Yasin Ayari dan Rekam Jejak Pemain Muslim di Timnas Swedia dalam Piala Dunia 2026

15.06.2026
Yasin Ayari dan Rekam Jejak Pemain Muslim di Timnas Swedia dalam Piala Dunia 2026
Yasin Ayari dan Rekam Jejak Pemain Muslim di Timnas Swedia dalam Piala Dunia 2026

Keberhasilan Swedia mengawali kiprahnya di Piala Dunia 2026 dengan kemenangan telak 5-1 atas Tunisia membuat sejumlah pemain mereka menjadi sorotan. Salah satu nama yang paling banyak dibicarakan adalah Yasin Ayari, gelandang muda yang mencetak dua gol dalam laga pembuka Grup F tersebut.

Penampilan impresif Ayari tidak hanya mengangkat peluang Swedia untuk melangkah jauh di turnamen, tetapi juga menarik perhatian karena latar belakang keluarganya yang berasal dari Tunisia. Selain Ayari, skuad Swedia di Piala Dunia 2026 juga memiliki pemain Muslim lain, yakni Taha Ali, winger keturunan Somalia yang saat ini memperkuat Malmö FF.

Kehadiran kedua pemain tersebut mencerminkan wajah sepak bola Swedia yang semakin beragam. Berikut rekam jejak Yasin Ayari dan Taha Ali, dua pemain Muslim yang menjadi bagian dari perjalanan Swedia di Piala Dunia 2026.

1. Yasin Ayari, Bintang Baru Swedia yang Bersinar di Piala Dunia 2026

Nama Yasin Ayari menjadi pembicaraan hangat setelah tampil gemilang saat Swedia menghancurkan Tunisia 5-1 pada pertandingan pertama Grup F Piala Dunia 2026.

Gelandang berusia 22 tahun itu mencetak dua gol yang membantu Swedia meraih tiga poin penting. Menariknya, lawan yang dihadapi merupakan negara asal keluarganya. Meski berhasil mencatatkan namanya di papan skor, Ayari memilih tidak melakukan selebrasi berlebihan sebagai bentuk penghormatan kepada akar keluarganya di Tunisia.

Ayari lahir di Solna, Swedia, pada 6 Oktober 2003. Ia merupakan putra dari keluarga keturunan Tunisia yang menetap di Swedia. Bakat sepak bolanya mulai berkembang ketika bergabung dengan akademi AIK Stockholm, salah satu klub terbesar di negara tersebut.

Performa apiknya bersama AIK membuat klub Liga Inggris, Brighton & Hove Albion, merekrutnya pada Januari 2023. Setelah sempat menjalani masa peminjaman di Coventry City dan Blackburn Rovers untuk mendapatkan menit bermain lebih banyak, Ayari perlahan berkembang menjadi salah satu gelandang muda paling menjanjikan yang dimiliki Swedia.

Musim 2025/2026 menjadi titik balik dalam kariernya. Ia mulai mendapatkan kepercayaan lebih besar di Brighton dan menunjukkan kemampuan sebagai gelandang box-to-box yang mampu membantu pertahanan sekaligus aktif menyerang.

Kemampuannya itu terlihat jelas saat membela Swedia di Piala Dunia 2026. Dua gol ke gawang Tunisia menjadi bukti bahwa Ayari bukan sekadar pelengkap skuad, melainkan salah satu motor permainan tim asuhan Graham Potter.

Kedekatan dengan Identitas Muslim dan Akar Tunisia

Yasin Ayari berasal dari keluarga Muslim Tunisia. Sebelum memutuskan membela Swedia, Federasi Sepak Bola Tunisia sempat berupaya membujuknya agar memperkuat tim nasional negara Afrika Utara tersebut.

Namun Ayari memilih Swedia, negara tempat ia lahir dan berkembang sebagai pesepak bola profesional.

Meski demikian, ia tidak pernah menjauh dari identitas keluarganya. Keputusan untuk tidak merayakan gol ke gawang Tunisia dalam laga Piala Dunia 2026 dipandang sebagai bentuk penghormatan terhadap tanah leluhurnya.

