Kisah Serena Williams Kembali Guncang Rumput Wimbledon di Usia 44 Tahun

30.06.2026
Kisah Serena Williams Kembali Guncang Rumput Wimbledon di Usia 44 Tahun
Kisah Serena Williams Kembali Guncang Rumput Wimbledon di Usia 44 Tahun

Bagi seorang Serena Williams, segalanya telah berubah, namun di saat yang sama, tidak ada yang berubah saat ia menginjakkan kaki kembali di Wimbledon.

Ia bukan lagi wanita yang sama seperti saat berjalan keluar dari Centre Court empat tahun lalu setelah kekalahan menyakitkan dari Harmony Tan. Sejak memutuskan menjauh dan kini akhirnya kembali ke dunia tenis, hidupnya telah berputar hebat.

Serena kini telah melahirkan putri keduanya, ikut mendirikan tim sepak bola wanita (NWSL), hingga tampil menari di panggung megah Super Bowl.

Beberapa wajah yang berlatih di sampingnya kini sudah berganti. Bahkan, beberapa sudut area turnamen pun telah bersolek, sampai-sampai Serena sempat tersesat saat hendak menuju ke pusat media Wimbledon.

Pada hari Selasa ini, legenda hidup berusia 44 tahun tersebut dijadwalkan bertanding melawan Maya Joint, petenis yang berusia 24 tahun lebih muda darinya. Laga ini akan menjadi pertandingan ketiga di Centre Court, sekaligus menandai berakhirnya masa penantian selama 1.396 hari sejak terakhir kali ia bertanding di sektor tunggal.

Tidak ada yang tahu pasti bagaimana jalannya pertandingan nanti. Namun bagi sang legenda Amerika Serikat, sekadar bisa berdiri kembali di atas lapangan sudah merupakan sebuah kemenangan besar.

“Transisi kembali ke sini terasa sangat mudah. Saya kembali menempati rumah yang sudah saya tinggali selama beberapa tahun terakhir,” ungkap Serena dalam wawancara eksklusif bersama Clare Balding di BBC TV.

“Tidak ada hal yang terlalu baru, tetapi pada saat yang sama, semuanya terasa baru. Perubahan itu bagus.”

“Bagi saya, kesuksesan saat ini adalah sekadar bisa berjalan keluar ke lapangan itu. Saya tidak pernah menyangka bisa berada di sini lagi. Sukses bagi saya adalah menikmati permainan, disiplin, dan setia pada strategi yang diberikan pelatih—itulah yang sedang saya coba lakukan.”

Mengapa Wimbledon Menjadi Tempat yang Sempurna?

Nama Williams bersaudara—yang juga akan kembali berduet di sektor ganda—sudah sangat melekat dan identik dengan Wimbledon.

Selama periode 19 tahun, setidaknya ada satu nama Williams yang berhasil menembus babak final tunggal putri di SW19 (kode pos Wimbledon), kecuali dalam empat edisi saja. Total, mereka mengoleksi 12 gelar juara tunggal Wimbledon antara tahun 2000 hingga 2016; 7 gelar milik Serena dan 5 gelar milik sang kakak, Venus.

Sang kakak memenangkannya lebih dulu, namun sang adik mengoleksi gelar lebih banyak.Saat berduet, mereka sangat dominan dengan raihan enam gelar ganda putri bersama.

Namun saat harus saling berhadapan, laga mereka selalu menyedot perhatian—dua petenis yang sudah saling menghafal gaya permainan satu sama lain sejak tahun-tahun melelahkan di lapangan latihan Compton, California.

Jika Anda membayangkan Williams bersaudara, Anda akan langsung mengingat mereka dalam balutan pakaian serba putih khas Wimbledon, bergerak lincah di lapangan rumput, melepaskan servis dengan gerakan yang indah, dipadukan dengan atletis, kekuatan, serta sentuhan magis di depan net.

Serena sendiri mengakui, tidak setiap hari panitia Wimbledon memberikan fasilitas wildcard kepada seseorang.

“Saya mungkin hanya bisa menyebutkan segelintir orang yang bisa mendapatkannya. Dan kebetulan, saya adalah salah satu dari mereka,” katanya.

“Saya berpikir, ‘Saya benar-benar harus mengambil kesempatan ini’. Siapa yang tahu apakah saya akan bisa kembali ke sini lagi? Ini bisa jadi yang terakhir.”

“Saya sempat membatin, ‘Ada apa denganmu, Serena? Apa yang kamu pikirkan? Apakah kamu sudah gila?’ Tapi di sisi lain, saya memiliki kesempatan luar biasa ini untuk menunjukkan apa yang paling baik saya lakukan.”

Aura Sang Legenda Melawan Faktor Usia

Pertanyaan besar kini membayangi: Apakah faktor usia dan segala konsekuensinya—seperti pergerakan yang sedikit melambat di sudut lapangan atau keharusan menghemat energi saat durasi pertandingan semakin panjang—akan menjadi batu sandungan yang terlalu berat untuk dilewati?

Atau justru auranya, sebuah perasaan magis dari seorang “Serena Williams”, sudah lebih dari cukup untuk membawanya lolos dari rintangan babak pertama?

David Quayle, mitra latih (hitting partner) asal Inggris yang membantu Serena bersiap untuk sektor ganda di Queen’s awal Juni lalu, mengaku tidak bisa menyembunyikan rasa gugupnya saat berada di dekat Serena.

“Rasanya aneh melihat seseorang yang biasanya hanya bisa Anda saksikan servisnya di TV selama bertahun-tahun, lalu tiba-tiba servis mematikan itu mengarah langsung ke Anda,” ujar Quayle kepada BBC Sport.

“Anda akan terjebak antara mengagumi pukulannya atau fokus untuk mengembalikan bola. Dia memiliki aura semacam itu. Saya mulai terbiasa melihatnya di seberang net, tetapi setiap hari bersamanya selalu terasa istimewa.”

Scr/Mashable





Don't Miss