Menkomdigi Siagakan 386 Posko Digital untuk Mudik 2026

18.02.2026
Menkomdigi Siagakan 386 Posko Digital untuk Mudik 2026
Menkomdigi Siagakan 386 Posko Digital untuk Mudik 2026

Pemerintah memastikan mudik Lebaran 2026 berjalan lebih aman dan lancar lewat pengamanan digital berskala nasional.

Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) menyiagakan 386 posko digital serta sistem monitoring terpadu untuk menjaga kualitas jaringan, keselamatan transportasi, hingga keamanan transaksi masyarakat selama Ramadan dan Idulfitri.

Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, menegaskan bahwa jaringan telekomunikasi menjadi fondasi utama mobilitas publik saat arus mudik meningkat tajam.

“Setiap Ramadan dan Idul Fitri, trafik telekomunikasi meningkat signifikan, terutama di jalur mudik, pusat transportasi, kawasan wisata, tempat ibadah, dan area residensial. Karena itu kesiapan infrastruktur digital harus terintegrasi dengan kesiapan transportasi dan keselamatan publik secara keseluruhan,” ujar Meutya Hafid dalam Rapat Koordinasi Lintas Kementerian di Kantor Kemenko PMK, Jakarta Pusat, Kamis (12/02/2026).

386 Posko Digital Siaga 24 Jam Selama Periode Mudik

Untuk periode siaga 15–29 Maret 2026, Kemkomdigi menyiapkan 386 posko yang tersebar di seluruh Indonesia. Rinciannya meliputi:

  • 5 posko utama nasional
  • Dukungan operator seluler dan gerai layanan
  • 35 Unit Pelaksana Teknis (UPT) di 35 provinsi

Seluruh posko akan bersiaga 24 jam guna memantau kualitas jaringan dan mendeteksi potensi gangguan komunikasi di jalur mudik, terminal, bandara, pelabuhan, hingga kawasan wisata.

Langkah ini dilakukan agar masyarakat tetap bisa menikmati koneksi stabil untuk navigasi digital, video call keluarga, hingga transaksi online selama perjalanan.

Dashboard Monitoring Real-Time untuk Cegah Bottleneck

Kemkomdigi juga mengoperasikan dashboard monitoring terpadu nasional yang mampu memantau:

  • Kepadatan arus kendaraan secara fisik
  • Kualitas sinyal seluler secara real-time
  • Lonjakan trafik data di titik tertentu

Data tersebut dikoordinasikan lintas kementerian dan lembaga untuk mendeteksi potensi bottleneck, baik pada jalur transportasi maupun jaringan komunikasi digital.

Berkaca pada periode Natal dan Tahun Baru 2025–2026, kualitas internet berhasil dijaga pada rata-rata 80 Mbps (unduh) dan 35–36 Mbps (unggah). Angka ini meningkat signifikan dibandingkan Lebaran 2025 yang berada di kisaran 44,75 Mbps (unduh) dan 24,43 Mbps (unggah).

“Target kami, masyarakat tetap bisa berkomunikasi dengan lancar, melakukan video call, mengakses peta digital, hingga transaksi daring tanpa hambatan berarti,” jelasnya.

Pengawasan Spektrum untuk Keselamatan Transportasi

Selain jaringan seluler, Kemkomdigi juga memperkuat pengawasan spektrum frekuensi demi menjaga keselamatan transportasi udara dan perkeretaapian, termasuk operasional kereta cepat Whoosh.

Pada periode libur sebelumnya sempat terjadi interferensi frekuensi yang berpotensi mengganggu operasional, namun berhasil ditangani dalam hitungan menit melalui koordinasi cepat di lapangan.

Langkah antisipatif ini penting mengingat frekuensi radio berperan vital dalam sistem navigasi dan komunikasi transportasi modern.

Waspada Fake BTS Saat Mudik

Tak hanya fokus pada jaringan, Kemkomdigi juga meningkatkan patroli siber untuk mencegah maraknya penipuan digital, khususnya melalui modus fake BTS.

Fake BTS adalah perangkat pemancar ilegal yang menyamar sebagai sinyal resmi operator untuk mengirim pesan penipuan ke ponsel masyarakat, biasanya di titik kemacetan.

“Fake BTS biasanya beroperasi secara mobile, menggunakan kendaraan box dengan perangkat pemancar dan baterai besar. Mereka menyasar wilayah padat seperti titik kemacetan. Masyarakat perlu waspada terhadap pesan mencurigakan yang mengatasnamakan lembaga resmi,” tegas Meutya.

Masyarakat diimbau untuk tidak mudah mengklik tautan mencurigakan atau membagikan data pribadi saat menerima pesan yang tidak jelas sumbernya.

Layanan Darurat 112 Tetap Aktif

Sebagai bagian dari pengamanan publik, layanan darurat 112 dipastikan tetap aktif selama periode mudik. Layanan ini menjadi akses cepat bagi masyarakat yang membutuhkan bantuan darurat di berbagai daerah.

Selain itu, mitigasi risiko kemacetan jaringan dilakukan melalui optimalisasi kapasitas serta rekayasa trafik data di wilayah dengan potensi lonjakan penggunaan internet tertinggi.

Langkah ini menunjukkan bahwa infrastruktur telekomunikasi kini menjadi bagian tak terpisahkan dari sistem keselamatan publik nasional.

Scr/Mashable




Don't Miss