Justin Gaethje sukses menjungkirbalikkan semua prediksi taruhan. Petarung berjuluk The Highlight tersebut resmi dinobatkan sebagai raja baru kelas ringan (lightweight) UFC setelah menumbangkan pemegang sabuk juara bertahan yang sebelumnya tak terkalahkan, Ilia Topuria, dalam laga bersejarah di halaman Istana Kepresidenan Amerika Serikat (Gedung Putih), Minggu malam waktu setempat.
UFC Freedom 250 ditutup dengan skenario paling gila yang bisa dibayangkan. Datang sebagai underdog yang sama sekali tidak diunggulkan, jagoan tuan rumah Justin Gaethje terlibat perang habis-habisan selama empat ronde penuh melawan Topuria.
Laga baku hantam yang brutal ini akhirnya terhenti setelah tim sudut (corner) Topuria memutuskan menyerah dan melambaikan handuk putih tepat sebelum ronde kelima dimulai.
Mulutmu Harimaumu: Trash Talk Topuria Menjadi Bumerang
Usai laga, Gaethje angkat bicara mengenai betapa berbahayanya sang lawan di dalam oktagon, sekaligus menyindir perang urat syaraf (trash talk) yang dilontarkan Topuria sebelum laga.
“Dia sangat hebat. Liver saya bahkan masih terasa sakit sekarang,” ujar Gaethje dalam sesi konferensi pers pasca-laga UFC Freedom 250, seperti dikutip dari Yahoo Sports.
“Pukulan-pukulan ke arah badannya luar biasa gila. Dia sangat, sangat cepat. Tapi ketika dia gagal menghabisi saya di akhir ronde kedua, saya rasa mental dan semangatnya langsung runtuh.”
Gaethje menambahkan bahwa sesumbar Topuria sebelum pertarungan justru menjadi bumerang yang menjebak dirinya sendiri.
“Saya sudah katakan saat konferensi pers sebelum laga—dia benar-benar memojokkan dirinya sendiri dengan berkata akan tampil sangat dominan. Dan terbukti, saat kami masuk ke ronde kedua, dia mulai panik dan bingung. Lalu berlanjut ke ronde ketiga, dan itulah yang saya manfaatkan hari ini.”
“Saya tidak pernah merasa dia benar-benar hancur karena dia tetap berbahaya sepanjang laga. Namun di ronde ketiga, saat pukulan-pukulan jab saya mulai masuk dan saya berhasil menekan langkah mundurnya, saya tahu situasi pertarungan sudah berubah,” pungkas petarung berusia 37 tahun tersebut.
Terpaku pada Darah Sendiri dan Ketenangan di Tengah Kekacauan
Datang dengan status juara interim, Gaethje harus menghadapi jalan terjal sejak awal. Namun, kejutan langsung terjadi di ronde pertama. Gaethje membalikkan prediksi pengamat lewat kombinasi pukulan jab yang sempurna untuk memimpin angka.
Memasuki ronde kedua, Topuria sempat mengamuk. Sang juara bertahan menghujani Gaethje dengan serangan balik yang masif dan sempat menjatuhkannya lewat pukulan telak ke arah ulu hati (liver).
Beruntung, Gaethje mampu bertahan dari badai tersebut.
Dalam acara analisis pasca-pertandingan, Gaethje membeberkan celah fatal Topuria. Petarung berdarah Georgia-Spanyol itu dinilai terlalu memikirkan penampilan fisiknya saat mulai terluka.
“Dia itu tipe petarung yang ‘anak tampan’ (pretty boy), jadi dia langsung sangat panik saat melihat darahnya sendiri mengalir,” ungkap Gaethje.
“Saya menghajarnya dengan uppercut, dia berdarah, dan dia mulai menyentuh lukanya itu berulang-ulang.”
“Dia sangat berbahaya, saya bahkan tidak tahu bagaimana caranya bisa selamat dari beberapa pukulan telaknya. Dia jelas sempat membuat saya limbung. Saya menang di ronde pertama, tapi dia benar-benar melukai saya di ronde itu. Dia juga menghancurkan liver saya di ronde kedua. Beruntung, saya sudah berlatih keras pada kemampuan jiu-jitsu saya. Itulah yang membuat saya tetap tenang di tengah kekacauan dan berhasil bangkit di ronde ketiga.”
Berkah di Balik Kekalahan Brutal dari Max Holloway
Momen ini menjadi penutup yang sangat puitis untuk UFC Freedom 250. Sebuah perang terbuka yang epik berakhir dengan kemenangan sang underdog Amerika atas juara bertahan yang tak terkalahkan. Luar biasanya, ini adalah kesempatan ketiga bagi Gaethje dalam upayanya memperebutkan sabuk juara dunia sejati, setelah dua kesempatan sebelumnya selalu gagal.
Gaethje menjelaskan bahwa ia berusaha keras membuang segala emosi menjelang laga ini. Baginya, pertarungan ini adalah kesempatan terakhir dan penentu kelanjutan kariernya.
Menariknya, ia justru berterima kasih pada kekalahan KO tragisnya dari Max Holloway di detik-detik terakhir UFC 300 silam, yang dinilainya sebagai titik balik terbesar.
“Saya hanya terus meyakinkan diri sendiri untuk percaya pada kemampuan saya. Jangan terbawa emosi,” kata Gaethje.
“Ketika saya bilang tidak punya emosi, maksudnya adalah tidak ada perasaan yang lebih indah dari apa yang saya rasakan sekarang. Jadi, jelas saya punya emosi, tapi saya paham bahwa emosi bisa membunuhmu di dalam oktagon. Emosi membuatmu ragu, terlalu banyak berpikir, dan mengambil jalan pintas yang salah.”
“Maka dari itu, dibuat KO oleh Max Holloway adalah berkah tersendiri bagi saya. Saat itu saya bertarung seperti orang bodoh, tapi kekalahan itu adalah berkah karena membuat cerita kemenangan hari ini menjadi jauh lebih indah.”
Atas aksi heroiknya yang memukau dunia, Justin Gaethje pulang tidak hanya membawa sabuk juara, tetapi juga bonus ganda. Ia sukses menyabet penghargaan Fight of the Night sekaligus Performance of the Night, yang membuatnya berhak membawa pulang bonus tambahan sebesar USD 825.000 (sekitar Rp14,6 miliar).
Profil Singkat Justin Gaethje: Sang Raja Bonus UFC
- Nama Lengkap: Justin Ray Gaethje
- Julukan: The Highlight
- Tanggal Lahir: 14 November 1988 (Usia 37 tahun)
- Asal: Safford, Arizona, Amerika Serikat
- Rekor Profesional MMA: 28 Menang – 5 Kalah (20 Menang KO/TKO, 1 Submission, 7 Keputusan Juri)
- Gaya Bertarung: All-action striker dengan latar belakang gulat elite (NCAA Division I All-American). Terkenal dengan tendangan kaki (low kicks) yang merusak dan daya tahan pukul yang luar biasa.
Prestasi Utama:
- Juara Dunia Kelas Ringan UFC (Undisputed) – Sekarang
- Dua kali Juara Interim Kelas Ringan UFC (Petarung pertama dalam sejarah yang mampu melakukannya)
- Mantan Pemegang Sabuk BMF (Baddest Motherf*er) UFC
- Mengoleksi 17 bonus pasca-laga UFC (Fight/Performance of the Night), menjadikannya salah satu petarung paling menghibur sepanjang sejarah MMA.
Scr/Mashable















