Perubahan iklim global kembali menunjukkan dampak nyata di wilayah paling dingin di Bumi. Studi ilmiah terbaru mengungkap bahwa sebagian lapisan es di Antartika mulai kehilangan stabilitasnya.
Bahkan, dalam beberapa wilayah tertentu, garis batas es yang menempel pada daratan dilaporkan telah mundur hingga puluhan kilometer selama tiga dekade terakhir.
Dilansir dari Notebookcheck (06/03/26), pemuan ini berasal dari penelitian yang dilakukan para ilmuwan dari University of California yang menganalisis data satelit selama lebih dari 30 tahun.
Hasil penelitian tersebut kemudian dipublikasikan dalam jurnal ilmiah bergengsi Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS).
Penelitian ini memberikan gambaran baru mengenai kondisi lapisan es Antartika yang selama ini menjadi salah satu indikator penting dalam memantau perubahan iklim dan kenaikan permukaan laut global.
Lapisan Es Antartika Mundur Puluhan Kilometer
Dalam studi tersebut, para peneliti fokus pada perubahan yang terjadi pada grounding line, yaitu batas antara es yang menempel di daratan dengan es yang mulai mengapung di atas laut. Posisi garis ini sangat penting karena menjadi penanda stabilitas lapisan es.
Hasil analisis menunjukkan bahwa beberapa wilayah di Antartika Barat, khususnya di sekitar kawasan Amundsen Sea, mengalami perubahan signifikan. Sejak awal 1990-an, grounding line di beberapa area telah mundur hingga sekitar 42 kilometer ke arah daratan.
Secara keseluruhan, penelitian ini menemukan bahwa Antartika kehilangan sekitar 12.800 kilometer persegi es yang sebelumnya menempel di daratan antara tahun 1996 hingga 2025. Luas tersebut hampir setara dengan setengah wilayah negara Belgia.
Mundurnya garis grounding line ini menandakan bahwa lapisan es mulai kehilangan “pegangan” pada dasar batuan di bawahnya. Ketika hal tersebut terjadi, es lebih mudah bergerak menuju laut dan akhirnya mencair.
Air Laut Hangat Jadi Penyebab Utama
Para ilmuwan menyebut bahwa salah satu penyebab utama fenomena ini adalah meningkatnya suhu air laut di sekitar Antartika. Arus laut hangat yang dikenal sebagai Circumpolar Deep Water mengalir di bawah lapisan es terapung dan secara perlahan melelehkan es dari bagian bawah.
Proses pencairan dari bawah ini membuat lapisan es menjadi semakin tipis. Ketika es menipis, kekuatannya untuk tetap menempel pada batuan dasar pun berkurang. Akibatnya, garis grounding line bergeser semakin ke dalam daratan.
Fenomena ini menjadi perhatian para peneliti karena berpotensi mempercepat hilangnya massa es Antartika. Jika proses ini terus berlanjut, dampaknya dapat memicu peningkatan permukaan air laut secara global.
Namun demikian, penelitian tersebut juga mencatat bahwa sebagian besar wilayah pesisir Antartika masih relatif stabil. Sekitar 77 persen garis pantai Antartika dilaporkan belum menunjukkan perubahan signifikan.
Meski begitu, para ilmuwan tetap mengingatkan bahwa perubahan kecil yang terjadi saat ini dapat berkembang menjadi masalah besar di masa depan.
Peran Satelit dalam Memantau Perubahan Antartika
Untuk memantau perubahan lapisan es secara akurat, para peneliti memanfaatkan data dari misi satelit Copernicus Sentinel-1 yang dioperasikan oleh European Space Agency.
Satelit ini menggunakan teknologi radar yang mampu menembus awan dan tetap bekerja bahkan dalam kondisi gelap. Kemampuan tersebut membuatnya sangat efektif untuk memantau wilayah kutub yang sering tertutup awan dan mengalami malam panjang selama musim dingin.
Melalui data radar satelit tersebut, para ilmuwan dapat melacak perubahan posisi grounding line secara detail dari waktu ke waktu. Teknologi ini juga membantu memberikan gambaran lebih jelas mengenai bagaimana perubahan iklim memengaruhi kawasan kutub.
Penelitian ini sekaligus menjadi pengingat bahwa Antartika memainkan peran penting dalam keseimbangan iklim global. Jika stabilitas lapisan es di benua tersebut terus melemah, dampaknya tidak hanya dirasakan di wilayah kutub, tetapi juga oleh masyarakat di seluruh dunia melalui kenaikan permukaan laut.
Sumber foto: Wikipedia
Scr/Mashable



















