Rivalitas Inggris dan Argentina dibangun oleh lebih dari sekadar gol serta kemenangan. Sejumlah pertemuan mereka justru dikenang karena pengusiran kontroversial, dugaan diving, kekerasan, provokasi, dan keputusan wasit yang mengubah jalannya pertandingan.
Seandainya teknologi Video Assistant Referee sudah digunakan sejak dekade 1960-an, beberapa momen bersejarah mungkin berakhir berbeda. Gol Tangan Tuhan Diego Maradona hampir pasti dibatalkan, tetapi tidak semua kontroversi dapat diselesaikan hanya melalui tayangan ulang.
VAR hanya dapat turun tangan dalam empat situasi utama, yakni proses gol, keputusan penalti, kartu merah langsung, dan kesalahan identitas pemain. Teknologi tersebut membantu wasit melihat kejadian, tetapi keputusan akhir tetap berada di tangan manusia.
Menjelang pertemuan Inggris dan Argentina pada semifinal Piala Dunia 2026, Kamis (16/07/2026) sejarah kontroversi kedua negara kembali menjadi perhatian. Reuters menilai rivalitas ini telah dibentuk oleh luka olahraga, politik, dan keinginan membalas kekalahan masa lalu.
Inggris vs Argentina Diperiksa VAR pada Piala Dunia 1966
Kontroversi besar pertama terjadi pada perempat final Piala Dunia 1966 di Wembley. Kapten Argentina, Antonio Rattín, diusir wasit asal Jerman Rudolf Kreitlein setelah dianggap terus melancarkan protes.
Rattín meminta penerjemah karena tidak memahami alasan dirinya dikeluarkan. Ketika itu kartu merah belum digunakan, sehingga keputusan hanya disampaikan melalui isyarat dan perintah langsung dari wasit.
Kapten Argentina tersebut menolak pergi selama sekitar sepuluh menit. Petugas keamanan akhirnya mengawalnya keluar setelah pertandingan terhenti cukup lama.
Apabila memakai aturan modern, VAR bisa memeriksa keputusan itu jika Rattín menerima kartu merah langsung karena menggunakan bahasa kasar atau melakukan tindakan agresif. Namun, tayangan video tidak otomatis dapat membuktikan kata-kata yang diucapkan pemain.
VAR juga tidak dirancang untuk menilai setiap bentuk protes atau kartu kuning. Karena itu, keputusan terhadap Rattín mungkin tetap bertahan apabila wasit menyatakan telah mendengar ucapan menghina atau melihat tindakan serius.
Masalahnya, rekaman pertandingan memperlihatkan proses komunikasi yang sangat buruk. Dalam pertandingan modern, wasit kemungkinan akan meminta bantuan ofisial keempat atau penerjemah sebelum mengambil keputusan sebesar itu.
Simulasi keputusan VAR: kartu merah kemungkinan tetap berlaku jika terdapat bukti ucapan menghina. Tanpa bukti audio atau tindakan kekerasan, wasit berpeluang diminta meninjau kembali keputusannya.
Penalti Mario Kempes pada 1974 Bisa Dibatalkan
Pertandingan persahabatan di Wembley pada 1974 menghasilkan kontroversi yang sering terlupakan. Inggris sempat memimpin 2-0 sebelum Mario Kempes mencetak dua gol dan menyelamatkan Argentina dari kekalahan.
Gol kedua Kempes tercipta dari penalti menjelang pertandingan berakhir. Wasit Argentina, Arturo Iturralde, menunjuk titik putih setelah Kempes terjatuh akibat tekel kapten Inggris, Emlyn Hughes.
Laporan The Guardian dalam materi yang menjadi dasar artikel ini menggambarkan Hughes terlihat melakukan tekel cukup bersih. Kempes dianggap menjatuhkan tubuhnya secara dramatis hingga meyakinkan wasit memberikan penalti.
Dengan VAR, rekaman akan diperiksa untuk mengetahui apakah Hughes lebih dahulu menyentuh bola, mengenai kaki lawan, atau melakukan keduanya secara bersamaan. Sudut kamera tambahan menjadi penentu dalam kasus tersebut.
Apabila Hughes merebut bola tanpa melakukan kontak pelanggaran, wasit akan disarankan melihat monitor di pinggir lapangan. Penalti bisa dibatalkan dan permainan dilanjutkan melalui bola jatuh atau tendangan bebas tidak langsung, tergantung situasinya.
Kempes juga berpotensi menerima kartu kuning apabila terbukti sengaja melakukan simulasi. Namun, hukuman diving hanya dapat diberikan ketika tayangan menunjukkan secara jelas bahwa tidak ada kontak yang menyebabkan pemain terjatuh.
