Sejarah Kelam 92 Tahun: Real Madrid ‘Zonk’ di Skuad Spanyol untuk Piala Dunia 2026

29.05.2026
Sejarah Kelam 92 Tahun: Real Madrid 'Zonk' di Skuad Spanyol untuk Piala Dunia 2026
Sejarah Kelam 92 Tahun: Real Madrid 'Zonk' di Skuad Spanyol untuk Piala Dunia 2026

Untuk pertama kalinya sejak tahun 1934, Real Madrid mencatatkan sejarah kelam dengan tidak menyumbang satu pun wakilnya di skuad Tim Nasional Spanyol (La Roja) untuk ajang Piala Dunia. Realitas pahit ini menjadi tamparan keras bagi imperium raksasa yang dipimpin oleh Presiden Florentino Perez.

Sepanjang sejarah panjang kejayaannya, Real Madrid selalu dipandang sebagai tulang punggung utama Timnas Spanyol. Namun, saat pelatih Luis de la Fuente merilis daftar final 26 pemain yang dibawa ke Piala Dunia 2026 pada Senin lalu, sebuah rekor buruk resmi tercipta.

Setelah melewati 17 edisi Piala Dunia, kali ini La Roja akan berangkat tanpa satu pun penggawa yang bermarkas di Santiago Bernabeu.

Pukulan telak ini terasa kian getir bagi publik ibu kota ketika menengok sang rival abadi, Barcelona, yang justru mendominasi dengan menyumbang banyak pemain ke dalam skuad. Klub-klub domestik lain seperti Atletico Madrid dan Real Sociedad, hingga tim-tim dari Premier League Inggris, Ligue 1 Prancis, dan Bundesliga Jerman, masih memiliki perwakilan yang dipanggil.

Lantas, apa yang menyebabkan hilangnya taji sang “Si Putih” secara total di level tim nasional?

Kemerosotan Individu dan Investasi “Zonk”

Pemain Madrid yang sebenarnya paling dekat untuk mengamankan tiket ke Piala Dunia adalah Dean Huijsen (21 tahun). Setahun lalu, bek muda ini hampir pasti mengisi pos lini pertahanan utama berkat performa impresifnya bersama Bournemouth.

Namun, sejak pindah ke Real Madrid dengan mahar fantastis 50 juta poundsterling, penampilannya justru merosot tajam. Ia pun kehilangan kepercayaan di mata De la Fuente dan posisinya digusur oleh Pau Cubarsi (Barcelona) serta Marc Pubill (Atletico Madrid).

Nasib serupa menimpa Alvaro Carreras. Bek kiri yang ditebus senilai 50 juta euro dari Benfica ini menjalani musim perdana yang sangat berat dan penuh inkonsistensi.

Sementara itu, bek veteran Dani Carvajal, yang menjabat sebagai wakil kapten saat Spanyol juara Euro 2024, kini kehilangan tempat akibat badai cedera serta penurunan fisik yang drastis, bahkan ia dirumorkan bakal hengkang musim panas ini. Nama-nama lokal lain seperti Fran Garcia hingga bek muda Raul Asencio juga perlahan mulai terlupakan dari radar tim nasional.

Sejatinya, Real Madrid sempat menyusun proyek jangka panjang untuk membangun fondasi pemain lokal muda Spanyol di bawah asuhan pelatih Xabi Alonso. Namun, proyek tersebut hancur lebur yang berujung pada pemecatan Alonso pada Januari lalu untuk digantikan oleh Alvaro Arbeloa.

Krisis ini tidak hanya menghantam pemain lokal. Hancurnya sistem permainan Madrid musim ini bahkan turut menyeret performa bintang-bintang asing mereka seperti Trent Alexander-Arnold (Inggris), Eduardo Camavinga (Prancis), hingga talenta muda Franco Mastantuono (Argentina), yang ikut-ikutan kehilangan kesempatan membela negara mereka di Piala Dunia.

Kontras dengan keterpurukan internal Madrid, cerita berbanding terbalik dialami oleh Victor Munoz. Penyerang berusia 22 tahun ini dijual oleh Madrid ke Osasuna musim panas lalu setelah hanya diberi kesempatan bermain selama 47 menit di tim utama.

Di klub barunya, Munoz meledak dengan torehan 7 gol dan 5 asis, langsung mencetak gol pada laga debutnya bersama Timnas Spanyol, dan kini melenggang gagah mengamankan tiket menuju Piala Dunia.

Putusnya Tradisi dan Komoditas Politik

Jika menengok ke belakang, kejayaan emas Spanyol saat merengkuh trofi Piala Dunia 2010 merupakan kombinasi sempurna antara keindahan gaya bermain Catalunya (Xavi, Iniesta, Puyol) dan ketangguhan mental baja Castilla (Casillas, Ramos, Alonso, Arbeloa). Meskipun jumlah pemain Madrid di timnas terus menyusut dari tahun ke tahun—dari 6 pemain di 2018 menjadi hanya 2 pemain di 2022, bahkan sempat absen di Euro 2020—angka “nol besar” di Piala Dunia kali ini tetap menjadi alarm bahaya yang nyata bagi klub.

Meski pelatih De la Fuente menegaskan bahwa dirinya bersikap objektif dan tidak peduli dari klub mana pemain berasal, absennya pemain Real Madrid ini langsung digoreng menjadi komoditas politik.

Enrique Riquelme, kandidat kuat yang menantang posisi Florentino Perez dalam pemilu darurat Presiden Real Madrid, langsung melontarkan kritik tajam: “Skuad Timnas Spanyol saat ini justru dipenuhi oleh pemain dari rival abadi kita. Kami berjanji akan mengubah total kebijakan ini dan mengembalikan pemain-pemain hebat Madrid ke tempat yang semestinya di tim nasional.”

Real Madrid tentu akan tetap diwakili di Piala Dunia 2026 melalui bintang-bintang global mereka seperti Kylian Mbappe, Vinicius Junior, hingga Jude Bellingham yang membela negara masing-masing. Namun, bagi para Madridista lokal yang memiliki nasionalisme Spanyol yang kuat, melihat papan turnamen terbesar di dunia tanpa adanya “orang rumah” adalah pil pahit yang sangat sulit ditelan—melengkapi musim yang berakhir tanpa gelar (trophyless) dan penuh dengan kekecewaan.

Scr/Mashable





Don't Miss