Manajer legendaris Manchester United, Sir Alex Ferguson, dilaporkan melontarkan komentar miring yang menyindir Arsenal setelah klub asal Inggris tersebut dipaksa bertekuk lutut oleh Paris Saint-Germain (PSG) di laga final Liga Champions 2025/2026.
Pada partai puncak yang digelar di Budapest, Sabtu 30 Mei 2026 malam waktu setempat, Arsenal sebenarnya berpeluang besar mengukir sejarah untuk merengkuh trofi Si Kuping Besar pertama mereka. Sayangnya, impian anak asuh Mikel Arteta itu buyar setelah PSG berhasil menyamakan kedudukan menjadi 1-1, sebelum akhirnya takluk lewat drama adu penalti.
Media terkemuka Prancis, L’Equipe, mengklaim bahwa Sir Alex langsung mengirimkan pesan singkat untuk memberikan selamat kepada Presiden PSG, Nasser Al-Khelaifi, sesaat setelah laga usai. Sumber yang sama menyebutkan bahwa pria asal Skotlandia itu mencap Arsenal sebagai tim yang membosankan dan menilai The Gunners hanya bermain bertahan sepanjang pertandingan.
Jika rumor ini benar, komentar tersebut dipastikan bakal memicu kontroversi besar. Pasalnya, Arsenal baru saja menikmati musim yang luar biasa dengan menyabet gelar juara Premier League, mengakhiri puasa gelar liga domestik mereka selama lebih dari dua dekade.
Kendati demikian, kabar burung ini langsung ditepis oleh jurnalis sepak bola terkemuka, Ben Jacobs. Menurut laporannya, Sir Alex tidak pernah menggunakan kata “membosankan” untuk menggambarkan permainan Arsenal.
Jacobs mengklaim isi pesan asli pria berusia 84 tahun itu murni merupakan pujian untuk Les Parisiens.
“Kalian adalah tim yang memainkan sepak bola sejati,” demikian bunyi pesan Ferguson menurut klaim Jacobs.
Terlepas dari simpang siur pesan tersebut, gaya bermain Arsenal di final memang sedang menjadi sorotan tajam. Banyak pengamat dan rival menilai skuad besutan Mikel Arteta kini lebih mengutamakan pertahanan solid ketimbang permainan menyerang yang menghibur.
Hal itu pun tecermin jelas dari statistik di lapangan. Sepanjang laga final, Arsenal tercatat hanya memegang penguasaan bola di bawah 25 persen dan cuma mampu melepaskan satu tendangan tepat sasaran (shot on target).
Mikel Arteta sendiri tidak menampik bahwa timnya harus berbenah jika ingin rajin bertakhta di Eropa. Pasca-pertandingan, juru taktik asal Spanyol itu menegaskan bahwa Arsenal akan segera melakukan evaluasi total atas performa musim ini demi mengambil keputusan besar untuk mendongkrak level permainan tim musim depan.
Ketika Pragmatisme Mengkhianati Arsenal
Kalah menyakitkan dari PSG lewat drama adu penalti yang penuh spekulasi, Arsenal harus rela kembali gagal merengkuh trofi Liga Champions. Hasil ini terasa kian getir mengingat The Gunners baru saja mengukir rekor bersejarah di Budapest.
Stadion Puskas Arena di Budapest menjadi saksi dari salah satu skenario paling kejam dalam sejarah Liga Champions. Arsenal, tim yang memegang status tak terkalahkan sepanjang waktu normal di kompetisi musim ini, harus tertunduk lesu melihat Paris Saint-Germain mengangkat trofi Si Kuping Besar untuk kedua kalinya secara beruntun.
Kekalahan skuad asuhan Mikel Arteta dalam babak tos-tosan ini merupakan puncak dari sebuah ironi. Wakil London Utara tersebut sejatinya menyuguhkan performa bertahan yang nyaris sempurna, namun pada akhirnya harus tumbang akibat detail-detail kecil yang luput dari antisipasi.
Mikel Arteta, yang merupakan produk asli akademi La Masia, awalnya sangat diharapkan mampu membawa gaya main menyerang yang atraktif bagi Arsenal. Namun di Budapest, ia justru menyulap Arsenal menjadi sebuah “benteng pertahanan” kokoh yang masif.
