Setiap kali gelaran Piala Dunia bergulir, Kylian Mbappe selalu melangkah semakin dekat menuju status legenda sepak bola dunia. Perlahan tapi pasti, penyerang tajam ini berhasil menyulap turnamen sepak bola terakbar di jagat raya tersebut menjadi panggung teater pribadinya.Di level klub, Cristiano Ronaldo boleh saja dipuji oleh seluruh dunia sebagai “Mr. Champions League”.
Julukan itu bukan sekadar hiasan, melainkan sebuah pengakuan mutlak bagi sang megabintang Portugal yang sukses mendominasi kompetisi paling bergengsi antarklub Eropa tersebut dengan deretan rekor yang hampir mustahil dipecahkan.
Mbappe sendiri tumbuh besar dengan mengagumi Ronaldo. Ia menjadikan CR7 sebagai idola masa kecil sekaligus sumber inspirasi terbesar dalam kariernya. Namun, alih-alih menjadi duplikat Ronaldo, Mbappe justru sedang memahat warisannya sendiri dengan cara yang jauh berbeda.
Jika Liga Champions adalah taman bermain milik Ronaldo, maka Mbappe tampaknya sengaja dilahirkan ke dunia khusus untuk menguasai Piala Dunia.
Mbappe yang Terlalu Sakti
Pada Rabu (1/7/2026) dini hari WIB, Mbappe kembali memamerkan magisnya. Ia sukses menyumbang sepasang gol ke gawang Swedia, membawa Prancis menang telak 3-0 sekaligus mengunci tiket ke babak 16 besar Piala Dunia 2026.
Brace tersebut membuat penyerang berusia 27 tahun ini mengoleksi total 18 gol hanya dalam 18 laga di sepanjang keikutsertangannya di Piala Dunia. Catatan ini juga membuatnya sejajar dengan Lionel Messi di puncak bursa top skor Piala Dunia 2026 dengan torehan 6 gol.
Namun, yang membuat Mbappe berada di level yang berbeda dari pemain lain adalah kemampuannya untuk meledak di saat seluruh mata dunia sedang tertuju kepadanya. Piala Dunia dikenal sebagai kompetisi paling kejam.
Hanya butuh 7 pertandingan (atau 8 pertandingan pada format baru 2026) bagi seorang pemain untuk menjadi pahlawan global atau pulang dengan tangisan penyesalan. Di turnamen ini, tidak ada kesempatan kedua untuk memperbaiki kesalahan seperti halnya di Liga Champions atau liga domestik.
Sekali Anda terpeleset, Anda harus menunggu empat tahun lamanya.
Ajaibnya, Mbappe seolah-olah kebal terhadap tekanan mental tersebut. Piala Dunia 2018 adalah panggung yang mengubah seorang remaja berusia 19 tahun menjadi megabintang global.
Kala itu, ia mencetak dua gol ke gawang Argentina di babak 16 besar, membuat lini pertahanan wakil Amerika Selatan itu kocar-kacir tak berdaya menahan kecepatannya yang mengerikan. Di partai final melawan Kroasia, Mbappe kembali mencatatkan namanya di papan skor untuk membawa Prancis mengangkat trofi juara, sekaligus menjadi pemain muda pertama yang mencetak gol di final Piala Dunia sejak era Pele.
Empat tahun berselang di Qatar, Mbappe bukan lagi sekadar “bocah ajaib” yang menjanjikan, melainkan sudah menjelma menjadi jenderal utama di lini serang Les Bleus. Ia menyabet penghargaan Sepatu Emas dengan torehan 8 gol, mencetak brace ke gawang Polandia di babak 16 besar, dan puncaknya, mempertontonkan aksi individu paling legendaris dalam sejarah sepak bola dengan mencetak hat-trick ke gawang Argentina di laga final.
Meskipun Prancis akhirnya harus kalah dramatis lewat adu penalti, Mbappe tetap keluar sebagai pemenang sejati di hati para pencinta sepak bola dunia. Hari itu, seluruh dunia dipaksa angkat topi memberi penghormatan atas performa magisnya.
