Sosok pelatih Thomas Tuchel yang berdiri di pinggir lapangan sambil memegangi kepalanya dengan penuh kecemasan, menjadi gambaran sempurna yang merangkum frustrasi Tim Nasional Inggris saat ditahan imbang 0-0 oleh Ghana.
Satu poin melawan wakil Afrika memang bukanlah sebuah bencana jika hanya melihat papan skor. Namun, cara bermain yang ditunjukkan oleh armada Three Lions telah mengguncang hebat keyakinan publik bahwa mereka adalah kandidat kuat juara Piala Dunia 2026.
Padahal, setelah kemenangan meyakinkan 4-2 atas Kroasia pada laga pembuka, para pendukung Inggris sudah telanjur bermimpi tentang turnamen yang berjalan mulus. Sayangnya, hasil imbang yang hambar baru-baru ini seolah menjadi guyuran air es yang langsung mematikan euforia tersebut.
Para pengamat pun mulai angkat bicara: dengan gaya main yang minim kreativitas dan buntu seperti ini, Inggris dinilai bakal kesulitan bersaing secara terbuka saat harus bentrok dengan tim-tim raksasa seperti Prancis, Spanyol, atau Argentina di fase gugur nanti.
Statistik setelah pertandingan sebenarnya mencerminkan sebuah ironi yang luar biasa. Inggris mendominasi penguasaan bola hingga 78,8 persen, melepaskan 633 operan (berbanding terbalik dengan Ghana yang hanya 173), dan melepaskan 19 tembakan.
Ini merupakan rekor penguasaan bola tertinggi dalam sejarah Piala Dunia bagi tim yang gagal mencetak gol. Namun, dominasi ini hanyalah angka mati yang tak berarti karena anak asuh Tuchel kekurangan keberanian dan momen magis untuk membongkar pertahanan super-rendah (low block) yang diterapkan oleh Carlos Queiroz.
Kritik tajam kini mulai mengarah pada keputusan Tuchel dalam pemilihan pemain. Juru taktik asal Jerman tersebut dinilai terlalu memprioritaskan kekuatan fisik dan gaya main pressing ala Premier League.
Akibatnya, ia justru meminggirkan para “seniman lapangan hijau” yang punya kemampuan mengubah arah permainan seperti Cole Palmer, Phil Foden, atau Morgan Gibbs-White. Ketika Noni Madueke dan Anthony Gordon benar-benar mati kutu di kedua sisi sayap, publik baru menyadari betapa Inggris merindukan sosok pembeda yang bisa memecah kebuntuan.
Bahkan, Inggris sebenarnya bisa saja pulang dengan kekalahan andai tidak mendapatkan “keberuntungan” dari wasit Said Martinez. Bek Inggris, Ezri Konsa, terhitung sangat beruntung terhindar dari hukuman penalti setelah kedapatan menjatuhkan Prince Kwabena Adu di dalam kotak terlarang pada babak kedua.
Menariknya, ini merupakan turnamen besar keempat secara beruntun di mana Inggris selalu bermain imbang 0-0 pada laga kedua fase grup. Hal ini tampaknya bukan lagi sebuah kebetulan, melainkan sudah menjadi “penyakit” psikologis.
Ketidakberanian dan hilangnya mentalitas membunuh saat menghadapi tim yang di atas kertas berada di bawah mereka—seperti Skotlandia, Amerika Serikat, Slovenia, dan kini Ghana—kini menjadi kerikil terbesar bagi ambisi Inggris untuk angkat trofi.
Thomas Tuchel sendiri mengakui bahwa dirinya sudah “memprediksi performa seperti ini akan terjadi”. Jika pengakuannya demikian, publik tentu berhak mempertanyakan: mengapa seorang pelatih kelas dunia dengan bayaran selangit gagal melakukan penyesuaian taktik yang cepat untuk mengubah keadaan di lapangan?
Pertandingan pamungkas grup melawan Panama nanti jelas bukan lagi laga santai untuk sekadar bongkar pasang atau eksperimen skuad. Inggris wajib menang, dan yang lebih penting, mereka harus menemukan kembali identitas menyerang mereka. Jika tidak, label sebagai “calon juara” layak dicopot dari pundak mereka.
Scr/Mashable















