Chivu Pulangkan Stankovic dan Mulai Memburu Pengganti Dumfries

17.07.2026
Chivu Pulangkan Stankovic dan Mulai Memburu Pengganti Dumfries
Chivu Pulangkan Stankovic dan Mulai Memburu Pengganti Dumfries

Inter Milan mulai merapikan dua bagian penting dalam skuad Cristian Chivu menjelang musim 2026/2027. Nerazzurri memulangkan Aleksandar Stankovic untuk menambah kedalaman lini tengah, tetapi masih mencari pemain yang tepat untuk mengisi sisi kanan.

Kembalinya Stankovic menghadirkan cerita menarik karena gelandang muda tersebut merupakan putra legenda Inter, Dejan Stankovic. Ia pulang ke Milan dengan pengalaman lebih matang setelah menghabiskan dua musim penting bersama Club Brugge.

Pada saat bersamaan, pencarian pengganti Denzel Dumfries belum menghasilkan kesepakatan. Inter kini mempertimbangkan sejumlah nama, mulai dari Djed Spence, Nahuel Molina, Guela Doué, hingga pilihan yang lebih murah seperti Rafik Belghali.

Aleksandar Stankovic kembali bukan sebagai pemain akademi yang hanya membawa nama besar keluarganya. Pemain kelahiran 2005 tersebut pulang setelah membuktikan dirinya mampu berkembang melalui kompetisi yang menuntut fisik dan keberanian.

Dilansir Football Italia yang mengutip Calciomercato.com, Jumat (17/07/2026) Inter mengeluarkan sekitar 23 juta euro untuk membelinya kembali dari Club Brugge. Setelah memperhitungkan pembayaran 10 juta euro dari klub Belgia pada transfer sebelumnya, pengeluaran bersih Inter mencapai sekitar 13 juta euro.

Nilai itu menunjukkan Inter tidak sekadar membawa pulang pemain binaan sendiri karena alasan emosional. Nerazzurri melihat Stankovic sebagai bagian dari rencana tim utama dan bukan hanya investasi untuk kemudian dijual kembali.

Keputusan meninggalkan Italia terbukti membantu perkembangan sang gelandang. Ia mendapatkan menit bermain, menghadapi tekanan yang lebih besar, serta mempelajari beberapa peran yang tidak selalu digunakannya ketika berada di akademi Inter.

Chivu mengetahui proses tersebut dengan baik karena pernah melatih Stankovic di tim usia muda. Karena itu, sang pelatih tidak menyembunyikan rasa antusiasnya ketika ditanya mengenai peluang pemain Serbia tersebut mengikuti jejak Pio Esposito.

“Saya berharap demikian, untuk dirinya dan untuk saya. Dia mengambil keputusan berani dengan pergi ke luar negeri, menjalani dua musim penting, dan sekarang sudah lebih matang,” kata Chivu.

Chivu kemudian menegaskan dirinya tidak sabar melihat Stankovic di lapangan. Pernyataan itu menjadi sinyal bahwa sang pemain akan mendapat kesempatan nyata selama pramusim untuk menunjukkan peran terbaiknya.

Stankovic Bisa Bermain di Beberapa Posisi

Stankovic tumbuh sebagai gelandang pengatur permainan yang beroperasi di depan lini pertahanan. Ia terbiasa menerima bola dari bek, menjaga tempo, dan mengirimkan umpan vertikal untuk mempercepat pembangunan serangan.

Permainannya berkembang selama berada di Belgia. Stankovic tidak lagi hanya menunggu bola di area dalam, tetapi mulai lebih berani bergerak mendekati kotak penalti dan mencari kesempatan melepaskan tembakan.

Perubahan tersebut membuatnya menjadi pemain yang cukup unik dalam lini tengah Inter. Chivu dapat menggunakannya sebagai gelandang bertahan, pemain nomor delapan, atau pelapis di sisi kanan dalam formasi tiga gelandang.

Peran pertama yang paling mungkin adalah menjadi alternatif Hakan Calhanoglu di posisi sentral. Stankovic mempunyai kemampuan mengatur arah permainan dan dapat memberi waktu istirahat kepada gelandang Turki tersebut sepanjang musim.

Pilihan itu juga menguntungkan Petar Sucic. Gelandang Kroasia tersebut tidak perlu terus dipindahkan menjadi regista dan dapat fokus bersaing dengan Piotr Zielinski untuk posisi mezzala.

