Sensasi tenis dunia asal Rusia, Mirra Andreeva, resmi mengukir sejarah baru. Ia sukses menjadi petenis putri termuda keempat yang berhasil menembus babak final tunggal putri Prancis Terbuka (Roland Garros) dalam kurun waktu 30 tahun terakhir setelah mencatatkan kemenangan fantastis di Paris.
Petenis remaja tersebut tampil memukau dan melindas perlawanan Marta Kostyuk dengan skor meyakinkan 6-1, 6-3 pada laga semifinal yang digelar Kamis, 4 Juni 2026 waktu setempat. Hasil ini sekaligus mengantarkan Andreeva ke babak final Grand Slam pertama sepanjang karier profesionalnya.
Meski Andreeva kini telah menginjak usia 19 tahun, skala pencapaian masif ini akan jauh lebih terasa jika menengok kembali sejarah panjang turnamen legendaris ini. Sejak tahun 1996, tercatat hanya ada tiga nama besar yang mampu mencapai final tunggal putri Roland Garros dalam usia yang lebih muda darinya, yaitu Martina Hingis, Kim Clijsters, dan Coco Gauff.
Menembus Rekor Elite Para Legenda
Andreeva lahir pada tanggal 29 April 2007. Artinya, ia tepat berusia 19 tahun 36 hari saat mengamankan tiket final Prancis Terbuka pada 4 Juni 2026.
Berdasarkan jadwal resmi Roland Garros, ia akan menginjak usia 19 tahun 38 hari saat melakoni partai puncak perebutan gelar juara pada hari Sabtu besok.
Catatan usia tersebut menempatkannya tepat di belakang Hingis, Clijsters, dan Gauff dalam jajaran finalis termuda di Paris sejak tiga dekade lalu:
Martina Hingis baru berusia 16 tahun ketika menembus final musim 1997, sebelum akhirnya kalah dari Iva Majoli.
Kim Clijsters mencapai final tahun 2001 pada usia 17 tahun, dan berulang tahun ke-18 sesaat sebelum ditumbangkan oleh Jennifer Capriati.
Coco Gauff berusia 18 tahun saat pertama kali mencicipi ketatnya laga final Grand Slam di Roland Garros pada tahun 2022 lalu.
Kini, Andreeva resmi bergabung dalam kelompok elite tersebut lewat performa luar biasa yang menjadikannya salah satu finalis putri termuda dalam sejarah modern Prancis Terbuka.
Tampil Dominan, Hancurkan Rekor Kemenangan Kostyuk
Statistik usia muda memang menjadi tajuk utama di berbagai media, namun performa klinis Andreeva di atas lapangan saat menghadapi Kostyuk memberi pembuktian yang jauh lebih berbobot. Petenis Rusia ini hanya membutuhkan waktu 76 menit untuk menyudahi perlawanan Kostyuk dengan kemenangan straight set 6-1, 6-3.
Hasil ini terbilang sangat mengejutkan mengingat Kostyuk datang ke Paris dengan status salah satu pemain paling on-fire sepanjang musim lapangan tanah liat (clay-court) tahun ini. Kostyuk mengantongi rekor 17 kemenangan beruntun di lapangan tanah liat sebelum laga ini, sementara Andreeva sendiri telah mengoleksi 21 kemenangan clay-court serta 35 kemenangan total di semua permukaan sepanjang musim 2026.
Selain itu, Andreeva juga berhasil membalikkan rekor buruk pertemuannya dengan Kostyuk. Sebelumnya, petenis Ukraina tersebut sukses menyapu bersih kemenangan dua set langsung dalam dua duel terakhir mereka tahun ini.
Namun kali ini, Andreeva memegang kendali penuh. Ia bermain sangat rapi, menekan jumlah kesalahan sendiri (unforced errors), mampu keluar dari tekanan di awal setiap set, serta dengan cepat mematikan momentum kebangkitan Kostyuk di set kedua sebelum keadaan berbalik.
Keperkasaan Andreeva di Roland Garros tahun ini tercermin jelas dari statistiknya: ia baru kehilangan satu set saja dari total enam pertandingan di Paris dan hanya memberikan 32 gim kepada lawan-lawannya dalam perjalanan menuju final.
Tetap Fokus di Tengah Tensi Geopolitik
Sisi non-teknis di luar lapangan juga tak luput dari perhatian publik pada laga semifinal ini. Kostyuk, yang selama ini vokal menyuarakan penolakannya terhadap perang Rusia di Ukraina, memilih untuk tidak melakukan sesi foto bersama sebelum pertandingan dan menolak bersalaman (handshake) dengan Andreeva setelah laga usai.
Menanggapi hal tersebut, Andreeva memilih untuk tetap berkepala dingin dan menjaga fokusnya hanya pada urusan tenis. Usai laga, ia mengakui sempat merasa gugup namun mencoba untuk menerima segala situasi yang terjadi di lapangan dan terus berjuang.
Sikap dewasa tersebut tercermin langsung lewat performa hebatnya. Andreeva telah menorehkan milestone langka di Roland Garros, dan laga final hari Sabtu esok membuka peluang emas baginya untuk mengubah status “finalis termuda” menjadi gelar juara Grand Slam pertamanya.
Scr/Mashable
















