Nama Rizky Ridho tidak muncul dalam daftar 26 pemain Timnas Indonesia untuk FIFA ASEAN Cup 2026 yang beredar menjelang turnamen. Jika informasi tersebut benar, John Herdman akan menjalani eksperimen besar tanpa salah satu bek sekaligus pemimpin terpenting Garuda.
Daftar pemain itu sampai Selasa, 18 Agustus 2026, belum diumumkan secara resmi oleh PSSI, sehingga statusnya masih berupa informasi yang beredar. Pengamat sepak bola Ronny Pangemanan menyebut Rizky Ridho menjadi salah satu nama penting yang tidak masuk.
Absennya bek Persija Jakarta tersebut menjadi menarik karena persoalannya bukan sekadar kehilangan satu pemain belakang. Rizky Ridho merupakan kapten kedua setelah Jay Idzes, pemain yang selama ini menawarkan kepemimpinan, agresivitas duel, keberanian menguasai bola, sekaligus kontinuitas dalam pertahanan Indonesia.
Jika pencoretan itu benar-benar menjadi keputusan akhir Herdman, FIFA ASEAN Cup 2026 bisa menjadi laboratorium untuk menjawab pertanyaan besar: seberapa bergantung Timnas Indonesia kepada Rizky Ridho, dan apakah kedalaman bek yang kini tersedia sudah cukup untuk menggantikannya?
Rizky Ridho Dikabarkan Dicoret, Bukan Sekadar Dicadangkan
Dilansir Medcom, Ronny Pangemanan mengungkap bahwa nama Rizky Ridho tidak terdapat dalam daftar 26 pemain yang disebut dipersiapkan Herdman. Daftar tersebut justru didominasi pemain yang berkarier di luar negeri, sementara sekitar 10 pemain berasal dari kompetisi domestik.
Nama-nama seperti Ricky Kambuaya, Beckham Putra, Ernando Ari dan Marselino Ferdinan disebut memperoleh tempat, sementara Rizky Ridho justru tidak tercantum. Situasi ini terasa lebih besar karena sang bek sebelumnya bukan pemain pinggiran, melainkan bagian penting struktur pertahanan Garuda.
Ronny menduga keputusan tersebut berkaitan dengan penampilan Ridho ketika Indonesia menjalani dua pertandingan terakhir Piala AFF 2026 menghadapi Vietnam dan Singapura. Herdman disebut ingin memberikan kesempatan kepada pemain berusia matang itu untuk kembali menemukan performa terbaik bersama klub.
Namun, satu hal perlu ditegaskan: informasi tersebut belum berarti karier Rizky Ridho bersama Timnas Indonesia selesai. Ronny bahkan memperkirakan pintu kembali terbuka pada FIFA Matchday berikutnya apabila sang bek mampu merespons keputusan tersebut dengan performa konsisten.
Kesalahan Melawan Vietnam Jadi Titik Balik
Dugaan tersebut mempunyai konteks karena Rizky Ridho sendiri mengakui penampilannya ketika Indonesia kalah 0-3 dari Vietnam pada 3 Agustus tidak berada pada level terbaik. Ia secara terbuka menyebut melakukan beberapa kesalahan yang langsung berujung pada kebobolan Garuda.
Kekalahan itu terasa menyakitkan karena Indonesia sebelumnya memulai turnamen dengan dua kemenangan beruntun, yakni 5-1 atas Kamboja dan 3-0 melawan Singapura. Vietnam kemudian mengekspos kelemahan pertahanan Indonesia sekaligus mengubah arah perjalanan Garuda di turnamen.
Ridho tidak menghindari tanggung jawab setelah pertandingan dan mengatakan kesalahan tersebut harus dievaluasi agar tidak terulang pada laga berikutnya. Sikap itu penting karena menunjukkan seorang kapten memahami bahwa reputasi maupun pengalaman tidak membuat posisinya otomatis kebal terhadap evaluasi.
Jika Herdman benar menjadikannya dasar untuk tidak memanggil Ridho, keputusan tersebut membawa pesan kuat bagi seluruh skuad. Status senior, kapten kedua, maupun pengalaman panjang bersama tim nasional tidak menjamin tempat apabila performa dalam pertandingan besar menurun.
Tetapi Timnas Indonesia Kehilangan Lebih dari Seorang Bek
Masalahnya, Rizky Ridho bukan sekadar salah satu bek tengah dalam daftar pilihan Indonesia selama beberapa tahun terakhir. Ia telah berkembang menjadi figur yang memahami ritme pertandingan internasional, tekanan publik, karakter rekan setim, hingga kebutuhan komunikasi ketika Garuda berada dalam situasi sulit.
