Inter Milan Bongkar Generasi Juara, Masih Layak Jadi Favorit Scudetto?

19.08.2026
Inter Milan Bongkar Generasi Juara, Masih Layak Jadi Favorit Scudetto?
Inter Milan Bongkar Generasi Juara, Masih Layak Jadi Favorit Scudetto?

Inter Milan memasuki musim 2026/27 dengan status juara bertahan Serie A dan Coppa Italia, tetapi fondasi tim yang mengantar mereka meraih dua trofi sedang dibongkar. Cristian Chivu kini menghadapi ujian baru, yaitu bagaimana mempertahankan dominasi sambil mengganti generasi senior hampir bersamaan.

Inter Milan masih jadi tim favorit mempertahankan Scudetto, meski persaingan disebut lebih terbuka dibanding musim lalu. Penilaian itu menarik karena kekuatan utama Nerazzurri sebelumnya lahir dari stabilitas, sementara musim baru justru dimulai dengan perubahan besar.

Yann Sommer, Francesco Acerbi, Stefan de Vrij, dan Matteo Darmian meninggalkan klub setelah kontrak mereka berakhir pada 30 Juni 2026. Denzel Dumfries kemudian pindah ke Real Madrid, membuat hampir seluruh kerangka pertahanan berpengalaman Inter Milan mengalami perubahan dalam satu musim panas.

Pergantian itu bukan kehilangan kecil karena Sommer tampil 139 kali selama tiga musim sejak datang dari Bayern Munich pada Agustus 2023. Kiper Swiss tersebut membukukan 66 clean sheet dan menjadi bagian penting pembangunan serangan dari belakang di bawah Simone Inzaghi maupun Chivu.

Acerbi dan De Vrij juga bukan sekadar bek cadangan yang mudah diganti karena keduanya menjadi bagian rotasi tiga bek pada musim juara. Dengan usia masing-masing 38 dan 34 tahun, kepergian mereka memang logis secara regenerasi, tetapi menghapus pengalaman bertahun-tahun sekaligus.

Darmian yang berusia 36 tahun memang lebih sering terganggu cedera pada musim lalu sehingga menit bermainnya berkurang cukup signifikan. Namun, fleksibilitasnya menutup beberapa posisi membuat Inter Milan kehilangan satu pemain serbaguna yang selama bertahun-tahun mempermudah perubahan struktur tanpa pergantian besar.

Inter Milan Bongkar Generasi Juara, Siapa Penggantinya?

Inter Milan merespons situasi tersebut bukan dengan menumpuk pemain muda mentah, melainkan merekrut figur yang sudah teruji di level tertinggi. John Stones, Manuel Akanji, dan Djed Spence kini diproyeksikan menjadi bagian utama pertahanan baru yang dibangun untuk mempertahankan gelar.

Stones datang setelah menghabiskan satu dekade bersama Manchester City dan menandatangani kontrak sampai Juni 2028. Bek Inter Milan berusia 32 tahun itu membawa pengalaman enam gelar Liga Inggris, tiga Piala FA, tiga Piala Liga, Liga Champions, dan Piala Dunia Antarklub.

Akanji, 31 tahun, dipermanenkan setelah menjalani masa pinjaman pada musim sebelumnya dan sudah memahami tuntutan taktik Chivu. Bagi Inter Milan, hubungannya dengan Stones dari periode Manchester City juga menguntungkan karena keduanya tidak harus membangun pemahaman pertahanan dari titik nol.

Djed Spence memberikan dimensi usia dan atletisme berbeda karena pemain 26 tahun itu direkrut permanen dari Tottenham Hotspur sampai Juni 2031. Biayanya dilaporkan sekitar 30 juta pound, menandakan Inter Milan melihatnya sebagai investasi penting, bukan solusi darurat pengganti Dumfries.

Spence juga tiba dengan momentum tinggi setelah tampil delapan kali untuk Inggris pada Piala Dunia 2026 dan membantu negaranya finis ketiga. Bagi Inter Milan, pengalaman bermainnya di Genoa pada 2024 secara teori dapat membuat proses adaptasi terhadap sepak bola Italia lebih ringan.

Di posisi penjaga gawang, Inter Milan memilih Ivan Provedel sebagai tambahan setelah kepergian Sommer dan merekrutnya secara permanen dari Lazio. memperkirakan pemain berusia 32 tahun tersebut memulai musim sebagai pelapis Josep Martinez, yang mendapat kesempatan mengambil peran lebih besar.

Mengapa Inter Milan Masih Layak Jadi Favorit Scudetto?

Alasan pertama adalah regenerasi dilakukan tanpa merusak tulang punggung serangan yang membawa Inter Milan meraih dua gelar domestik musim lalu. Lautaro Martinez dan Marcus Thuram tetap menjadi pasangan utama, sehingga Chivu tidak perlu membangun ulang seluruh mekanisme tim secara bersamaan.