Pendekatan ini lebih mengingatkan kita pada gaya sepak bola David Moyes atau bahkan Tony Pulis, ketimbang mentornya, Pep Guardiola.
Mengandalkan persentase penguasaan bola yang hanya menyentuh angka 24,7% dan formasi bertahan berlapis 4-4-2, The Gunners sebenarnya sempat sukses meredam agresivitas deretan bintang lini serang PSG seperti Ousmane Dembele dan Khvicha Kvaratskhelia di sebagian besar jalannya laga.
Sayangnya, taktik pragmatis ini harus dibayar dengan harga yang teramat mahal. Usai gol pembuka yang dicetak kilat oleh Kai Havertz pada menit ke-6, Arsenal tercatat tidak mampu melepaskan satu pun tembakan tepat sasaran (shot on target) selama 114 menit sisa pertandingan.
Ketika Arsenal memilih pasrah menyerahkan kendali permainan dan memaksa pemain kreatif seperti Martin Odegaard serta Bukayo Saka turun jauh ke belakang untuk bertahan, daya dobrak mereka otomatis lumpuh total. The Gunners mampu bertahan hidup berkat kedisiplinan, namun perlahan mereka “mati” karena kehabisan bensin secara fisik dan mental akibat terus-menerus digempur oleh raksasa Prancis tersebut.
Ada sebuah kebetulan yang terasa sangat menghantui antara tahun 2006 dan 2026. Dua puluh tahun lalu, Arsenal sempat unggul lebih dulu di final Liga Champions sebelum akhirnya kena comeback dan kalah.
Dua puluh tahun berselang, di hadapan Arsene Wenger yang menonton langsung dari tribune, kutukan serupa kembali terulang.
Wakil London Utara sebenarnya berstatus sebagai “raja bola mati” di kompetisi domestik musim ini. Namun ironisnya, justru situasi bola mati—lewat eksekusi penalti Dembele akibat pelanggaran bek muda Mosquera—yang membuyarkan keunggulan yang sudah dijaga mati-matian oleh anak asuh Arteta.
Kekejaman takdir mencapai puncaknya pada babak adu penalti. Gabriel Magalhaes, sosok yang menjadi pahlawan di jantung pertahanan taktik Arteta, justru maju sebagai eksekutor yang gagal menuntaskan tugasnya di momen krusial.
Arsenal memasuki lapangan dengan mentalitas tim yang mustahil dikalahkan. Namun, begitu dihadapkan pada ujian psikologis di titik putih 11 meter, Meriam London justru kehilangan ketenangan yang sangat mereka butuhkan.
Kegagalan Eberechi Eze dan Gabriel dalam mengesekusi penalti menghadapi kiper Matvey Safonov—yang bahkan tidak membuat satu pun penyelamatan berarti selama 120 menit laga berjalan—menjadi bukti sahih: Arsenal kalah oleh diri mereka sendiri sebelum musuh sempat menaklukkan mereka.
Arsenal meninggalkan Budapest dengan kepala tertunduk, meski mereka mencatatkan diri sebagai klub Inggris pertama yang meraup hadiah uang terbesar dalam sejarah Liga Champions berkat kampanye tak terkalahkan di waktu normal. Namun, deretan angka statistik yang megah itu sama sekali tidak bisa mengobati luka mendalam di hati para pendukung setia mereka.
Kegigihan tanpa henti dari Arteta memang berhasil membawa Arsenal selangkah lagi menuju kejayaan tertinggi. Namun untuk menjadi yang terbaik di Eropa, sekadar bermain tangguh terbukti belum cukup.
Kekalahan ini menyisakan sebuah pertanyaan besar: Apakah Arsenal bermain terlalu ketakutan? Menghadapi lini belakang PSG yang sebenarnya rapuh dan penuh celah, keputusan Arsenal untuk mundur terlalu dalam justru membuang kesempatan emas mereka untuk mengunci kemenangan lebih cepat.
Pelajaran pahit dari Budapest ini harus menjadi modal berharga bagi Arteta dan anak asuhnya. Mereka kini harus sadar bahwa dalam sepak bola, terkadang menyerang adalah cara bertahan terbaik untuk melindungi sebuah impian besar.
Scr/Mashable