Dalam struktur pertahanan, keberadaan pemain seperti Ridho memberikan kontinuitas yang sering tidak terlihat melalui statistik. Ia sudah terbiasa bergeser dalam sistem tiga bek maupun empat bek, menghadapi transisi cepat, serta mengoordinasikan jarak antarpemain ketika garis pertahanan harus naik.
Tanpa Ridho, Herdman memang masih mempunyai banyak opsi berkualitas, tetapi komposisi itu harus kembali menemukan chemistry. Jay Idzes, Elkan Baggott, Justin Hubner dan Kevin Diks menawarkan kualitas berbeda, sementara Calvin Verdonk juga dapat dimainkan dalam struktur pertahanan tertentu.
Artinya, Timnas Indonesia tidak kekurangan nama, tetapi mungkin kehilangan pemain yang memahami bagaimana menyatukan nama-nama tersebut menjadi satu unit. Inilah perbedaan antara kedalaman skuad di atas kertas dan kestabilan pertahanan ketika pertandingan benar-benar berlangsung.
Jay Idzes Akan Memikul Tanggung Jawab Lebih Besar
Jika daftar bocoran tersebut akhirnya sama dengan pengumuman resmi PSSI, Jay Idzes hampir pasti menjadi pusat kepemimpinan pertahanan Indonesia. Sebagai kapten pertama, tanggung jawabnya akan semakin besar karena tidak ada Ridho sebagai pemimpin kedua di sektor belakang.
Jay dapat menjadi pengatur garis pertahanan sekaligus titik awal distribusi bola, tetapi dirinya membutuhkan partner dengan karakter yang saling melengkapi. Herdman harus menentukan apakah membutuhkan agresivitas Hubner, kekuatan udara Baggott atau fleksibilitas Diks di sebelahnya.
Persoalan menjadi semakin menarik apabila Indonesia kembali menggunakan tiga bek, karena kehilangan Ridho mengubah keseimbangan komposisi. Dalam sistem semacam itu, kemampuan membaca ruang dan menentukan kapan keluar dari garis sama pentingnya dengan kekuatan duel individual.
Dengan banyak bek yang berbasis di luar negeri, Herdman mempunyai kualitas untuk bereksperimen, tetapi waktu bersama tim nasional relatif terbatas. Kombinasi terbaik harus ditemukan dengan cepat sebelum menghadapi lawan yang sudah memahami kelemahan Indonesia melalui rekaman pertandingan sebelumnya.
Justin Hubner Bisa Mendapat Peran Lebih Sentral
Salah satu pemain yang berpotensi mendapatkan tanggung jawab lebih besar adalah Justin Hubner, bek dengan karakter agresif dan keberanian bermain dalam duel. Tanpa Rizky Ridho, jalur menuju tempat utama di sisi kiri atau tengah pertahanan menjadi lebih terbuka.
Hubner memberikan intensitas, keberanian keluar menekan lawan dan kemampuan memainkan bola dengan kaki kiri, sesuatu yang berguna ketika Indonesia membangun serangan dari belakang. Namun, agresivitas tersebut tetap membutuhkan kontrol agar tidak meninggalkan ruang besar ketika tekanan pertama gagal.
Dalam pasangan dengan Jay Idzes, Hubner dapat menjadi bek yang lebih aktif menghadapi penyerang sementara Jay menjaga organisasi. Jika menggunakan tiga pemain belakang, Herdman bahkan memiliki kesempatan menempatkan Baggott sebagai pusat dengan dua bek yang lebih mobile.
Skema tersebut menawarkan dimensi berbeda dibanding ketika Rizky Ridho berada di tim, tetapi juga membutuhkan adaptasi komunikasi. Hubungan antarpemain belakang tidak bisa dibangun hanya melalui kualitas individual karena kesalahan jarak beberapa meter saja dapat menentukan sebuah gol.
Elkan Baggott Punya Kesempatan Besar
Absennya Rizky Ridho juga dapat menjadi kesempatan besar bagi Elkan Baggott untuk kembali mengukuhkan dirinya sebagai bagian penting pertahanan Garuda. Posturnya memberikan keunggulan dalam duel udara sekaligus menghadirkan opsi berbeda menghadapi lawan yang mengandalkan bola langsung.
Jika Herdman ingin memainkan pertahanan dengan satu bek tengah dominan secara fisik, Baggott mempunyai karakter yang sesuai. Namun, penggunaan dirinya harus disesuaikan dengan tinggi garis pertahanan dan kecepatan transisi lawan agar kelebihannya benar-benar dapat dimaksimalkan.
