Kasus pencurian kabel telekomunikasi ternyata bukan hanya menjadi persoalan di Indonesia. Negara maju seperti Amerika Serikat pun kini menghadapi ancaman serupa, bahkan dalam skala yang semakin mengkhawatirkan.
Maraknya pencurian kabel tembaga, pemotongan jaringan fiber optik, hingga vandalisme terhadap infrastruktur telekomunikasi memaksa para operator besar di Negeri Paman Sam bersatu menghadapi ancaman yang kian terorganisir.
Tiga operator telekomunikasi terbesar di Amerika, yakni AT&T, T-Mobile, dan Verizon, kini bergandengan tangan dengan perusahaan kabel besar untuk melawan aksi kriminal tersebut. Padahal, ketiganya selama ini dikenal sebagai rival sengit di industri telekomunikasi. Namun meningkatnya serangan terhadap jaringan membuat persaingan bisnis untuk sementara dikesampingkan demi menjaga stabilitas layanan komunikasi nasional.
Fenomena ini menunjukkan bahwa pencurian kabel bukan lagi sekadar aksi kriminal kecil yang hanya merugikan perusahaan operator. Di era digital seperti sekarang, kerusakan jaringan telekomunikasi bisa berdampak luas terhadap masyarakat.
Gangguan layanan internet dan komunikasi dapat melumpuhkan aktivitas bisnis, transaksi perbankan, layanan rumah sakit, hingga komunikasi darurat yang digunakan aparat keamanan dan tim penyelamat.
Untuk menghadapi ancaman ini, para operator di AS bergabung dalam inisiatif STRIKE (Strategic Threat Response & Infrastructure Knowledge Exchange) yang dipelopori NCTA – The Internet & Television Association dan SCTE.
Program ini dibentuk untuk memperkuat koordinasi antaroperator, berbagi intelijen, serta mendorong penegakan hukum yang lebih tegas terhadap pelaku pencurian dan vandalisme jaringan.
Data terbaru menunjukkan situasi di Amerika sudah berada di level mengkhawatirkan. Sepanjang 2025, tercatat sekitar 18.327 insiden pencurian dan vandalisme jaringan, atau rata-rata 50 kejadian per hari. Angka ini melonjak 59 persen dibanding tahun sebelumnya. Lebih dari 11,8 juta pelanggan terdampak akibat gangguan tersebut.
Kerugian yang ditimbulkan pun sangat besar. Selain biaya penggantian kabel dan perangkat yang rusak, gangguan jaringan menyebabkan kerugian sosial-ekonomi yang diperkirakan mencapai US$294 juta hingga US$1,47 miliar. Dampaknya tidak hanya dirasakan operator, tetapi juga masyarakat luas yang semakin bergantung pada konektivitas digital.
Kondisi ini sebenarnya cukup relevan dengan situasi di Indonesia. Kasus pencurian kabel, terutama kabel tembaga, juga kerap terjadi di berbagai daerah dan menyebabkan gangguan layanan internet maupun telekomunikasi. Di Indonesia, pencurian kabel umumnya dipicu oleh nilai jual logam tembaga yang tinggi di pasar barang bekas. Pelaku sering membongkar kabel bawah tanah atau infrastruktur jaringan untuk dijual kembali.
Baik di Indonesia maupun Amerika Serikat, akar masalahnya hampir sama: nilai ekonomis material kabel yang tinggi serta lemahnya pengawasan di titik-titik rawan. Bedanya, di Amerika skala serangan kini disebut lebih terorganisir dan mulai mengarah pada ancaman terhadap infrastruktur kritikal nasional.
Melihat kondisi tersebut, banyak operator kini mempercepat transisi dari kabel tembaga menuju fiber optik dan teknologi wireless. Selain menawarkan kapasitas lebih besar dan kecepatan lebih tinggi, fiber juga dianggap lebih sulit dimonetisasi oleh pelaku pencurian karena tidak memiliki nilai jual logam setinggi tembaga.
Scr/Mashable




