Posisi itu sebelumnya banyak dimainkan Henrikh Mkhitaryan. Dengan pembagian tugas yang lebih jelas, Inter mempunyai kesempatan menyegarkan lini tengah tanpa harus kehilangan keseimbangan yang menjadi kekuatan mereka.

Stankovic juga dapat menjadi pelapis Nicolò Barella di sisi kanan. Kemampuan menembak dari luar kotak penalti menjadi nilai tambah, terlebih tendangan jarak jauh memang dikenal sebagai salah satu ciri permainan keluarga Stankovic.

Peluang bermain pada posisi tersebut akan semakin terbuka apabila Davide Frattesi meninggalkan klub. Namun, masa depan Frattesi belum diputuskan sehingga Chivu masih perlu melihat perkembangan bursa transfer Inter Milan.

Meski menyambutnya dengan antusias, Chivu tidak akan langsung memberikan seluruh tanggung jawab kepada Stankovic. Inter menyadari tuntutan bermain di Serie A dan mengejar gelar berbeda dengan tekanan yang ia rasakan bersama Club Brugge.

Proses adaptasi kemungkinan dilakukan secara bertahap seperti ketika Petar Sucic mulai masuk ke dalam tim. Stankovic akan memperoleh kesempatan, tetapi menit bermainnya tetap bergantung pada pemahaman taktik dan konsistensi selama latihan.

Pramusim menjadi periode penting untuk menentukan posisi terbaiknya. Chivu harus menilai apakah sang gelandang lebih nyaman mengatur permainan dari belakang atau justru memberikan pengaruh lebih besar ketika bergerak ke depan.

Persaingan juga tidak ringan karena Inter masih memiliki sejumlah gelandang berpengalaman. Calhanoglu, Barella, Zielinski, dan Sucic membuat Stankovic harus membuktikan bahwa kepulangannya memang meningkatkan kualitas tim.

Bagi sang pemain, kesempatan tersebut membawa makna khusus. Ia sejak lama mengakui bahwa bermain dengan seragam Inter merupakan salah satu impian terbesar dalam perjalanan kariernya.

Namun, sejarah ayahnya tidak akan menjamin tempat di susunan utama. Stankovic tetap harus membangun ceritanya sendiri dan membuktikan bahwa ia layak berada di skuad Chivu berdasarkan kualitas permainan.

Pengganti Dumfries Belum Ditemukan

Jika lini tengah mulai memiliki arah yang lebih jelas, situasi berbeda terlihat di sisi kanan. Inter masih belum menemukan pengganti Denzel Dumfries setelah pemain Belanda itu meninggalkan klub dan bergabung dengan Real Madrid.

Inter sebenarnya sempat sangat dekat dengan Marco Palestra. Kesepakatan dengan Atalanta telah dicapai, tetapi pemain muda Italia tersebut akhirnya memilih melanjutkan karier bersama Chelsea.

Kegagalan berikutnya terjadi dalam transfer Anan Khalaili. Kesepakatan hampir selesai, tetapi proses perekrutannya terhenti setelah pemain tersebut tidak memenuhi persyaratan medis yang diperlukan untuk melanjutkan transfer di Italia.

Dua kegagalan itu membuat Inter harus menyusun kembali daftar kandidat. Klub tidak hanya mempertimbangkan kualitas, tetapi juga harga, pengalaman, serta kemampuan pemain menjalankan peran wing-back dalam sistem Chivu.

Guela Doué sempat berada di posisi teratas. Akan tetapi, Strasbourg meminta biaya lebih dari 35 juta euro sehingga Inter mulai mempertimbangkan apakah investasi sebesar itu sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan finansial klub.

Rafik Belghali menjadi nama terbaru yang masuk dalam pembahasan. Bek sayap Verona tersebut menawarkan harga lebih rendah dibandingkan Spence, Molina, atau Doué.

Dilansir FCInterNews yang mengutip L’Arena, Verona berharap mendapatkan sekitar 10 juta euro dari penjualan Belghali. Dengan asumsi kurs Rp19.000 per euro, nilainya setara kurang lebih Rp190 miliar.

Harga tersebut membuat Belghali menjadi pilihan menarik dalam bursa transfer Inter Milan. Nerazzurri dapat memperkuat sisi kanan tanpa menghabiskan sebagian besar anggaran yang masih dibutuhkan untuk posisi lain.

Verona juga berada dalam posisi yang memungkinkan untuk menjual pemain. Setelah terdegradasi ke Serie B, klub membutuhkan pemasukan untuk membangun ulang skuad dan menyesuaikan struktur pengeluaran.

