Panggung Piala Dunia 2026 di Monterrey, Meksiko, Senin (15/6/2026) WIB, melahirkan dongeng baru yang emosional. Swedia sukses mengalahkan Tunisia dengan skor telak 5-1 dalam laga pembuka Grup F.
Namun, sorotan utama tidak hanya tertuju pada papan skor, melainkan pada sosok pemuda berusia 22 tahun bernama Yasin Abbas Ayari.
Laga di Monterrey berlangsung baru beberapa menit ketika Ayari memanfaatkan kemelut di depan gawang Tunisia. Setelah dua peluang Swedia gagal berbuah gol, bola liar mengarah kepadanya di luar kotak penalti.
Dengan satu sentuhan, Ayari melepaskan tembakan keras yang sempat mengenai tangan kiper Abdelmouhib Chamakh sebelum akhirnya bersarang di gawang Tunisia. Gol itu membawa Swedia unggul dan menjadi awal dominasi tim asuhan Graham Potter.
Gol tersebut ternyata memiliki makna historis. Pada usia 22 tahun 251 hari, Ayari tercatat sebagai pencetak gol termuda Swedia di putaran final Piala Dunia sejak 1990.
Rekor sebelumnya dipegang legenda Swedia Tomas Brolin yang mencetak gol pada usia 20 tahun 190 hari di Piala Dunia 1990. Artinya, Ayari mengakhiri penantian selama 36 tahun untuk munculnya pencetak gol muda Swedia di ajang sepak bola terbesar dunia.
Ia kemudian menambah satu gol lagi pada masa injury time lewat tendangan jarak jauh yang tak kalah indah untuk menutup kemenangan telak Swedia 5-1.
Gelandang milik Brighton & Hove Albion tersebut tampil menggila dengan memborong dua gol (brace). Kendati demikian, sebuah pemandangan menarik tersaji di Stadion ‘Steel Giant’ Monterrey ketika Ayari mencetak gol pembuka Blagult (Si Biru-Kuning).
Alih-alih berlari kegirangan, ia justru memilih mengangkat kedua tangannya sebagai tanda meminta maaf. Mengapa?
Pertanyaan itu langsung menjadi perbincangan setelah pertandingan. Ayari ternyata memiliki hubungan emosional yang sangat kuat dengan Tunisia. Ayahnya, Azzouz Ayari, lahir di Tunisia sebelum kemudian menetap di Swedia. Karena faktor keturunan tersebut, Ayari sebenarnya memenuhi syarat untuk membela Timnas Tunisia.
Bahkan pada 2021, federasi sepak bola Tunisia sempat melakukan pendekatan kepada Ayari yang saat itu masih memperkuat Timnas Swedia U-21. Mereka berharap sang gelandang muda bersedia berganti kewarganegaraan sepak bola dan memperkuat Tunisia di level senior.
Namun Ayari akhirnya memilih tetap setia kepada Swedia, negara tempat ia lahir dan dibesarkan.
Keputusan itu membuat laga melawan Tunisia menjadi sangat emosional. Ia sadar bahwa jika jalan hidupnya berbeda sedikit saja, mungkin dirinya berdiri di sisi lapangan yang berlawanan.
Karena alasan itulah Ayari menolak melakukan selebrasi setelah mencetak gol pertama. Ia hanya mengangkat kedua tangan sebagai bentuk penghormatan kepada negara asal keluarganya.
Menariknya, setelah mencetak gol kedua di penghujung pertandingan, Ayari tampak lebih lepas merayakan gol bersama rekan-rekannya.
Dari beberapa sumber terpercaya menyebutkan Ayari juga seorang muslim yang taat, berasal dari ayahnya yang juga mengalir darah Islam.
Yasin Ayari bahkan merayakannya dengan sujud syukur (sajdah atau gerakan sujud) setelah mencetak gol pada pertandingan pembuka Piala Dunia 2026 antara Swedia dan Tunisia.
Fakta menarik lainnya, Ayari sebenarnya memiliki tiga identitas nasional dalam sepak bola. Selain lahir di Swedia dan memiliki darah Tunisia dari sang ayah, ibunya yang bernama Amina berasal dari Maroko. Dengan demikian, Ayari juga memenuhi syarat untuk membela Timnas Maroko.
