Tenis Rebut Takhta Mewah dari Sepak Bola

26.05.2026
Tenis Rebut Takhta Mewah dari Sepak Bola
Tenis Rebut Takhta Mewah dari Sepak Bola

Generasi baru petenis profesional sedang membawa olahraga tenis semakin dekat dengan dunia mode mewah. Para rumah mode besar pun gencar hadir di pinggir lapangan untuk mendekati segmen konsumen muda yang kaya dan berpengaruh.

Kehadiran tas Gucci Paparazzo baru di tangan petenis nomor satu dunia Aryna Sabalenka pada Italian Open bulan Mei lalu menjadi bukti nyata bahwa mode mewah semakin merasuk ke dunia tenis profesional.

Gucci sebenarnya sudah mengejar tren ini jauh sebelum Sabalenka menjadi duta merek pada Januari lalu. Pada Juli 2022, rumah mode asal Italia itu menandatangani kontrak dengan Jannik Sinner—sekitar satu setengah tahun sebelum petenis Italia tersebut meraih gelar Grand Slam pertamanya.

Setahun kemudian, Sinner kembali mencuri perhatian di Wimbledon saat membawa tas monogram Gucci saat memasuki lapangan. Foto tersebut langsung viral karena kontras dengan aturan ketat pakaian serba putih di turnamen tersebut. Roland-Garros tahun ini pun diprediksi akan menyajikan lebih banyak kolaborasi serupa.

Sebelumnya, Louis Vuitton sempat bekerja sama dengan Naomi Osaka, meski hubungan itu kini telah berakhir. Namun, justru Gucci bersama Sinner yang menciptakan terobosan nyata, mendekatkan dunia mode mewah ke tenis profesional, seperti dikutip Financial Times.

Bahasa Mode yang Sama

Setelah Gucci, banyak merek mewah lain ikut meramaikan. Louis Vuitton menjalin kerja sama dengan Carlos Alcaraz, rival utama Sinner. Dior menggandeng Zheng Qinwen, salah satu atlet paling terkenal di China.

Burberry memilih Jack Draper, sementara Miu Miu meluncurkan koleksi tenis bersama Coco Gauff dan New Balance sebelum menandatangani kontrak dengan petenis muda Amerika itu. Bottega Veneta juga ikut serta dengan Lorenzo Musetti, petenis Italia yang tampil seperti model.

“Banyak merek yang kini menuai keuntungan dari popularitas tenis yang terus meningkat. Tapi Gucci sudah terhubung dengan olahraga ini sejak era 1970-an, saat kami meluncurkan sepatu Tennis 1977,” ujar Dario Gargiulo, Direktur Pelanggan, Pemasaran, dan Komersial Gucci.

Hubungan antara mode mewah dan tenis memang sudah lama terjalin. Lacoste dan Ralph Lauren bertahun-tahun memanfaatkan citra elegan dan lifestyle tenis melalui Grand Slam seperti Roland-Garros, US Open, dan Wimbledon. Lacoste bahkan secara rutin mendesain pakaian untuk petenis profesional.

Rolex juga sangat erat dengan tenis sejak menjadi mitra waktu resmi Wimbledon tahun 1978, kemudian memperluas ke tiga Grand Slam lainnya. Merek jam tangan Swiss itu kini mendukung bintang-bintang seperti Roger Federer, Carlos Alcaraz, dan Iga Świątek.

Menurut Gargiulo, tenis dan mode mewah memiliki “bahasa” yang sama: “Tenis menuntut kesempurnaan dan keanggunan di setiap momen.”

Tenis Jadi Fenomena Global

Dalam beberapa tahun terakhir, tenis melampaui sekadar olahraga dan menjadi hiburan global. Menurut Asosiasi Tenis Amerika, jumlah pemain tenis di negara itu naik 1,6 juta orang sepanjang 2025, atau naik 54 persen dibanding 2019.

Tennis Channel mencatat rekor penonton tertinggi sepanjang sejarah di Indian Wells tahun ini (naik 39 persen), sementara langganan tahunan melonjak 150 persen.