Namun, Inter bukan satu-satunya tim yang memperhatikan Belghali. AC Milan juga disebut tertarik sehingga persaingan dua klub sekota dapat terjadi apabila keduanya memutuskan bergerak lebih serius.

Bagi Milan, pemain Aljazair tersebut dipandang sebagai pilihan alternatif apabila transfer Doué terlalu mahal. Inter juga melihatnya sebagai solusi terjangkau setelah kehilangan Palestra dan gagal menuntaskan perekrutan Khalaili.

Penampilan Belghali di Piala Dunia 2026 ikut menaikkan reputasinya. Ia mampu kembali menarik perhatian setelah menjalani paruh kedua musim Serie A yang tidak terlalu meyakinkan bersama Verona.

Djed Spence Tetap Menarik, tetapi Mahal

Djed Spence masih menjadi salah satu kandidat terkuat untuk menempati sisi kanan Inter. Pemain Tottenham tersebut memiliki kecepatan, pengalaman di Serie A, dan kemampuan bermain sebagai bek maupun wing-back.

Spence pernah membela Genoa sehingga tidak sepenuhnya asing dengan karakter kompetisi Italia. Penampilannya bersama Inggris di Piala Dunia 2026 juga membuat namanya semakin menarik bagi Inter.

Masalah terbesar berada pada harga. Tottenham diperkirakan meminta nilai tinggi dan sejumlah laporan menyebut operasi tersebut dapat mendekati 40 juta euro.

Angka itu membuat Inter harus berhitung dengan sangat hati-hati. Mengeluarkan dana sebesar itu untuk Spence bisa membatasi pergerakan klub ketika membutuhkan tambahan pemain di sektor lain.

Dari sisi permainan, Spence memang memiliki atribut yang sesuai dengan kebutuhan Chivu. Ia mampu membawa bola, menyerang ruang, dan memberi kecepatan ketika Inter beralih dari bertahan menuju serangan.

Namun, harga tetap menjadi bagian penting dari keputusan. Inter harus memastikan bahwa investasi besar tersebut benar-benar menghasilkan pemain utama, bukan sekadar tambahan pilihan dalam skuad.

Molina dan Doué Belum Dicoret

Nahuel Molina tetap berada dalam daftar karena Inter sudah lama mengikuti perkembangannya. Bek Atletico Madrid itu membawa pengalaman Serie A, kualitas internasional, dan pemahaman bermain dalam sistem yang menuntut kerja fisik tinggi.

Molina juga mampu membantu serangan serta memberikan umpan dari sisi kanan. Pengalamannya bersama Argentina membuatnya lebih siap menghadapi tekanan dibandingkan beberapa kandidat muda.

Kendala utamanya tetap sama, yakni harga yang tidak murah. Atletico Madrid tidak mempunyai alasan untuk melepas Molina dengan nilai rendah sehingga Inter masih menunggu kemungkinan formula yang lebih menguntungkan.

Guela Doué juga belum sepenuhnya dicoret meskipun permintaan Strasbourg melebihi 35 juta euro. Usianya yang masih muda dan potensi berkembang membuat sang pemain tetap dinilai sebagai investasi jangka panjang.

Inter kemungkinan baru bergerak serius apabila Strasbourg menurunkan harga atau menerima formula pembayaran bertahap. Tanpa perubahan tersebut, Belghali atau kandidat lain akan terlihat lebih realistis.

Daftar calon pengganti Dumfries tidak berhenti pada empat nama tersebut. Inter turut memantau Brooke Norton-Cuffy, bek kanan Inggris yang bermain bersama Genoa.

Pengalamannya di Serie A membuat proses adaptasinya berpotensi berjalan lebih cepat. Ia juga masih muda sehingga mempunyai ruang berkembang apabila mendapat bimbingan yang tepat dari Chivu.

Vanderson dari Monaco dan Givairo Read dari Feyenoord juga masuk dalam pertimbangan. Keduanya menawarkan energi serta kemampuan menyerang, tetapi klub pemilik tidak akan mudah melepas mereka dengan harga murah.

Nama Dan Ndoye muncul sebagai pilihan yang lebih menyerang. Mantan pemain Bologna tersebut dapat mengisi seluruh sisi kanan, tetapi Nottingham Forest memasang valuasi sekitar 40 juta euro.

Banyaknya pilihan menunjukkan Inter belum menetapkan satu pemain sebagai target mutlak. Manajemen masih membandingkan kualitas, harga, dan kesiapan masing-masing kandidat sebelum mengajukan tawaran resmi.

Scr/Mashable





Don't Miss