Industri smartphone global tampaknya sedang bersiap menghadapi pergeseran standar daya tahan perangkat yang lebih ekstrem.
Laporan terbaru dari informan industri ternama di Weibo, Digital Chat Station (DCS), mengungkapkan bahwa Vivo tengah melakukan pengujian intensif terhadap perangkat prototipe yang dibekali baterai berkapasitas fantastis.
Tidak tanggung-tanggung, ponsel ini dilaporkan mengusung kapasitas terukur sebesar 10.000mAh, namun nilai tipikal atau kapasitas nyatanya diprediksi bisa menyentuh angka 11.000mAh hingga 12.000mAh.
Dikutip dari Gizmochina, Rabu (25/2/2026), jika proyek ini lolos dari tahap pengujian dan masuk ke meja produksi, Vivo akan mencetak sejarah baru dalam menghadirkan perangkat dengan daya tahan yang sebelumnya hanya bisa ditemukan pada kategori tablet atau power bank.
Rahasia di balik kapasitas jumbo ini terletak pada penggunaan teknologi baterai silikon sel tunggal 4,53V yang lebih padat energi namun tetap mempertahankan dimensi yang masuk akal bagi pengguna.
Tren peningkatan kapasitas baterai ini memang sedang melanda produsen teknologi asal Tiongkok dalam beberapa tahun terakhir, di mana standar minimal 5.000mAh kini mulai dianggap usang.
Beberapa kompetitor seperti Honor dan Realme bahkan telah lebih dulu memperkenalkan perangkat dengan daya serupa, memicu persaingan ketat untuk menjawab keresahan pengguna akan ketergantungan pada pengisian daya harian yang dianggap kurang efisien di tengah mobilitas tinggi.
Gelombang tren baterai monster ini juga tidak hanya melibatkan Vivo, karena raksasa teknologi lainnya seperti Xiaomi dikabarkan sedang menyusun rencana serupa untuk meluncurkan perangkat dengan fitur daya melimpah namun tetap mengedepankan fungsionalitas lengkap.
Meski saat ini statusnya masih dalam tahap perencanaan awal, pergerakan Xiaomi ini menunjukkan bahwa pasar smartphone masa depan akan sangat berfokus pada ketahanan energi.
Di sisi lain, untuk lini flagship utama tahun ini, Vivo diprediksi masih akan bermain di angka yang lebih moderat, sementara sub-merek mereka yang berfokus pada performa, yaitu iQOO, digadang-gadang akan menjadi kandidat kuat untuk pertama kali mencicipi kapasitas baterai hingga 9.000mAh.
Kehadiran inovasi ini tentu membawa angin segar bagi para pengguna yang lelah dengan dilema pengisian daya berulang kali dalam sehari. Namun, sebagai informasi yang masih bersifat bocoran dari tahap pengujian, publik diharapkan bersabar karena pengembangan teknologi baterai berskala besar memerlukan waktu yang tidak sebentar untuk memastikan keamanan dan manajemen panas yang optimal.
Masa depan di mana kita bisa menggunakan ponsel selama berhari-hari dalam sekali pengisian daya bukan lagi sekadar impian, melainkan realitas teknologi yang sedang dimatangkan oleh para pemimpin industri saat ini.
Keberanian Vivo dalam mengeksplorasi batas kapasitas baterai ini mencerminkan ambisi industri untuk terus relevan dengan gaya hidup digital yang semakin kompleks.
Dengan pengujian yang masih berjalan, tahun 2026 diprediksi akan menjadi tahun pembuktian bagi Vivo apakah mereka mampu mengintegrasikan baterai sebesar itu ke dalam desain ponsel yang tetap nyaman digenggam.
Evolusi ini tidak hanya akan mengubah kebiasaan pengguna dalam mengisi daya, tetapi juga berpotensi menggeser cara produsen lain dalam merancang arsitektur perangkat keras mereka guna mendukung ekosistem digital yang lebih tahan lama dan berkelanjutan.
Scr/Mashable
















