Mengapa Eksekusi Penalti Jadi Titik Lemah Sang Alien?

23.06.2026
Mengapa Eksekusi Penalti Jadi Titik Lemah Sang Alien?
Mengapa Eksekusi Penalti Jadi Titik Lemah Sang Alien?

Lionel Messi baru saja memecahkan rekor gol sepanjang masa Piala Dunia. Namun, kegagalannya mengeksekusi penalti saat melawan Austria kembali menegaskan satu fakta yang jarang dibahas: La Pulga tidak terlalu istimewa dari titik putih.

Kata “rata-rata” nyaris tidak pernah ada dalam kamus untuk menggambarkan seorang Lionel Messi. Namun, jika kita hanya melihat rekor penaltinya, megabintang Argentina ini sama sekali tidak semenakutkan aspek lain dalam karier sepak bolanya.

Messi yang Agung, tapi Tidak Sempurna

Dalam kemenangan 2-0 Argentina atas Austria pada babak penyisihan grup Piala Dunia 2026, Selasa (23/6) dini hari WIB, Messi membuang peluang emas dari titik penalti di awal laga.

Itu adalah kegagalan ketiga Messi dari 7 kesempatan penalti dalam waktu normal sepanjang sejarah penampilannya di Piala Dunia.Sebelumnya, sepakan Messi pernah diblok oleh Wojciech Szczesny saat bersua Polandia pada 2022, dan dimentahkan oleh Hannes Thor Halldorsson saat menghadapi Islandia pada Piala Dunia 2018.

Jika ditotal di level tim nasional, Messi mengemas 25 gol dari 31 penalti. Apabila digabungkan dengan rekornya di klub (FC Barcelona, PSG, dan Inter Miami), ia telah mengeksekusi 149 penalti dan mencetak 116 gol.

Rasio kesuksesannya yang menyentuh 77% sebenarnya tidak buruk, namun angka itu masih di bawah rata-rata standar para pemain elite dunia lainnya.

Ini adalah sebuah paradoks yang menarik. Messi bisa mencetak gol, merancang assist, menggiring bola, melepas umpan visioner, dan mencari ruang kosong di level yang sulit ditandingi manusia biasa. Ia mengoleksi 8 trofi Ballon d’Or dan 4 gelar Champions League.

Namun, pada situasi yang dianggap sebagai peluang gol paling mudah dalam sepak bola, Messi justru kerap gagal memberikan rasa aman yang mutlak bagi timnya.

Trik yang Terbaca di Laga Kontra Austria

Momen kegagalan di laga kontra Austria semakin mengupas tuntas anomali ini. Messi sebenarnya punya waktu lebih dari 5 menit untuk bersiap lantaran VAR tengah meninjau pelanggaran terhadap Lautaro Martinez.

Ia mengambil ancang-ancang pendek, memperlambat temponya di langkah-langkah terakhir, dan mencoba menunggu pergerakan kiper Alexander Schlager.

Namun, Schlager tidak termakan jebakan. Kiper Austria itu tetap berdiri kokoh, merentangkan tangan, dan baru bergerak di detik-detik akhir.

Karena terlalu fokus melihat pergerakan kiper saat berlari, Messi kehilangan sedikit konsentrasinya pada bola. Hasilnya? Sepakannya malah melebar dari tiang gawang.

Seusai laga, Messi secara jantan mengakui bahwa dirinya frustrasi karena “menendang dengan sangat buruk”. Sebuah pengakuan jujur, sekaligus detail yang memperlihatkan bahwa pesepak bola terhebat sejagat pun tetap memiliki sisi kelemahan yang sangat manusiawi.

Sisi Negatif dari Kreativitas yang Terlalu Tinggi

Apa yang membuat Messi begitu luar biasa dalam situasi open play justru kerap menjadi bumerang baginya di titik putih: yaitu sifat spontanitas dan improvisasi.

Mayoritas algojo penalti ulung biasanya memiliki satu gaya tendangan yang paten. Mereka memilih rutinitas, teknik, dan arah sasaran yang sudah matang demi meminimalkan risiko.

Messi berbeda. Ia terus-menerus mengubah gayanya; terkadang menggunakan kaki bagian dalam, punggung kaki, menembak rendah, menembak tinggi, hingga teknik Panenka.Fleksibilitas ini memang membuat Messi sulit ditebak, namun di sisi lain, hal itu membuatnya kekurangan “jurus andalan” yang benar-benar stabil.

Pada Piala Dunia 2022 lalu, Messi sukses mengonversi 6 dari 7 penalti, termasuk dalam babak adu penalti melawan Belanda dan Prancis. Ada momen di mana ia menunggu kiper bergerak hingga sepersekian detik terakhir sebelum menembak.

Namun, ada kalanya ia memilih menghajar bola dengan keras ke arah atas, seperti golnya ke gawang Kroasia di semifinal.Masalahnya, Messi sering kali mengambil keputusan penalti murni berdasarkan intuisi sesaat.

Ketika intuisinya tepat, eksekusinya akan terlihat sangat dingin. Namun saat salah, tendangannya akan berubah menjadi eksekusi yang tampak ragu-ragu.

Menutup Cela dengan Sejarah

Kendati demikian, noda hitam di awal laga kontra Austria tidak mampu menutupi magis sang kapten di sisa pertandingan. Messi bangkit dan langsung memborong brace (dua gol) untuk membawa Argentina menang, sekaligus resmi melewati rekor Miroslav Klose sebagai top skor sepanjang masa Piala Dunia pria dengan koleksi 18 gol.

Ia berhasil mengubah malam yang nyaris dicoreng kegagalan penalti menjadi malam bersejarah yang agung.

Itulah keistimewaan seorang Lionel Messi. Ia bisa saja melakukan kesalahan pada situasi yang terlihat paling sederhana, tetapi ia selalu punya kualitas magis untuk menentukan hasil akhir laga lewat momen-momen yang jauh lebih sulit.

Penalti mungkin menjadi titik lemah Messi. Namun, justru celah kecil itulah yang membuat narasi kariernya menjadi jauh lebih menarik.

Seorang pemain yang mendekati kesempurnaan ternyata masih menyisakan satu goresan cacat. Dan terkadang, goresan itulah yang membuat kehebatannya terasa lebih membumi bagi kita yang menyaksikannya.

Scr/Mashable





Don't Miss