Sikap tersebut membuat namanya mendapatkan apresiasi dari banyak penggemar sepak bola, baik di Swedia maupun Tunisia.

2. Taha Ali, Anak Pengungsi Somalia yang Menembus Timnas Swedia

Pemain Muslim lainnya dalam skuad Swedia di Piala Dunia 2026 adalah Taha Ali.

Berbeda dengan Ayari yang berkembang melalui akademi elite, perjalanan karier Taha Ali jauh lebih berliku.

Ia lahir di Stockholm pada 1 Juli 1998 dari keluarga pengungsi Somalia yang datang ke Swedia akibat konflik berkepanjangan di negara asal mereka. Tumbuh di kawasan Tensta, Taha harus berjuang keras untuk mengejar impiannya menjadi pesepak bola profesional.

Kariernya dimulai dari klub-klub kecil di Swedia seperti Sundbybergs IK, IFK Stocksund, dan Sollentuna FK. Pada masa awal kariernya, ia bahkan sempat bekerja di luar dunia sepak bola untuk membantu memenuhi kebutuhan hidup sambil tetap berlatih.

Kesempatan besar datang ketika ia bergabung dengan Helsingborgs IF. Kecepatan, kemampuan menggiring bola, dan kreativitasnya di sisi lapangan membuat namanya mulai dikenal di kompetisi Swedia.

Penampilan konsisten bersama Helsingborgs membuka jalan menuju Malmö FF, klub tersukses dalam sejarah sepak bola Swedia. Bersama Malmö, Taha berkembang menjadi salah satu winger paling berbahaya di liga domestik.

Kerja kerasnya akhirnya membuahkan hasil ketika mendapat panggilan ke tim nasional Swedia. Menariknya, sebelum menembus timnas sepak bola senior, Taha terlebih dahulu pernah memperkuat tim nasional futsal Swedia.

Membawa Warisan Muslim Somalia ke Panggung Dunia

Taha Ali berasal dari keluarga Somalia yang mayoritas memeluk agama Islam. Meski jarang berbicara secara terbuka mengenai keyakinannya, latar belakang Muslim dan akar Somalia merupakan bagian penting dari identitas dirinya.

Bagi banyak komunitas diaspora Somalia di Eropa, keberhasilan Taha menembus tim nasional Swedia menjadi simbol keberhasilan generasi muda keturunan imigran yang mampu bersaing di level tertinggi.

Hingga pertandingan pertama Grup F melawan Tunisia, Taha Ali belum mendapatkan kesempatan bermain dari pelatih Graham Potter. Dalam kemenangan 5-1 tersebut, sang winger hanya menyaksikan rekan-rekannya dari bangku cadangan.

Namun peluangnya tampil masih terbuka lebar mengingat Swedia masih memiliki dua pertandingan penting melawan Belanda dan Jepang dalam persaingan Grup F Piala Dunia 2026.

Simbol Keberagaman Swedia di Piala Dunia 2026

Kisah Yasin Ayari dan Taha Ali menunjukkan bagaimana sepak bola Swedia berkembang menjadi representasi masyarakat yang semakin multikultural.

Ayari membawa warisan Tunisia, sementara Taha Ali memiliki akar Somalia. Keduanya tumbuh di Swedia dan berhasil mencapai panggung terbesar sepak bola dunia bersama negara yang membesarkan mereka.

Untuk saat ini, sorotan memang lebih banyak tertuju kepada Yasin Ayari setelah dua golnya membantu Swedia meraih kemenangan meyakinkan atas Tunisia pada laga pembuka Piala Dunia 2026. Namun perjalanan turnamen masih panjang, dan bukan tidak mungkin Taha Ali juga akan mendapatkan kesempatan untuk menunjukkan kemampuannya.

Jika Swedia mampu melangkah jauh di Piala Dunia 2026, kontribusi kedua pemain Muslim tersebut berpotensi menjadi salah satu cerita menarik yang akan terus dikenang dalam sejarah sepak bola negara Skandinavia itu.

Scr/Mashable





Don't Miss