Manchester City Dipoles Rp16 Triliun Pun Masih Belum Lepas dari Bayang-bayang Pep Guardiola

14.08.2026
Manchester City Dipoles Rp16 Triliun Pun Masih Belum Lepas dari Bayang-bayang Pep Guardiola
Manchester City Dipoles Rp16 Triliun Pun Masih Belum Lepas dari Bayang-bayang Pep Guardiola

Manchester City telah menggelontorkan dana hampir £700 juta (sekitar lebih dari Rp16 triliun) dalam empat bursa transfer terakhir untuk merombak skuad. Namun, tantangan terbesar bagi sang manajer baru, Enzo Maresca, bukanlah soal uang, melainkan membangun tim yang mampu berdiri tegak di era pasca-Pep Guardiola.

Rekrutan fantastis seperti Elliot Anderson yang diboyong seharga £116 juta, peremajaan lini belakang, hingga biaya besar untuk membawa balik Maresca ke Stadion Etihad memperlihatkan keseriusan manajemen. The Citizens seolah telah menyiapkan segalanya untuk menyambut masa depan.

Akan tetapi, uang memang bisa membeli pemain-pemain berbakat, namun tidak bisa secara instan mengulang standar kesempurnaan yang pernah ditanamkan Guardiola di sepak bola Inggris.

Maresca kembali ke Manchester dalam situasi yang jauh berbeda dari saat ia menjadi asisten Guardiola pada musim treble 2022/23. Kini, mayoritas pilar utama dari era keemasan tersebut telah hengkang, sementara sisa skuad yang ada berada dalam fase transisi yang penuh ketidakpastian.

Perombakan Mahal yang Belum Tuntas

Proses peremajaan skuad Man City sebenarnya sudah dimulai sejak era Guardiola masih berlangsung. Waktu berjalan, generasi emas satu per satu mulai tergerus usia dan meninggalkan klub.

Kepergian nama-nama besar seperti John Stones dan Bernardo Silva menjadi bukti nyata pergeseran tersebut. Bahkan, Rodri kini berada di masa depan yang serba tak pasti seiring memasuki tahun terakhir di kontraknya. Jika sang gelandang jangkar asal Spanyol itu menyusul pergi, lini tengah The Citizens dipastikan akan kehilangan kestabilannya—meski mereka baru saja memecahkan rekor transfer pemain Inggris demi mendaratkan Elliot Anderson.

Di sinilah letak ironi dari perombakan senilai Rp16 triliun tersebut. Man City mendatangkan banyak pemain berkualitas tinggi, tetapi belum menemukan jawaban atas pertanyaan paling krusial: Siapa yang akan menjadi pilar utama penentu arah klub di era baru ini?

Pemain seperti Josko Gvardiol, Ruben Dias, Nico Gonzalez, Tijjani Reijnders, Omar Marmoush, hingga Savinho adalah talenta-talenta luar biasa. Skuad Man City saat ini jauh lebih muda dan segar. Namun, memiliki kumpulan pemain hebat berbeda cerita dengan membangun sebuah tim yang hebat. Selisih dari kedua hal tersebut tidak bisa diselesaikan hanya dengan menambah deretan transfer mahal.

Bukan Sekadar Menjadi Kembaran Pep

Tekanan terbesar bagi Maresca datang dari ekspektasi publik: setiap versi Man City setelah era Guardiola pasti akan selalu dibanding-bandingkan dengan era kejayaan pelatih asal Katalunya tersebut.

Sebagai sosok yang pernah bekerja langsung di bawah Guardiola, Maresca paham betul seberapa tinggi standar yang ditinggalkan pendahulunya. Ia tidak hanya meneruskan tongkat kepemimpinan, melainkan menduduki kursi panas dari manajer tersukses sepanjang sejarah klub.

Tugas rumah Maresca pun menumpuk. Salah satunya adalah mengembalikan performa terbaik Phil Foden yang sempat merosot. Jika Foden mampu menemukan kembali taji terbaiknya, Maresca akan memiliki aset berharga sebagai juru gedor utama di lini kedua.

Di lini depan, Erling Haaland memang masih menjadi jaminan gol yang sangat bisa diandalkan. Namun, seorang juru gedor ulung tidak akan sanggup menyelesaikan masalah sistem permainan seorang diri. Man City butuh mengembalikan koneksi antarlini, dominasi penguasaan bola, serta pemahaman peran dari setiap pemain di lapangan.

Ekspektasi tinggi dari investasi bernilai triliunan Rupiah tentu membuat kesabaran manajemen tidak akan bertahan selamanya. Masa depan Man City pasca-Guardiola pada akhirnya tidak ditentukan oleh seberapa banyak uang yang akan kembali mereka belanjakan, melainkan pada kemampuan Enzo Maresca meracik deretan pemain bintang tersebut menjadi satu kesatuan tim yang tangguh dan memiliki identitasnya sendiri.

Sebab, yang dibutuhkan Manchester City saat ini bukanlah replika dari Pep Guardiola, melainkan sebuah tim baru yang cukup hebat hingga membuat orang-orang berhenti bertanya kapan “Man City yang dulu” akan kembali.

Scr/Mashable





Don't Miss