Timnas Inggris memang berhasil melaju ke babak berikutnya usai menundukkan Republik Demokratik Kongo dengan skor 2-1 pada babak 32 besar Piala Dunia 2026. Namun kemenangan dramatis itu justru memunculkan pertanyaan besar: apakah skuad asuhan Thomas Tuchel benar-benar memiliki kualitas untuk menjadi juara dunia?
Sekali lagi, Harry Kane menjadi penyelamat Inggris. Bahkan, bukan tidak mungkin gol sang kapten juga menyelamatkan posisi Thomas Tuchel sebagai pelatih.
Kemenangan atas RD Kongo pada Kamis (2/7) dini hari WIB seharusnya menjadi langkah yang relatif mudah bagi salah satu kandidat juara. Kenyataannya justru sebaliknya.
Inggris dipaksa bertarung dalam laga yang kacau, kehilangan kontrol di momen-momen penting, tampil tanpa arah permainan yang jelas, dan baru mampu lolos dari ancaman berkat ketajaman Kane serta perubahan strategi yang datang terlambat dari bangku cadangan.
Tuchel boleh saja berbicara mengenai mentalitas dan semangat pantang menyerah. Publik Inggris juga bisa menghibur diri dengan anggapan bahwa tim besar memang terkadang harus menang meski tampil buruk.
Namun jika melihat jalannya pertandingan secara objektif, laga tersebut bukanlah gambaran tim calon juara yang mampu bertahan di bawah tekanan, melainkan sebuah tim yang terus berjalan di tepi jurang.
Dengan materi pemain seperti Harry Kane, Jude Bellingham, Bukayo Saka, Phil Foden, Declan Rice, Anthony Gordon, serta sederet bintang Premier League lainnya, Inggris seharusnya tidak terus-menerus bergantung pada aksi individu. Piala Dunia bukan panggung bagi pelatih yang berharap keajaiban dari para pemain bintangnya setiap pertandingan.
Di level tertinggi, sistem permainan, disiplin taktik, dan identitas tim harus lebih dahulu berbicara sebelum kualitas individu menentukan hasil.
Masalah terbesar Inggris saat ini adalah mereka belum memiliki identitas permainan yang benar-benar jelas di bawah arahan Thomas Tuchel.
Pelatih Besar, Tim yang Belum Terlihat Besar
Thomas Tuchel ditunjuk karena reputasinya sebagai pelatih spesialis turnamen. Ia pernah membawa Paris Saint-Germain mencapai final Liga Champions dan mengantarkan Chelsea menjadi juara Eropa. Rekam jejak tersebut membuat Federasi Sepak Bola Inggris yakin Tuchel mampu membawa The Three Lions menjuarai turnamen besar.
Inggris sejatinya tidak kekurangan pemain berkualitas. Yang mereka butuhkan adalah pelatih yang mampu mengubah kumpulan talenta menjadi formula kemenangan dalam pertandingan-pertandingan besar.
Namun saat menghadapi RD Kongo, justru keunggulan yang selama ini melekat pada Tuchel mulai dipertanyakan.
Inggris tidak tampil layaknya tim yang dipersiapkan secara matang untuk pertandingan sistem gugur. Mereka mengawali laga tanpa intensitas, distribusi bola berjalan lambat, permainan di kedua sisi lapangan tidak efektif, sementara lini belakang berkali-kali kehilangan koordinasi ketika mendapat tekanan lawan.
Marcus Rashford dan Noni Madueke hampir tidak memberikan pengaruh berarti. Lini tengah gagal mengendalikan tempo pertandingan, sedangkan sektor pertahanan beberapa kali membiarkan ruang kosong terbuka ketika RD Kongo melakukan serangan cepat.
Bahkan, andai Yoane Wissa mampu memaksimalkan peluang emas yang dimilikinya, situasi Inggris bisa menjadi jauh lebih buruk.
Yang paling mengkhawatirkan, RD Kongo tidak membutuhkan strategi rumit untuk membuat Inggris kesulitan. Mereka hanya bermain dengan agresif, langsung menyerang, penuh energi, dan cukup berani sehingga mampu membuat pasukan Tuchel kehilangan arah.
Dalam banyak fase pertandingan, justru tim yang lebih tidak diunggulkan terlihat lebih memahami apa yang ingin mereka lakukan.
Itulah kritik paling tajam yang layak diarahkan kepada Thomas Tuchel.
Pelatih yang diharapkan membawa kecanggihan taktik justru membuat Inggris tampak seperti tim yang masih mencari bentuk. Hari ini ia memainkan Rashford dan Madueke.
Laga berikutnya bisa saja kembali memilih Gordon dan Saka. Terkadang Inggris ingin mendominasi penguasaan bola, namun di kesempatan lain justru menunggu serangan balik.
Fleksibilitas memang penting, tetapi tanpa fondasi yang jelas, fleksibilitas mudah berubah menjadi kebingungan.
Tuchel jelas memiliki banyak ide. Sayangnya, timnya hingga kini belum memiliki satu gagasan utama yang benar-benar menjadi identitas permainan.
Kane Tak Bisa Terus Menjadi Penyelamat
Harry Kane kembali menjadi pembeda bagi Inggris. Kualitasnya sudah tidak perlu diperdebatkan lagi.