Simulasi keputusan VAR: peluang terbesar adalah penalti dibatalkan karena tekel Hughes terlihat mengenai bola. Kempes dapat menerima kartu kuning apabila gerakannya dinilai sebagai simulasi yang disengaja.
Pukulan Daniel Bertoni pada 1977 Berujung Kartu Merah
Pertandingan persahabatan tahun 1977 di La Bombonera mempertemukan Daniel Bertoni dan Trevor Cherry dalam insiden keras. Cherry melakukan tekel dari belakang, kemudian Bertoni bangkit dan memukul wajah bek Inggris tersebut.
Pukulan itu menyebabkan dua gigi depan Cherry lepas. Wasit akhirnya mengusir kedua pemain, menjadikan Cherry sebagai pemain Inggris pertama yang menerima kartu merah dalam pertandingan persahabatan internasional.
Dalam pertandingan modern, VAR akan memeriksa dua tindakan secara terpisah. Tekel Cherry dapat dikategorikan sebagai permainan kasar serius apabila menggunakan tenaga berlebihan atau membahayakan keselamatan lawan.
Pukulan Bertoni hampir pasti menghasilkan kartu merah langsung karena termasuk tindakan kekerasan. Reaksi tersebut tidak dapat dibenarkan meskipun terjadi setelah pelanggaran keras.
VAR juga dapat membantu wasit memastikan siapa yang memulai keributan dan apakah pemain lain terlibat. Dengan banyak sudut kamera, kemungkinan ada hukuman tambahan setelah pertandingan.
Simulasi keputusan VAR: kartu merah untuk Bertoni tetap diberikan. Cherry juga kemungkinan diusir apabila tekelnya terbukti dilakukan dari belakang dengan tenaga berlebihan.
Tangan Tuhan Maradona Pasti Dianulir VAR
Tidak ada insiden Inggris melawan Argentina yang lebih terkenal daripada gol Tangan Tuhan pada perempat final Piala Dunia 1986. Maradona menggunakan tangan kirinya untuk mengarahkan bola melewati kiper Peter Shilton.
Wasit Ali Bin Nasser tidak melihat pelanggaran tersebut dan mengesahkan gol Argentina. Para pemain Inggris langsung melakukan protes, tetapi keputusan tidak dapat diubah karena belum tersedia teknologi tayangan ulang.
Dengan VAR, proses pemeriksaan hanya membutuhkan waktu singkat. Rekaman memperlihatkan secara jelas bahwa tangan Maradona menyentuh bola sebelum masuk ke gawang.
Gol tersebut pasti dibatalkan karena tercipta melalui pelanggaran handball yang disengaja. Inggris akan mendapatkan tendangan bebas langsung dari lokasi pelanggaran.
Maradona juga kemungkinan menerima kartu kuning karena sengaja mencoba mencetak gol dengan tangan. Hukuman kartu merah tidak tepat karena tindakannya tidak menggagalkan gol lawan atau termasuk kekerasan.
Empat menit kemudian, Maradona mencetak gol melalui aksi individu dari wilayah sendiri. Gol yang dikenal sebagai Goal of the Century itu tetap sah karena tidak ditemukan pelanggaran dalam prosesnya.
FIFA mencatat Maradona melewati sejumlah pemain Inggris sebelum menaklukkan Shilton. Argentina akhirnya menang 2-1, tetapi tanpa gol Tangan Tuhan, pertandingan secara teoritis akan berakhir 1-1 dalam waktu normal.
Simulasi keputusan VAR: gol pertama Maradona dibatalkan dan ia mendapat kartu kuning. Gol keduanya tetap sah, sedangkan pertandingan berpotensi berlanjut menuju perpanjangan waktu.
Apakah Hasil Piala Dunia 1986 Akan Berubah?
Membatalkan gol Tangan Tuhan tidak otomatis membuat Inggris memenangkan pertandingan. Maradona tetap mencetak gol kedua, sementara Gary Lineker menyamakan kedudukan melalui sundulan pada menit-menit akhir.
Dalam simulasi sederhana, skor waktu normal menjadi 1-1. Inggris dan Argentina harus menjalani perpanjangan waktu, bahkan mungkin adu penalti apabila tidak ada gol tambahan.
Perubahan itu dapat memengaruhi sejarah sepak bola dunia. Argentina mungkin gagal menjadi juara, sedangkan Maradona tidak memiliki kisah balas dendam yang sama terhadap Inggris.
Namun, simulasi tidak bisa dianggap sebagai hasil pasti. Setelah gol pertama dibatalkan, jalannya pertandingan, pergantian pemain, kondisi mental, dan pendekatan taktik kedua tim tentu ikut berubah.
