Gol tunggal dari Luis Romo sudah cukup bagi tim nasional Meksiko untuk menumbangkan Korea Selatan dengan skor tipis 1-0. Kekalahan ini sekaligus menelanjangi permainan Taeguk Warriors yang tampil sangat buntu, monoton, dan tanpa gairah di panggung Piala Dunia 2026.
Berkat kemenangan minimalis 1-0 ini, Meksiko resmi mengunci tiket ke babak 32 besar dengan status sebagai juara Grup A. Meski sempat dihujani sorakan ejekan dari tribune penonton saat turun minum dan harus jatuh bangun menahan gempuran di masa injury time, sang tuan rumah Amerika Utara sukses menuntaskan misi mereka.
Gol penentu kemenangan dicetak oleh Luis Romo pada menit ke-50 memanfaatkan blunder fatal kiper Korea Selatan, Kim Seung-gyu. Namun, usai peluit panjang berbunyi di Stadion Guadalajara, sorotan utama publik justru tertuju pada gaya permainan Korea Selatan yang dinilai sukses membuat penonton ‘tertidur’.
Sepanjang laga, wakil Asia tersebut tampil sangat lesu dengan tempo permainan yang lambat secara tidak wajar. Alih-alih menunjukkan determinasi tinggi dan energi meledak-ledak yang menjadi ciri khas mereka, Son Heung-min dan kawan-kawan justru bermain seolah-olah tanpa motivasi untuk memenangkan pertandingan.Kelemahan paling mencolok terlihat justru setelah Korea Selatan kebobolan.
Bukannya menaikkan intensitas serangan untuk menyamakan kedudukan, armada Taeguk Warriors malah terus melakukan operan-operan horizontal tanpa arah di area tengah lapangan selama 35 menit berikutnya. Gaya bermain ini bahkan membuat mereka tampak seperti tim yang sedang unggul dan tengah mengulur waktu.
Korea Selatan baru terlihat panik dan mulai menaikkan tempo permainan di 15 menit terakhir pertandingan. Namun, statistik tidak bisa berbohong dan menunjukkan betapa frustrasinya lini serang mereka: tembakan tepat sasaran (shot on target) pertama Korea Selatan baru lahir di menit ke-88!
Semua taktik terlambat diterapkan. Kendati mendominasi penguasaan bola secara mutlak, anak asuh Korea Selatan gagal melepaskan umpan silang yang mematikan, tidak ada tusukan-tusukan kreatif, bahkan mereka tidak mendapatkan satu pun tendangan sudut hingga menit ke-92.
Laga pagi WIB itu tak ubahnya seperti sesi latihan penguasaan bola murni, di mana para pemain hanya mengalirkan bola aman demi menjaga persentase akurasi operan. Mandulnya lini serang Korea Selatan tentu mengundang tanya besar, mengingat skuad mereka dihuni oleh deretan bintang papan atas.
Apalagi, ini adalah penampilan ke-11 mereka secara beruntun di putaran final Piala Dunia dengan rekor tak terkalahkan yang impresif di fase kualifikasi. Sektor gelandang mereka bahkan dikomandoi oleh Lee Kang-in, playmaker yang mencatatkan lebih dari 120 penampilan bersama raksasa Prancis, Paris Saint-Germain.
Keputusan pelatih menarik keluar sang bintang utama, Son Heung-min, pada menit ke-56 juga menjadi buah bibir. Mantan penyerang Tottenham Hotspur tersebut memang tampil di bawah performa terbaiknya.
Namun, mengambinghitamkan satu individu di tengah mandeknya kolektivitas sistem permainan tim jelas merupakan penilaian yang tidak adil.
Di kubu lawan, Meksiko yang bertindak sebagai salah satu dari tiga tuan rumah memilih bermain pragmatis dan memaksimalkan setiap peluang sekecil apa pun. Selain gol cerdik Luis Romo, El Tri juga sempat mengancam lewat sepakan keras Raul Jimenez dan Obed Vargas.
Ketangguhan kiper Raul Rangel yang melakukan penyelamatan krusial di garis gawang saat menepis sundulan Cho Gue-sung di menit-menit akhir akhirnya sukses mengamankan tiga poin penuh bagi Meksiko.
Laga berakhir dengan pesta pora bagi publik Meksiko. Sebaliknya, bagi sepak bola Korea Selatan, kekalahan dan performa buruk ini adalah alarm peringatan yang sangat keras. Mereka pernah mengukir sejarah luar biasa saat menembus semifinal Piala Dunia 2002 di rumah sendiri, tetapi tidak pernah lagi melangkah lebih jauh dari babak 16 besar sejak saat itu.
Jika melihat permainan tanpa gairah seperti yang ditunjukkan di Guadalajara, langkah Korea Selatan untuk melaju jauh di Piala Dunia 2026 dipastikan akan menemui jalan buntu, kecuali jika mereka berani merombak total filosofi permainan mereka.
Scr/Mashable
















