Arsenal sedang aktif berburu amunisi baru untuk mendongkrak daya gedor sektor sayap mereka. Di tengah radar transfer, nama Christos Tzolis—winger andalan Club Brugge—mencuat sebagai target yang sangat realistis, baik dari segi kecocokan taktik maupun kalkulasi investasi.
Sektor sayap kiri Arsenal memang kerap menjadi bahan perdebatan hangat para pandit sepak bola terkait masalah konsistensi dan efektivitas performa. Hal inilah yang mendorong tim kepelatihan Mikel Arteta untuk menyuntikkan darah segar berkualitas pada bursa transfer kali ini.
Secara teknis dan nilai ekonomis, Tzolis membuktikan dirinya sebagai opsi yang masuk akal.
Performa meledak-ledak penyerang asal Yunani berusia 24 tahun ini bukan sekadar isapan jempol, melainkan terbukti lewat statistik kuantitatif yang luar biasa di Liga Belgia. Ia sukses membukukan 17 gol dan 23 assist hanya dalam 36 pertandingan.
Masuk Golongan Penyerang Elite
Mampu berkontribusi dalam terciptanya 40 gol dari posisi melebar menjadi bukti sahih bahwa Tzolis memiliki efisiensi serangan di level elite. Ketajaman ini pun tidak hanya jago kandang di liga domestik, melainkan sudah teruji di panggung seketat Liga Champions, di mana ia berhasil mengemas 2 gol dan 1 assist dari 9 penampilan.
Bagi manajemen Arsenal, nilai transfer yang dipatok di kisaran £30 juta hingga £36 juta (sekitar Rp714 miliar – Rp833 miliar) dinilai sangat masuk akal. Angka ini memberikan keuntungan finansial yang besar bagi Arsenal, ketimbang harus ikut dalam ‘perang harga’ berburu bintang mahal di lima liga top Eropa lainnya.
Fleksibilitas Taktik Mikel Arteta
Secara taktik, pemain kelahiran tahun 2002 ini merupakan tipe penyerang sayap modern (inverted winger). Ia gemar menusuk ke dalam dari sisi kiri untuk memaksimalkan kekuatan tendangan kaki kanan bagian dalamnya.
Sengatan utama pemain timnas Yunani ini terletak pada kemampuannya mengeksploitasi ruang kosong di antara bek sayap dan bek tengah lawan. Ditambah lagi, ia memiliki insting tajam untuk memotong masuk dan melepaskan tembakan di tiang jauh layaknya seorang striker bayangan (second striker).
Berbeda dengan pemain sayap konvensional, Tzolis menawarkan variasi serangan lewat umpan silang dini (early cross) yang akurat dari lini kedua, serta umpan tarik mematikan (cut-back) di dekat garis gawang. Kehadiran mantan pemain PAOK ini akan menjadi opsi rotasi yang mewah.
Ia siap bersaing sehat atau memecah kebuntuan bersama Gabriel Martinelli dan Leandro Trossard berkat keunggulan fisik dan kemampuan duel satu-lawan-satu yang mandiri.
Catatan Merah yang Wajib Diwaspadai
Kendati demikian, jurang perbedaan kualitas antara Liga Belgia dan Liga Inggris tetap menjadi ganjalan psikologis yang membuat Arsenal wajib berhati-hati. Pelajaran pahit masa lalu saat Tzolis membela Norwich City masih membekas nyata.
Saat itu, ia mencatatkan 0 gol dan 0 assist dari 14 laga, meski harus dicatat bahwa ia baru berusia 19 tahun dan bermain di tim yang terdegradasi.
Selain itu, kontribusi bertahannya masih menjadi pekerjaan rumah (PR) besar. Statistik tekel dan intersepnya berada di bawah rata-rata pemain sayap Premier League.
Ditambah lagi, rasio keberhasilan dribel satu-lawan-satunya hanya berada di angka rata-rata, yakni 48,8%.
Namun, dengan Tzolis yang kini mulai memasuki usia emas kariernya, keterbatasan tersebut diyakini bisa dikikis. Di bawah tangan dingin dan filosofi permainan berbasis penguasaan bola milik Mikel Arteta, Tzolis punya segala syarat untuk menjelma menjadi monster baru di Liga Inggris.
Scr/Mashable
















