Di tengah melambatnya industri teknologi global dan fenomena “tech winter” yang membuat banyak startup memilih bertahan dengan strategi bootstrapping, peluang investasi di sektor startup Indonesia ternyata belum sepenuhnya surut.
Di balik kondisi pasar yang lebih berhati-hati, masih ada optimisme bahwa perusahaan rintisan berkualitas akan terus lahir dan berkembang.
Hal itu disampaikan angel investor Elisabeth Kurniawan yang menilai bahwa fondasi bisnis dan kualitas pendiri perusahaan kini menjadi faktor paling menentukan dibanding sekadar mengejar pertumbuhan agresif.
Menurut Elisabeth, lanskap investasi startup saat ini mengalami perubahan besar dibanding beberapa tahun lalu ketika pasar begitu terobsesi pada pertumbuhan cepat. Kini, investor mulai mengalihkan fokus kepada keberlanjutan bisnis, profitabilitas, serta kemampuan startup mempertahankan pelanggan mereka.
“Founder pada akhirnya adalah segalanya. Perusahaan akan melalui berbagai fase, tetapi founder yang kuat merupakan hal paling fundamental. Ketangguhan, kegigihan, dan optimisme dalam mengendalikan perusahaan di tengah ketidakpastian sangat penting,” ujar Elisabeth.
Ia menilai bahwa banyak perusahaan rintisan gagal bukan karena ide bisnisnya buruk, melainkan karena para pendirinya tidak mampu beradaptasi ketika kondisi pasar berubah. Dalam dunia startup yang sangat dinamis, fleksibilitas menjadi salah satu kualitas yang wajib dimiliki founder.
“Terkadang apa yang diproyeksikan dalam bisnis bisa berubah, sehingga kemampuan untuk tetap fleksibel dalam menjalankannya menjadi faktor utama,” katanya.
Pandangan Elisabeth mencerminkan realitas industri startup Asia Tenggara saat ini. Setelah bertahun-tahun dibanjiri pendanaan besar dengan ekspektasi pertumbuhan tinggi, banyak startup kini menghadapi tekanan untuk membuktikan bahwa model bisnis mereka benar-benar sehat.
Investor tidak lagi hanya melihat angka pertumbuhan pengguna atau valuasi fantastis, tetapi juga mempertimbangkan bagaimana perusahaan mampu menghasilkan keuntungan secara konsisten.
Bagi Elisabeth, model bisnis dan masalah yang diselesaikan startup menjadi aspek penting dalam menentukan keputusan investasi. Ia menekankan bahwa setiap perusahaan pasti memiliki tantangan, tetapi tidak semua masalah bisa diselesaikan hanya dengan tambahan modal.
“Setiap perusahaan pasti memiliki masalah, tetapi ada masalah yang bisa diselesaikan dan ada yang tidak. Masalah yang bisa diselesaikan biasanya dapat diatasi dengan tambahan modal,” ungkapnya.
Ia memberikan contoh mengenai startup yang mengalami lonjakan permintaan pasar sehingga membutuhkan dukungan modal untuk mempercepat distribusi dan memenuhi inventaris. Menurutnya, kondisi seperti itu justru menunjukkan model bisnis yang telah terbukti.
“Misalnya, permintaan pasar yang membutuhkan pemenuhan inventaris, kebutuhan distribusi produk yang cepat, atau stok barang yang meningkat karena adanya demand. Situasi seperti ini membutuhkan dukungan modal, dan saya melihatnya sebagai area investasi yang baik karena model bisnisnya sudah terbukti,” jelas Elisabeth.
Meski peluang investasi masih terbuka, Elisabeth mengakui bahwa investor kini jauh lebih selektif. Kondisi itu dipicu oleh perubahan ekspektasi pasar terhadap startup. Jika sebelumnya perusahaan rintisan dituntut tumbuh sangat cepat, kini keberlanjutan bisnis menjadi perhatian utama.
“Investor masih berhati-hati karena adanya fluktuasi akibat ekspektasi pertumbuhan ekstrem pada gelombang startup sebelumnya. Saat itu startup dituntut tumbuh 10–20 kali lipat per tahun,” katanya.
Sebagai mantan operator dan founder, Elisabeth memahami tekanan besar yang dihadapi startup ketika dipaksa tumbuh terlalu cepat. Menurutnya, pertumbuhan agresif sering kali membuat biaya operasional membengkak dan mengorbankan kesehatan bisnis jangka panjang.
“Startup harus bertumbuh sekitar 20–30 persen secara compounding setiap bulan. Sebagai mantan operator dan founder, saya tahu kondisi itu membuat biaya operasional melonjak sangat besar,” tuturnya.
Ia menggambarkan situasi tersebut dengan analogi yang cukup menarik. “Bayangkan ada Ferrari bermesin V10 yang tiba-tiba harus mengerem di tengah tikungan. Kurang lebih seperti itu analoginya,” ujar Elisabeth.
Di tengah perubahan pasar itu, Elisabeth memilih pendekatan investasi yang lebih konservatif. Ia melihat peluang besar justru datang dari sektor consumer goods dan direct-to-consumer (D2C), khususnya untuk pasar menengah ke atas di Indonesia.
“Menurut pandangan dan tesis pribadi saya, sektor yang menarik adalah D2C, produk konsumen, dan consumer goods untuk pasar menengah ke atas,” katanya.
Ia menilai daya beli masyarakat di segmen tersebut terus meningkat secara stabil, sehingga membuka ruang pertumbuhan bisnis yang lebih sehat dibanding mengejar pasar massal dengan persaingan ketat dan margin tipis.
“Saya pribadi tidak terlalu fokus pada pasar massal karena saya melihat masih ada ruang pertumbuhan yang besar di segmen ini, terutama karena daya belanja dan disposable income di pasar tersebut terus meningkat secara stabil,” lanjut Elisabeth.
Bagi startup yang ingin bertahan di 2026, Elisabeth memiliki satu pesan penting: jangan hanya mengejar ekspansi. Ia percaya mempertahankan pelanggan lama jauh lebih penting dibanding sekadar mencari pengguna baru.
“Fokuslah pada pelanggan yang sudah ada, tingkatkan retensi dan loyalitas mereka, daripada hanya berfokus pada ekspansi pertumbuhan,” ujarnya.
Pandangan Elisabeth menunjukkan bahwa ekosistem startup Indonesia kini mulai bergerak menuju fase yang lebih matang. Pertumbuhan cepat memang masih penting, tetapi keberlanjutan bisnis, loyalitas pelanggan, dan profitabilitas menjadi fondasi baru yang semakin diperhatikan investor.
Di tengah ketidakpastian ekonomi global, pendekatan yang lebih realistis dan sehat tampaknya akan menjadi kunci utama bagi startup untuk tetap bertahan dan berkembang.
Scr/Mashable


