Kehadiran Baggott bersama Jay dan Hubner misalnya dapat membentuk trio dengan karakter berbeda, yakni organisasi, agresivitas dan kekuatan udara. Secara teori komposisi tersebut cukup menjanjikan, meskipun performa aktual tetap bergantung pada koordinasi serta pemahaman taktik.
Ini yang membuat FIFA ASEAN Cup dapat menjadi ujian penting bagi kedalaman pertahanan Timnas Indonesia. Tanpa Rizky Ridho, pemain yang sebelumnya berada satu tingkat di bawah dalam hierarki harus membuktikan mereka mampu mengambil tanggung jawab lebih besar.
Kevin Diks Bisa Jadi Senjata Fleksibel Herdman
Kevin Diks juga membuat kehilangan Ridho tidak serta-merta menciptakan krisis karena ia mampu mengisi beberapa peran di area belakang. Pengalamannya memungkinkan Herdman mempunyai alternatif ketika membutuhkan bek dengan kemampuan distribusi sekaligus kecerdasan membaca permainan.
Diks dapat digunakan sebagai bek kanan dalam empat bek atau bek kanan dalam struktur tiga pemain belakang, tergantung kebutuhan pertandingan. Fleksibilitas semacam ini memberi Herdman kesempatan mengubah bentuk tim tanpa harus melakukan pergantian pemain terlalu banyak.
Calvin Verdonk, Sandy Walsh, Shayne Pattynama, Dean James, Dony Tri Pamungkas, Eliano Reijnders dan Nathan Tjoe-A-On juga disebut berada dalam daftar. Kedalaman sektor belakang tersebut memperlihatkan bahwa kompetisi internal Indonesia sekarang jauh lebih ketat dibanding beberapa tahun sebelumnya.
Karena itu, pencoretan Ridho—apabila benar—bisa dibaca sebagai konsekuensi dari meningkatnya persaingan, bukan semata hukuman atas satu pertandingan. Herdman mempunyai cukup banyak opsi sehingga berani mengistirahatkan pemain yang sebelumnya hampir selalu dianggap aman.
Risiko Terbesar Justru Soal Kepemimpinan
Secara teknis, Indonesia mungkin mampu mengganti posisi Rizky Ridho, tetapi kepemimpinan menjadi persoalan yang lebih sulit digantikan. Bek Persija tersebut sudah mempunyai pengalaman menjadi kapten dan terbiasa menghadapi momentum pertandingan ketika tekanan kepada tim meningkat.
Dalam pertandingan internasional, pemimpin tidak hanya dibutuhkan saat memberikan instruksi, tetapi ketika tim baru kebobolan atau keputusan wasit menimbulkan ketegangan. Sosok yang mampu menjaga fokus pemain dapat menentukan apakah tim segera bangkit atau justru kehilangan organisasi.
Jay Idzes jelas menjadi figur pertama untuk memikul tugas tersebut, sementara pemain senior seperti Thom Haye, Joey Pelupessy atau Kevin Diks dapat membantu. Namun, absennya satu pemimpin tetap mengubah distribusi tanggung jawab di dalam lapangan.
Indonesia pernah terlihat kehilangan ketenangan ketika berada dalam tekanan lawan, sehingga aspek psikologis tidak bisa diabaikan. FIFA ASEAN Cup akan menjadi tes apakah generasi Garuda sekarang sudah mempunyai cukup banyak pemimpin sehingga ketergantungan kepada satu atau dua pemain berkurang.
Herdman Tampaknya Ingin Meningkatkan Persaingan
Daftar yang beredar memperlihatkan kecenderungan John Herdman mengandalkan pemain abroad, meskipun beberapa nama dari kompetisi domestik tetap mendapat tempat. Dari 26 pemain yang disebut, hanya sekitar 10 yang berkarier di dalam negeri.
Di tengah, terdapat Ivar Jenner, Thom Haye, Joey Pelupessy dan Ricky Kambuaya, sementara lini depan memuat Miliano Jonathans, Luke Vickery, Mitchell Baker, Ragnar Oratmangoen, Beckham Putra, Ole Romeny, Marselino Ferdinan dan Adrian Wibowo.
Untuk posisi penjaga gawang, Maarten Paes, Emil Audero dan Ernando Ari disebut menjadi tiga pilihan Herdman. Komposisi tersebut memberi gambaran bahwa pelatih mempunyai kedalaman cukup besar untuk membangun persaingan internal di hampir seluruh posisi.
Dalam konteks itulah kabar tidak dipanggilnya Rizky Ridho menjadi semakin signifikan. Herdman seolah ingin menunjukkan bahwa setiap pemain harus mempertahankan tempatnya melalui performa, bahkan ketika pemain tersebut sebelumnya merupakan bagian tak tergantikan dari skuad.
