Piala Dunia 2026 sudah memanas di atas lapangan hijau. Sebuah catatan sejarah unik justru sudah tercipta di pinggir lapangan.
Hanya dalam kurun waktu 72 jam pertama sejak turnamen dimulai, rekor pelatih tertua dalam sejarah Piala Dunia secara dramatis berpindah tangan hingga tiga kali! Sebelum turnamen akbar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko ini resmi bergulir, rekor tersebut dipegang oleh pelatih legendaris asal Jerman, Otto Rehhagel.
Ia tercatat mendampingi timnas Yunani di Piala Dunia 2010 dalam usia 71 tahun 10 bulan 13 hari. Laga terakhirnya kala itu ditutup dengan kekalahan 0-2 dari Argentina. Rekor yang sempat bertahan kokoh selama 16 tahun tersebut akhirnya runtuh seketika di hari pertama Piala Dunia 2026.
Saat timnas Afrika Selatan menantang tuan rumah Meksiko di laga pembuka, sang juru taktik Hugo Broos resmi masuk buku sejarah. Pelatih berkebangsaan Belgia tersebut memecahkan rekor sebagai nakhoda tertua yang pernah meracik strategi di Piala Dunia dalam usia 74 tahun 2 bulan 1 hari.
Namun, status nomor satu milik Broos ternyata tidak bertahan lama. Hanya berselang beberapa jam saja, tepatnya pada pertandingan berikutnya yang mempertemukan Korea Selatan vs Republik Ceko, rekor tersebut kembali patah.
Pelatih timnas Republik Ceko, Miroslav Koubek, sukses melampaui catatan Broos. Juru taktik asal Eropa ini mengomandoi timnya di usia yang sudah menginjak 74 tahun 9 bulan 10 hari.
Skenario gila ini akhirnya ditutup oleh penampilan tim kejutan asal Karibia, Curacao. Saat tim tersebut melakoni laga perdana mereka, posisi pelatih tertua resmi disandang oleh sang mentor baru, Dick Advocaat.
Mantan pelatih timnas Belanda ini memimpin Curacao di pinggir lapangan pada usia yang sangat senja, yaitu 78 tahun 8 bulan 15 hari. Angka ini melesat jauh meninggalkan para pesaingnya, bahkan menciptakan jarak hingga hampir empat tahun dari Miroslav Koubek.
Mengingat usia Dick Advocaat yang sangat matang digabung dengan segudang pengalaman internasionalnya, catatan emas ini diprediksi bakal menjadi salah satu rekor yang paling sulit dipecahkan pada edisi-edisi Piala Dunia mendatang.
Rekor Kelam Laga Pembuka Piala Dunia 2026, Afrika Selatan Cetak Sejarah Memalukan
Tim nasional Afrika Selatan baru saja menorehkan tinta hitam dalam sejarah Piala Dunia. Skuad berjuluk Bafana Bafana tersebut menjadi tim pertama yang harus bermain dengan 9 orang akibat dua kartu merah langsung dalam sebuah pertandingan pembuka turnamen.
Laga pembuka Piala Dunia 2026 yang berlangsung pada Jumat (12/6/2026) dini hari WIB menjadi panggung pertunjukan yang diwarnai tindakan indisipliner dari para pemain Afrika Selatan. Akibatnya, mereka kini menyandang rekor buruk yang belum pernah terjadi sebelumnya di sepanjang sejarah kompetisi paling bergengsi di dunia ini.
Mimpi buruk Afrika Selatan dimulai pada menit ke-49 ketika gelandang bertahan mereka, Yaya Sithole, diusir keluar lapangan oleh wasit.
Sithole diganjar kartu merah langsung setelah dinilai melakukan pelanggaran keras demi menghentikan peluang emas lawan untuk mencetak gol. Kehilangan satu pemain di awal babak kedua ini langsung mengubah arah permainan dan membuat Afrika Selatan berada di bawah tekanan hebat.
Frustrasi dan Kartu Merah Kedua Themba ZwaneBukannya bangkit, situasi perwakilan benua Afrika ini justru semakin hancur mendekati akhir pertandingan. Pada menit ke-82, malapetaka kembali datang menghampiri.
Gelandang serang andalan mereka, Themba Zwane, ikut menyusul ke ruang ganti setelah menerima kartu merah langsung dari wasit.
Zwane diusir akibat melakukan tindakan kekerasan di lapangan (violent conduct). Kehilangan pilar kedua membuat Afrika Selatan terpaksa pincang dan mengarungi sisa waktu pertandingan hanya dengan 9 orang pemain.
Ketiadaan kontrol emosi dari para pemain Afrika Selatan menciptakan kekacauan besar di dalam lapangan. Dampaknya, seluruh rencana taktik dan strategi yang telah dipersiapkan matang oleh sang pelatih kepala, Hugo Broos, hancur berantakan.
Mengakhiri laga perdana dengan skuad yang keropos, Hugo Broos tidak hanya kehilangan poin penting di laga pembuka, tetapi juga harus memutar otak lebih keras. Pasalnya, Afrika Selatan kini menghadapi krisis personel yang sangat serius akibat sanksi larangan bermain untuk laga-laga krusial berikutnya di fase grup.
Scr/Mashable