Memasuki Piala Dunia 2026, skenario yang sama kembali terulang. Selepas melewati babak 32 besar, Mbappe sudah membungkus 6 gol dan menorehkan berbagai rekor baru yang mencengangkan.
Kini, ia mengantongi 18 gol dari 18 laga Piala Dunia.
Hebatnya lagi, Mbappe saat ini hanya terpaut satu gol saja dari Lionel Messi dalam daftar pencetak gol terbanyak sepanjang masa Piala Dunia. Sebagai perbandingan, Messi membutuhkan hingga 29 pertandingan untuk bisa menyentuh angka tersebut.
Lebih mengerikan lagi, Mbappe telah mencetak 10 gol hanya dalam 9 pertandingan di babak gugur (knock-out)—catatan terbanyak dalam sejarah panjang Piala Dunia.
Lahir Hanya untuk Piala Dunia
Ada banyak striker hebat yang bisa mencetak segudang gol di fase grup, namun mendadak “menghilang” tanpa jejak ketika memasuki fase gugur yang krusial. Mbappe adalah anomali dari tren tersebut. Semakin besar tekanan yang ia terima, semakin mematikan instingnya di depan gawang.
Semakin dekat ia dengan trofi juara, semakin tahu ia cara membuat perbedaan.
Torehan sepuluh gol di fase knock-out mengartikan bahwa hampir separuh dari total gol Mbappe di Piala Dunia lahir dari laga-laga hidup-mati, di mana kekalahan berarti harus angkat koper. Ini adalah sebuah atribut langka yang hanya dimiliki oleh para legenda sepak bola sejati.
Menariknya, usia Mbappe baru menginjak 27 tahun. Jika Prancis mampu mempertahankan status mereka sebagai tim kandidat juara, Mbappe dipastikan masih bisa unjuk gigi di Piala Dunia 2030, atau bahkan hingga edisi 2034.
Dengan rasio mencetak gol yang hampir menyentuh satu gol per pertandingan seperti saat ini, masalah Mbappe melangkahi rekor Messi untuk menjadi pencetak gol tersubur sepanjang masa Piala Dunia tampaknya hanya tinggal menunggu waktu saja.
Lebih dari sekadar mengejar angka dan rekor, Piala Dunia adalah tempat di mana para legenda dilahirkan. Nama-nama besar seperti Pele, Diego Maradona, Ronaldo Nazario, hingga Zinedine Zidane selalu abadi dikenang berkat momen ikonik mereka di panggung terbesar ini.
Dan kini, Mbappe sedang berjalan dengan gagah di jalur yang sama.
Mbappe tidak mendominasi Piala Dunia lewat jumlah penampilan, melainkan lewat kualitas magis di setiap laga yang ia mainkan. Nyaris di setiap edisi Piala Dunia, selalu ada momen emas yang menyandang stempel nama Mbappe.
Mulai dari aksi solorun yang mengoyak pertahanan Argentina pada 2018, hat-trick historis di final 2022, hingga brace berdarah dingin ke gawang Swedia di Piala Dunia 2026.
Cristiano Ronaldo boleh memiliki Liga Champions. Lionel Messi memiliki Copa America dan trofi emas Piala Dunia sebagai penutup manis kariernya.
Namun bagi Mbappe, Piala Dunia adalah tempat yang mendefinisikan keseluruhan karier dan hidupnya. Ia bukan lagi sekadar bintang bagi timnas Prancis, melainkan sudah menjelma menjadi simbol utama dari turnamen terbesar di planet bumi ini.
Jadi, jika Ronaldo adalah “Mr. Champions League”, maka melihat apa yang telah dan sedang dilakukan oleh pemain ini, dunia sepak bola tampaknya harus mulai terbiasa dengan takhta baru yang disandang oleh Kylian Mbappe: Sang Mr. World Cup!
Scr/Mashable