Daya tarik tenis juga terlihat dari jumlah penonton yang memadati stadion. Grand Slam kini kerap disamakan dengan festival Coachella karena dipenuhi selebriti, influencer, dan pecinta mode.

Australian Open tahun ini memecahkan rekor dengan 1,3 juta penonton yang datang ke Melbourne Park selama tiga minggu.

Di saat yang sama, industri mode melihat olahraga sebagai saluran penting untuk menjangkau generasi konsumen baru.

“Dulu rumah mode mewah agak ragu dengan olahraga karena sulit menemukan kesamaan estetika. Tapi sekarang, grup besar seperti LVMH dan Kering melihat perpaduan fashion dan olahraga sebagai arah penting industri mewah,” kata Jo Taylor, mantan eksekutif Nike yang kini memimpin firma konsultan Glow Inc.

Taylor menambahkan, tenis menawarkan kemewahan dan kehalusan yang tidak dimiliki banyak cabang olahraga lain.

Sepak Bola Kehilangan Mahkota Mewah?

Sementara tenis sedang naik daun di kalangan luxury brands, sepak bola yang selama ini dianggap sebagai “raja” olahraga dengan nilai komersial tertinggi tampak kehilangan posisi eksklusif di segmen mewah. Dulu, bintang sepak bola mendominasi endorsement merek-merek besar, tapi kini petenis muda seperti Sinner, Alcaraz, dan Gauff lebih cepat menjadi ikon gaya hidup mewah.

Nike dan Adidas memang masih kuat di sepak bola, tapi di tenis mereka lebih fokus ke pasar massal. Ruang itu dimanfaatkan merek mewah untuk mendefinisikan ulang citra tenis—elegan, eksklusif, tapi tetap bisa menjangkau audiens luas.

“Tenis memang punya sifat selektif, tapi ia tetap olahraga global. Yang saya suka adalah kemampuannya menghubungkan berbagai kelompok penonton, dari Wimbledon hingga Miami dan Flushing Meadows,” ungkap Gargiulo.

Masa Depan “Luxury Sportswear”

Kolaborasi Miu Miu, New Balance, dan Coco Gauff menjadi contoh sempurna. Petenis Gen Z ini memiliki jutaan pengikut berkat konten autentik di media sosial.

Penampilan Gauff dengan desain kedua merek di turnamen Masters 1000 membantu Miu Miu menarik konsumen muda sekaligus memperluas komunitas penggemar.

“Atlet saat ini bukan hanya dilihat dari prestasi, tapi juga sebagai ikon gaya,” kata Chris Davis, Presiden dan Direktur Pemasaran New Balance.

Gucci sendiri selalu menyesuaikan kerja sama dengan kepribadian atlet. Sinner yang pendiam dan kalem kontras dengan Sabalenka yang ekspresif dan aktif sebagai fashion influencer di media sosial.

Kini, merek mewah tak hanya melirik petenis, tapi juga pasangan mereka (WAGs), influencer, dan seluruh ekosistem di sekitar turnamen. Citra WAG pun berubah—mereka kini punya platform dan proyek sendiri.

Hasilnya, tenis menjadi bagian dari percakapan mode dan gaya hidup di internet, sesuatu yang hampir tidak ada satu dekade lalu.

Menurut Jo Taylor, yang dikejar merek mewah adalah masa depan “luxury sportswear” atau “fan wear”. Bukan hanya tas yang dibawa Sabalenka ke lapangan, melainkan seluruh gaya hidup di sekitar tenis.

Contoh sukses seperti kolaborasi Naomi Osaka dengan Nike dan Ambush yang laris manis menunjukkan potensi besar perpaduan fashion, kepribadian atlet, dan budaya penggemar.

Jika tren ini berlanjut, lapangan tenis di masa depan bisa menjadi “catwalk” baru bagi industri mode mewah. Sementara sepak bola tetap raja popularitas massa, tenis sedang merebut mahkota di ranah kemewahan dan gaya.

Scr/Mashable





Don't Miss