Pelatih Como, Cesc Fabregas mengkonfirmasi bahwa anak asuhnya menimbulkan banyak kesulitan bagi Inter Milan meskipun kalah dari pemimpin klasemen liga dengan skor 3-4 dalam lanjutan Serie A 2025/2026, Senin 13 April 2026 dini hari WIB.
Pertandingan di stadion Sinigaglia berlangsung dalam skenario yang luar biasa. Tim Como asuhan Cesc Fabregas memulai laga dengan sempurna, unggul 2-0 atas pemimpin klasemen Inter Milan berkat gol dari Alex Valle dan Nico Paz.
Namun, ketahanan para kandidat juara muncul di saat yang tepat. Inter Milan menunjukkan ketajaman yang luar biasa dengan menghukum setiap kesalahan lawan mereka. Di babak kedua yang eksplosif, dua gol dari Marcus Thuram dan Denzel Dumfries membantu “Nerazzurri” membalikkan keadaan dan unggul 4-2.
Upaya Como di menit-menit akhir hanya menghasilkan gol hiburan, memperkecil selisih menjadi 3-4, yang dicetak oleh Lucas Da Cunha dari titik penalti.
Meskipun kalah, pelatih Cesc Fabregas tetap memberikan pujian tulus kepada para pemainnya. Dalam sebuah wawancara dengan DAZN, ia menyatakan:
“Saya bahkan tidak tahu posisi tim saat ini di klasemen karena saya belum mengeceknya sejak awal musim. Para pemain saya sekali lagi membuktikan keberanian dan antusiasme mereka . Terlepas dari kekalahan, kami tetap menunjukkan identitas dan karakter kami sendiri .”
Pakar strategi asal Spanyol itu mengakui kerasnya Serie A: “Memang benar kami melakukan kesalahan, tetapi Como adalah tim muda. Ketika Anda menghadapi lawan besar, mereka akan langsung menghukum Anda atas setiap kelengahan konsentrasi. Namun, saya suka melihat statistiknya. Tidak banyak tim yang bisa melepaskan 20 tembakan ke gawang Inter seperti yang kami lakukan.”
Sedangkan untuk Inter Milan, dengan Napoli ditahan imbang 1-1 oleh Parma, selisih poin antara “Nerazzurri” dan tim Antonio Conte melebar menjadi 9 poin di klasemen Serie A.
4 Poin Penting dari Kemenangan Comeback Inter Melawan Como
Bangkit dari ketertinggalan untuk mengalahkan Como 4-3 setelah tertinggal dua gol, Inter Milan menegaskan dominasinya. Kemenangan ini membuat “Nerazzurri” mengumpulkan 9 poin, membawa mereka lebih dekat ke gelar Scudetto ke-21 yang bersejarah.
Pertandingan di Stadion Giuseppe Sinigaglia merupakan bukti nyata kekuatan kandidat utama peraih gelar Scudetto. Meskipun tertinggal dua gol, Inter Milan melakukan comeback dramatis untuk mengalahkan Como 4-3 , menunjukkan ketahanan tim hebat di saat-saat paling menantang.
Dengan hasil imbang 1-1 melawan Parma, Napoli memperlebar jarak antara “Nerazzurri” dan tim asuhan Antonio Conte menjadi 9 poin di klasemen Serie A.
1. Titik balik psikologis pada menit “emas” 45+1
Alasan pertama dan terpenting bagi kebangkitan Inter adalah gol Marcus Thuram tepat sebelum berakhirnya babak pertama. Saat para penggemar Como bergembira dengan keunggulan 2-0, tendangan voli striker Prancis itu, yang memperkecil selisih menjadi 2-1, benar-benar mengubah dinamika psikologis pertandingan.
Gol ini tidak hanya memadamkan antusiasme tim tuan rumah tetapi juga memberi para pemain Inter keyakinan kuat untuk melakukan comeback menjelang jeda babak pertama.
2. Memanfaatkan kelemahan lawan di babak kedua secara maksimal.
Inter Milan menunjukkan analisis permainan yang tajam dengan melancarkan serangan habis-habisan di awal babak kedua. Statistik menunjukkan bahwa Como adalah tim yang paling banyak kebobolan gol di Serie A dalam 15 menit pertama babak kedua, dan Inter menghukum kelemahan ini dengan telak.
Hanya dalam 14 menit (dari menit ke-49 hingga ke-72), “Nerazzurri” mencetak tiga gol beruntun berkat penampilan gemilang Marcus Thuram dan terutama Denzel Dumfries. Kemampuan mereka untuk memanfaatkan formasi lawan yang tidak stabil memungkinkan Inter untuk dengan cepat membalikkan keadaan.
3. Kecemerlangan individu-individu luar biasa
Pada hari ketika lini pertahanan bermain agak longgar, serangan Inter mengimbanginya dengan efisiensi yang luar biasa. Baik Thuram maupun Dumfries tampil sangat mengesankan.
Dumfries, yang hanya mencetak satu gol sejak awal musim, mencetak dua gol berkat pergerakannya yang bertenaga dan penempatan posisinya yang cerdas. Selain itu, visi taktis Calhanoglu dan Barella dalam menciptakan peluang memberikan ancaman serangan jarak jauh, yang benar-benar mengacaukan pertahanan Como.
4. Semangat “menang dengan cara yang tidak indah” dan DNA seorang juara
Di menit-menit terakhir, ketika Como melancarkan serangan besar-besaran dan menghasilkan metrik expected goals (xG) sebesar 2,79, Inter menunjukkan kualitas seorang juara: mengetahui cara melindungi keunggulan mereka.
Meskipun harus bertahan dengan membelakangi tekanan yang mencekik, konsentrasi kiper Sommer dan semangat pantang menyerah dari lini pertahanan membantu Inter bertahan dengan kokoh. Kemampuan mereka untuk menahan tekanan dan menang bahkan ketika tidak bermain dalam performa terbaik adalah alasan mengapa Inter saat ini unggul 9 poin dari tim peringkat kedua.
Scr/Mashable















