Setiap kali Piala Dunia digelar, publik Kolombia kembali mengenang salah satu peristiwa paling kelam dalam sejarah sepak bola, yakni tragedi Andres Escobar, bek Kolombia ditembak hingga tewas setelah Piala Dunia 1994.
Lebih dari tiga dekade berlalu, luka itu masih dirasakan oleh keluarga, sahabat, dan para mantan rekan setim yang mengenal sosoknya sebagai pribadi rendah hati dan penuh semangat.
Dikutip dari wawancara dengan EFE pada Rabu (08/07/2026), mantan pemain Atlético Nacional dan tim nasional Kolombia, Luis Alfonso “El Bendito” Fajardo, mengenang Andres Escobar sebagai sosok yang selalu membawa energi positif bagi orang-orang di sekitarnya.
“Saya mengenang Andres Escobar dengan penuh kasih sayang, rasa hormat, dan cinta. Dia seperti kakak bagi saya dan juga bagi semua orang. Andres adalah pribadi yang luar biasa. Kami bersama setiap hari dan saya tidak pernah melihatnya bangun dalam keadaan marah. Dia selalu membawa semangat positif,” ujar Fajardo.
Bagi Fajardo, Andres Escobar bukan hanya bek andalan Kolombia, tetapi juga pemain yang memiliki kualitas lengkap. Ia menyebut sahabatnya itu mampu membangun serangan dari lini belakang dengan teknik yang jarang dimiliki seorang bek tengah.
“Di posisi itu hampir tidak ada ruang untuk melakukan hal-hal mewah. Namun Andres bisa melakukannya seperti seorang pesulap. Semua orang mengira dia akan menyundul bola, tetapi dia justru mengontrolnya dengan dada, menurunkannya dengan tenang, lalu mencari rekan untuk mengalirkan bola,” kenangnya.
Saat itu, karier Andres Escobar sedang berada di puncak. Bek berjuluk “The Gentleman of Football” tersebut bahkan disebut-sebut hampir bergabung dengan AC Milan, yang sedang mempersiapkan regenerasi lini pertahanan seiring bertambahnya usia kapten legendaris Franco Baresi.
Namun, semuanya berubah setelah Kolombia gagal lolos dari fase grup Piala Dunia 1994. Dalam pertandingan melawan Amerika Serikat, Andres Escobar mencetak gol bunuh diri yang berujung pada kekalahan 1-2 dan membuat Kolombia tersingkir lebih awal dari turnamen.
Sejumlah rekan sebenarnya telah meminta Escobar agar tidak kembali ke Medellín sampai situasi mereda. Namun, ia memilih pulang ke kota kelahirannya untuk menghadapi keadaan. Keputusan itu berakhir tragis ketika bek Kolombia ditembak di luar sebuah klub malam pada 2 Juli 1994 setelah sempat mendapat hinaan terkait gol bunuh diri tersebut.
Fajardo masih mengingat jelas malam ketika menerima kabar duka itu.
“Itu sangat berat. Sekitar pukul empat pagi saya mendapat telepon dari Alexis García yang memberi tahu bahwa Andres telah meninggal,” katanya.
Ia juga mengungkapkan bahwa dirinya sempat menyarankan Andres Escobar agar tidak pergi ke tempat hiburan malam pada malam itu.
“Saya sempat mengajaknya pergi ke tempat lain saja. Kami sangat dekat, sering bersama, bahkan bersama pasangan masing-masing. Dia sudah bersiap untuk menikah. Sampai sekarang, saya masih sangat merindukannya,” ujar Fajardo.
Meski telah berlalu lebih dari 30 tahun, nama Andres Escobar tetap hidup dalam sejarah sepak bola Kolombia. Di Atlético Nacional, nomor punggung 2 yang pernah dikenakannya hanya diberikan kepada pemain yang dianggap layak meneruskan warisannya.
Sementara di Medellín, patung dan kompleks olahraga yang menggunakan namanya menjadi simbol penghormatan atas sosok yang dikenang bukan hanya sebagai pemain hebat, tetapi juga pribadi yang menjunjung tinggi sportivitas dan kemanusiaan.
Sumber foto cover: Wikipedia
Scr/Mashable