Ketika pertandingan memasuki fase paling menentukan, Kane selalu mampu hadir pada waktu yang tepat, menyelesaikan peluang dengan tenang, dan mengubah situasi yang semula mengkhawatirkan menjadi kemenangan.
Namun semakin sering Kane menjadi penyelamat, semakin terlihat pula kelemahan sistem yang dibangun Tuchel.
Seorang pelatih tidak bisa terus-menerus berharap sang kapten memperbaiki setiap pertandingan yang berjalan di luar rencana. Begitu pula sebuah tim calon juara tidak boleh terus jatuh ke dalam kekacauan sebelum berharap seorang bintang menciptakan keajaiban.
Sepak bola sistem gugur memang membutuhkan momen-momen spesial. Namun tidak ada tim yang mampu menjadi juara Piala Dunia hanya dengan mengandalkan momen.
Dalam empat pertandingan terakhir, Inggris berkali-kali diselamatkan oleh Kane maupun Jude Bellingham. Hal itu memang menunjukkan mereka memiliki pemain kelas dunia, tetapi sekaligus memperlihatkan bahwa sistem permainan Tuchel belum cukup solid.
Dalam tim yang berjalan baik, pemain bintang akan meningkatkan kualitas permainan. Sebaliknya, ketika sistem tidak bekerja, pemain bintang justru dipaksa menjadi pemadam kebakaran yang terus menutupi kelemahan tim.
Dan Kane terlalu sering berada dalam peran tersebut.
Anthony Gordon yang masuk dari bangku cadangan langsung menciptakan dua assist dan mengubah jalannya pertandingan. Itu tentu menjadi nilai positif bagi kedalaman skuad Inggris.
Namun pada saat yang sama muncul pertanyaan besar untuk Tuchel. Mengapa solusi terbaik baru muncul ketika pertandingan hampir lepas dari genggaman? Mengapa Inggris harus menunggu hingga berada dalam situasi krisis sebelum akhirnya menemukan kecepatan, kedalaman serangan, dan permainan yang lebih langsung?
Tuchel sering berbicara mengenai pentingnya para finisher, yaitu pemain pengganti yang mampu menuntaskan pertandingan. Namun sebelum itu, Inggris justru membutuhkan para starter yang benar-benar tepat—susunan pemain inti yang memiliki logika, ritme permainan, dan mampu membawa pertandingan sesuai rencana sejak menit pertama.
Ambisi menjuarai Piala Dunia tidak bisa dibangun dengan tampil biasa-biasa saja selama satu jam sebelum berharap segalanya berubah dalam 30 menit terakhir.
Masalahnya Bukan Satu Pertandingan
Yang menjadi persoalan bukan hanya laga melawan RD Kongo, melainkan pola yang terus berulang.
Inggris belum menunjukkan perkembangan yang konsisten sepanjang turnamen. Mereka tidak memberi kesan sebagai tim yang semakin matang dari satu pertandingan ke pertandingan berikutnya. Sebaliknya, setiap laga justru terasa seperti ujian mental baru.
Dengan kualitas pemain yang dimiliki saat ini, kondisi tersebut merupakan pemborosan yang mengkhawatirkan. Sementara bagi Thomas Tuchel, itu menjadi bukti bahwa ia belum berhasil mengubah kumpulan pemain bertalenta menjadi sebuah tim yang benar-benar utuh.
Laga berikutnya melawan Meksiko di Stadion Azteca akan menjadi ujian yang jauh lebih berat. Meksiko akan mendapat dukungan penuh publik sendiri, atmosfer pertandingan yang luar biasa, serta kondisi bermain yang tidak mudah.
Itu bukan tempat bagi Inggris untuk kembali memulai pertandingan dengan lambat, kehilangan arah, lalu berharap Harry Kane kembali menjadi penyelamat.
Jika kembali bermain di batas kemampuan seperti saat menghadapi RD Kongo, bukan tidak mungkin perjalanan Inggris akan berakhir.
Thomas Tuchel masih memiliki kesempatan untuk memperbaiki keadaan. Namun waktu untuk terus bereksperimen sudah habis. Piala Dunia tidak memberi ruang bagi pelatih yang masih mencari komposisi terbaik. Turnamen sebesar ini selalu menghukum setiap keraguan.
Inggris memang berhasil melaju ke babak berikutnya, tetapi mereka belum mampu membawa keyakinan bahwa tim ini benar-benar layak menjadi juara.
Harry Kane tetap menjadi simbol harapan. Jude Bellingham masih mampu menentukan hasil pertandingan. Bukayo Saka, Anthony Gordon, maupun Declan Rice juga memiliki kualitas untuk membentuk tim yang menakutkan.
Namun seluruh talenta tersebut harus ditempatkan dalam struktur permainan yang jelas, bukan dalam perjudian taktik yang berubah setiap kali tim berada dalam tekanan.
Thomas Tuchel didatangkan untuk memenangkan laga-laga besar bersama Inggris. Namun sejauh ini, ia baru mampu membantu timnya menghindari kekalahan dalam pertandingan yang seharusnya tidak perlu berlangsung sesulit itu.
Dan itulah perbedaan yang sangat besar bagi sebuah tim yang bercita-cita menjadi juara Piala Dunia 2026.
Scr/Mashable