VAR bisa memperbaiki keputusan faktual, tetapi tidak dapat mengulang pertandingan dari titik tersebut menggunakan skenario yang sama. Inilah alasan sejarah alternatif tetap menarik, tetapi tidak pernah benar-benar dapat dibuktikan.
Gol Sol Campbell pada 1998 Akan Diperiksa Ulang
Pertemuan babak 16 besar Piala Dunia 1998 tidak hanya dikenang karena kartu merah David Beckham. Inggris juga sempat mengira telah mencetak gol melalui sundulan Sol Campbell menjelang pertandingan berakhir.
Gol itu dianulir karena wasit menilai Alan Shearer melakukan pelanggaran terhadap kiper Argentina, Carlos Roa. Para pemain Inggris sudah merayakan sebelum menyadari keputusan wasit.
Dalam aturan modern, VAR akan memeriksa kemungkinan pelanggaran dalam fase menyerang. Tayangan ulang harus menunjukkan apakah Shearer mendorong, menghalangi, atau menabrak Roa secara ilegal.
Apabila kontak dinilai ringan dan masih menjadi bagian dari perebutan bola normal, gol Campbell dapat disahkan. Namun, VAR tidak akan mengubah keputusan jika bukti tayangan tidak memperlihatkan kesalahan yang jelas.
Kasus ini berbeda dengan Tangan Tuhan karena bergantung pada interpretasi intensitas kontak. Dua wasit dapat melihat rekaman yang sama dan menghasilkan keputusan berbeda.
Simulasi keputusan VAR: keputusan sangat bergantung pada sudut kamera. Gol bisa disahkan apabila Shearer tidak melakukan dorongan, tetapi pembatalan tetap berlaku jika kontaknya mengganggu kemampuan Roa memainkan bola.
Kartu Merah Beckham Kemungkinan Tetap Berlaku
Dua menit setelah babak kedua dimulai, Beckham dijatuhkan Diego Simeone. Dalam posisi masih tergeletak, gelandang Inggris itu menggerakkan kakinya ke arah pemain Argentina tersebut.
Wasit langsung menunjukkan kartu merah. Inggris kemudian bermain dengan sepuluh pemain hingga akhirnya kalah melalui adu penalti.
Dengan VAR, gerakan Beckham tetap dapat dikategorikan sebagai tindakan kekerasan atau perilaku agresif. Kekuatan kontak mungkin tidak besar, tetapi tindakannya dilakukan saat bola tidak sedang diperebutkan.
Wasit juga akan diminta memeriksa tindakan Simeone sebelum dan sesudah kejadian. Apabila terbukti melakukan pelanggaran keras atau berpura-pura mengalami cedera, ia dapat menerima kartu kuning.
Namun, reaksi berlebihan lawan tidak membatalkan tindakan Beckham. Dalam aturan modern, pemain tetap bertanggung jawab terhadap gerakan balasan yang dilakukan secara sengaja.
Simulasi keputusan VAR: kartu merah Beckham kemungkinan besar dipertahankan. Simeone berpeluang mendapat kartu kuning karena pelanggaran awal atau tindakan tidak sportif.
Penalti Michael Owen pada 2002 Tetap Sulit Diputuskan
Pertemuan terakhir kedua negara di Piala Dunia terjadi pada fase grup 2002. Inggris menang 1-0 melalui penalti Beckham setelah Owen dinilai dilanggar Mauricio Pochettino.
Pochettino kemudian menuding Owen melakukan diving. Mantan penyerang Liverpool itu mengakui terdapat kontak, tetapi mengatakan dirinya mungkin masih mampu tetap berdiri.
VAR akan memeriksa posisi kaki, arah gerakan pemain bertahan, serta apakah kontak tersebut menyebabkan Owen kehilangan keseimbangan. Masalahnya, kontak kecil tetap dapat menjadi pelanggaran apabila menghambat pergerakan penyerang.
Apabila tayangan memperlihatkan kaki Pochettino mengenai Owen tanpa menyentuh bola, keputusan penalti kemungkinan dipertahankan. VAR tidak akan meminta peninjauan hanya karena kontak terlihat ringan.
Sebaliknya, penalti dapat dibatalkan jika Owen sudah menjatuhkan diri sebelum terjadi sentuhan atau sengaja mengarahkan kakinya kepada pemain bertahan. Bukti harus jelas karena keputusan awal wasit adalah penalti.
Simulasi keputusan VAR: penalti kemungkinan tetap diberikan karena ada kontak. Namun, kasus ini tidak sejelas handball Maradona dan masih akan memunculkan perdebatan setelah tayangan ulang diperiksa.
Scr/Mashable