FIFA ASEAN Cup Jadi Kesempatan Menguji Generasi Baru
Indonesia akan menjadi tuan rumah FIFA ASEAN Cup 2026 pada 24 September hingga 4 Oktober, dengan Garuda berada di Grup A bersama Malaysia, Singapura dan Bangladesh. Grup B dihuni Thailand, Vietnam, Filipina serta Pakistan.
Turnamen tersebut menjadi kesempatan penting bagi Garuda untuk bangkit setelah gagal mencapai semifinal Piala AFF 2026. Karena dimainkan di kandang sendiri, tekanan terhadap Herdman untuk menunjukkan perbaikan permainan juga akan jauh lebih besar.
Tanpa Rizky Ridho, pertandingan fase grup dapat memberikan jawaban tentang seberapa dalam kualitas pertahanan Indonesia sebenarnya. Jika Jay Idzes dan pemain lain mampu menjaga kestabilan, Herdman mendapatkan bukti bahwa tim tidak lagi bergantung kepada satu kombinasi bek.
Sebaliknya, apabila koordinasi pertahanan menurun, peran Ridho justru akan terasa semakin besar ketika ia tidak berada di lapangan. Kondisi tersebut dapat mempercepat peluangnya kembali ketika Indonesia memasuki agenda FIFA Matchday berikutnya pada akhir tahun.
Pencoretan Bisa Menjadi Momen Reset untuk Rizky Ridho
Dari sisi pemain, tidak dipanggil untuk satu turnamen tidak selalu berarti kemunduran permanen. Rizky Ridho masih mempunyai kesempatan menjadikan situasi ini sebagai periode reset, terutama setelah ia sendiri mengakui melakukan kesalahan dalam pertandingan melawan Vietnam.
Ronny Pangemanan juga memperkirakan bek Persija tersebut masih berpeluang kembali pada FIFA Matchday selanjutnya apabila mampu menunjukkan performa positif. Dengan kata lain, keputusan Herdman bisa menjadi kompetisi terbuka, bukan penutupan pintu bagi pemain berusia matang tersebut.
Bagi Ridho, respons terbaik bukan memperdebatkan keputusan pelatih, melainkan kembali memperlihatkan kualitas di level klub. Konsistensi, ketenangan ketika menguasai bola dan kemampuan memimpin pertahanan dapat menjadi argumen paling kuat untuk kembali mengenakan seragam Garuda.
Situasi seperti ini bahkan dapat bermanfaat apabila membuat seorang pemain utama mendapatkan ruang untuk melakukan evaluasi. Tim nasional juga membutuhkan pemain yang mampu bangkit setelah kesalahan, karena perjalanan internasional tidak pernah berjalan tanpa periode buruk.
Jadi, Apa Jadinya Timnas Indonesia Tanpa Rizky Ridho?
Jawaban paling sederhana adalah Indonesia masih mempunyai cukup banyak bek berkualitas untuk bertahan, tetapi belum tentu langsung mempunyai struktur pertahanan yang sama stabilnya. Kualitas individu Jay Idzes, Hubner, Baggott, Diks dan Verdonk membuat posisi tersebut tidak mengalami kekosongan.
Yang hilang adalah kontinuitas, komunikasi dan pengalaman seorang pemain yang sudah lama memahami dinamika Garuda. Herdman harus menggantinya melalui pembagian tanggung jawab, bukan hanya dengan memasukkan satu nama baru ke dalam posisi yang ditinggalkan Ridho.
FIFA ASEAN Cup 2026 karena itu bisa menjadi eksperimen yang sangat penting bagi masa depan Timnas Indonesia. Jika eksperimen berhasil, kedalaman pertahanan bertambah; jika gagal, nilai seorang Rizky Ridho justru akan terlihat semakin jelas dari bangku penonton.
Namun sebelum semua analisis itu menjadi kenyataan, satu hal tetap perlu diingat: daftar 26 pemain tersebut masih belum diumumkan secara resmi oleh PSSI. Informasi yang beredar menyebut Rizky Ridho dicoret, tetapi komposisi final baru dapat dipastikan ketika federasi mengeluarkan Garuda Calling resmi.
Jika Rizky Ridho benar-benar absen, Herdman bukan hanya sedang mengganti seorang bek, tetapi menguji apakah Timnas Indonesia sudah cukup dewasa untuk hidup tanpa salah satu pemimpin lini belakangnya. Jawabannya akan menentukan apakah Ridho masih tak tergantikan atau Garuda akhirnya memiliki kedalaman baru.
Scr/Mashable

















