda, dan menerima bahwa permainan Albiceleste harus berevolusi.

Argentina Tidak Membutuhkan Messi Berikutnya

Pertanyaan mengenai siapa pengganti Messi memang menarik untuk judul, tetapi sebenarnya keliru secara sepak bola karena tidak ada pemain yang dapat mengganti seluruh fungsi tersebut. Lionel Messi pensiun setelah menjadi pencetak gol, kreator, kapten, eksekutor bola mati, simbol, dan pusat gravitasi taktik sekaligus.

Argentina hanya perlu memastikan setiap fungsi itu tetap hidup melalui pemain berbeda, bukan memaksakan semuanya kepada satu talenta berusia awal dua puluhan. Jika kreativitas, gol, kepemimpinan, pressing, dan kontrol dibagi dengan tepat, Albiceleste justru dapat menjadi tim yang lebih fleksibel.

Nico Paz mungkin menjadi salah satu pusat kreativitas, Alvarez dapat menjadi wajah serangan, sementara Romero atau pemain senior lain bisa mengangkat tanggung jawab kepemimpinan. Enzo Fernandez dan Mac Allister kemudian memiliki kesempatan lebih besar menentukan ritme sekaligus arah permainan dari lini tengah.

Dalam konteks menuju Piala Dunia 2030, Lionel Messi pensiun sekarang bahkan memberi Argentina waktu yang cukup panjang untuk melakukan regenerasi secara bertahap. Empat tahun adalah periode ideal untuk menguji sistem, membangun hierarki baru, dan membiarkan pemain muda mengalami kegagalan sebelum turnamen terbesar.

Messi meninggalkan Argentina tanpa akhir dongeng kedua di Piala Dunia, tetapi ia meninggalkan sesuatu yang mungkin lebih berguna daripada perpisahan sempurna. Ia mewariskan standar kemenangan dan keyakinan bahwa seragam Albiceleste dapat menanggung tekanan terbesar tanpa kehilangan keberanian.

Pada akhirnya, ujian Argentina bukan menemukan Messi baru karena pencarian semacam itu hampir pasti berakhir dengan kekecewaan dan perbandingan tidak sehat. Ujian sebenarnya setelah Lionel Messi pensiun adalah membuktikan bahwa era terbaik mereka mampu melahirkan tim hebat berikutnya, bukan sekadar kenangan.

Scr/Mashable





Don't Miss