Hal itu membuat gelandang muda tersebut menjadi salah satu talenta paling menarik yang pernah dimiliki diaspora Afrika Utara di Eropa. Pada akhirnya ia memilih Swedia sebagai negara yang akan dibelanya sepanjang karier internasional.
Yasin Abbas Ayari lahir pada 6 Oktober 2003 di Solna, Swedia. Perjalanan sepak bolanya dimulai sejak usia enam tahun bersama akademi Råsunda sebelum bergabung dengan akademi AIK pada usia sekitar delapan tahun.
Di AIK, bakatnya berkembang pesat. Debut profesionalnya terjadi pada 6 Desember 2020 saat AIK bermain imbang 2-2 melawan Elfsborg di kompetisi Allsvenskan.
Penampilan impresifnya membuat AIK memberikan kontrak profesional pertama pada Oktober 2021. Sejak saat itu namanya mulai masuk radar klub-klub Eropa.
Selama membela AIK, Ayari mencatatkan 37 penampilan liga dan mencetak empat gol. Performa tersebut cukup untuk menarik perhatian klub-klub Liga Inggris.
Karier Ayari mengalami lonjakan besar pada Januari 2023 ketika klub Premier League, Brighton & Hove Albion, resmi memboyongnya dengan kontrak hingga 2027.
Debutnya bersama Brighton terjadi pada Maret 2023 dalam pertandingan Piala FA melawan Grimsby Town. Ia kemudian menjalani debut sebagai starter di Premier League pada laga terakhir musim tersebut melawan Aston Villa.
Meski sempat kesulitan mendapatkan menit bermain reguler, Brighton tetap percaya terhadap potensinya.
Hingga Mei 2026, Ayari telah mencatat 66 penampilan bersama Brighton dan mencetak lima gol. Salah satu momen pentingnya terjadi pada April 2025 ketika ia mencetak gol perdana untuk Brighton dalam kemenangan 3-2 atas West Ham United.
Seperti banyak pemain muda lainnya, Ayari juga ditempa melalui masa peminjaman. Pada musim 2023/2024 ia dipinjamkan ke Coventry City dan kemudian ke Blackburn Rovers.
Di Coventry, ia mencetak satu gol dari 13 pertandingan Championship. Sementara bersama Blackburn ia memperoleh pengalaman berharga dalam persaingan keras kasta kedua sepak bola Inggris.
Masa peminjaman tersebut membantu perkembangan fisik dan mentalnya sebelum kembali menjadi bagian penting skuad Brighton.
Meski berpostur relatif mungil dengan tinggi 1,72 meter, Ayari dikenal memiliki visi bermain, teknik tinggi, dan kemampuan melepaskan tembakan jarak jauh yang berbahaya.
Ia beroperasi sebagai gelandang serba bisa yang mampu membantu pembangunan serangan sekaligus menjaga keseimbangan tim di lini tengah.
Karier internasionalnya bersama Swedia dimulai dari kelompok umur U-17, U-19, dan U-21 sebelum akhirnya melakoni debut senior pada Januari 2023 saat menghadapi Finlandia.
Sejak saat itu perkembangannya sangat pesat. Hingga Juni 2026, ia telah mengoleksi lebih dari 20 penampilan internasional dan beberapa gol penting untuk Swedia.
Prestasinya semakin lengkap setelah dinobatkan sebagai Gelandang Terbaik Swedia 2025, sebuah penghargaan yang menegaskan statusnya sebagai salah satu talenta terbaik generasi baru sepak bola negara tersebut.
Piala Dunia 2026 bisa menjadi titik balik karier Yasin Ayari. Dua gol ke gawang Tunisia bukan sekadar membantu Swedia meraih kemenangan telak 5-1, tetapi juga memperkenalkan dirinya kepada panggung global.
Di usianya yang masih 22 tahun, Ayari telah menjadi simbol baru sepak bola Swedia modern yaitu pemain berbakat dengan latar belakang multikultural, pengalaman di Premier League, serta kemampuan menentukan pertandingan besar.
Scr/Mashable
