Keputusan tersebut penting karena perubahan terlalu banyak di setiap lini dapat menghancurkan otomatisme yang biasanya menentukan pertandingan ketat. Dengan mempertahankan duet Lautaro-Thuram, Inter Milan masih memiliki referensi serangan yang memahami pola pergerakan, pressing, dan cara menciptakan ruang satu sama lain.

Alasan kedua berada pada profil rekrutan karena Stones dan Akanji membawa kemampuan membangun serangan dari belakang, bukan hanya bertahan. Karakter itu cocok dengan Inter Milan yang selama beberapa musim mengandalkan bek tengah untuk memulai progresi bola dan menciptakan keunggulan jumlah pemain.

Spence dapat menawarkan ancaman berbeda bagi Inter Milan di sisi lapangan setelah Dumfries pergi, terutama melalui kecepatan dan kemampuan membawa bola. Ia belum tentu langsung meniru produktivitas pendahulunya, tetapi usia 26 tahun memberinya ruang perkembangan lebih panjang dibanding beberapa pemain senior yang dilepas.

Alasan ketiga adalah Chivu sekarang memiliki legitimasi yang jauh lebih kuat dibanding ketika pertama kali mengambil pekerjaan tersebut pada Juni 2025. Pelatih Rumania itu membawa Inter Milan meraih Scudetto ke-21 dan Coppa Italia ke-10, sekaligus terpilih sebagai pelatih terbaik Serie A.

Kontrak Chivu kemudian diperpanjang sampai 2028, memperlihatkan manajemen percaya proyek regenerasi seharusnya dibangun di bawah pelatih yang sama. Stabilitas di bangku pelatih menjadi keuntungan Inter Milan ketika beberapa rival justru memulai musim dengan pelatih atau pendekatan taktik berbeda.

Lubang Besar Ada di Pertahanan

Status favorit tidak berarti proses pergantian generasi akan berjalan tanpa masalah karena kehilangan pengalaman secara serentak selalu memiliki risiko. Sommer, Acerbi, De Vrij, Darmian, dan Dumfries memahami tekanan pertandingan besar, sementara pemain baru membutuhkan waktu untuk membangun koordinasi dalam situasi kompetitif.

Stones sendiri baru bergabung dengan Inter Milan setelah perjalanan panjang bersama Inggris di Piala Dunia, sehingga pramusimnya lebih pendek dibanding sebagian pemain lain. Ia memang mencetak gol kemenangan pada debut uji coba melawan Real Betis, tetapi pertandingan resmi menghadirkan konsekuensi berbeda.

Akanji dapat menjadi penghubung penting karena sudah mengenal sistem Chivu, sedangkan Spence harus mempelajari kebiasaan rekan-rekan barunya secara lebih detail. Jika komunikasi antarlini belum sempurna, Inter Milan berpotensi kehilangan keunggulan kecil yang musim lalu sering membantu mereka mengontrol pertandingan.

Pertanyaan lain berada di bawah mistar karena peran Sommer jauh melampaui kemampuan menghentikan tembakan selama tiga musim di Milan. Kemampuannya membantu sirkulasi dari belakang merupakan bagian dari identitas Inter Milan, sehingga Josep Martinez atau Provedel harus memberi keamanan serupa dalam fase pertama serangan.

Scudetto Musim Ini Lebih Sulit

Kesulitan terbesar Inter Milan mungkin justru datang dari luar karena rival-rival utama tidak tinggal diam setelah kegagalan musim lalu. Persaingan Scudetto 2026/27 lebih terbuka, terutama karena Napoli dan AC Milan berusaha memperbaiki kelemahan yang membuat mereka kehilangan momentum.

AC Milan mengganti Massimiliano Allegri dengan Ruben Amorim setelah mengalami keruntuhan pada akhir musim, lalu mendatangkan Goncalo Ramos dari Paris Saint-Germain. Kehadiran striker Portugal itu diarahkan untuk memperbaiki kontribusi gol lini depan yang sebelumnya terlalu bergantung pada Rafael Leao dan Christian Pulisic.

Milan juga mempertahankan Luka Modric untuk satu musim lagi dan menambah Mario Gila dari Lazio guna memperkuat kerangka berpengalaman. Artinya, Inter Milan tidak lagi bisa berharap rival sekotanya kembali kehilangan ritme pada fase penting seperti yang terjadi musim sebelumnya.

Napoli mengambil jalur berbeda dengan menunjuk Allegri setelah era Antonio Conte berakhir, sementara Romelu Lukaku meninggalkan Campania menuju Fenerbahce. Rasmus Hojlund sekarang memikul tanggung jawab sebagai penyerang utama, membuat efektivitas proyek baru Napoli menjadi salah satu variabel terbesar dalam perebutan gelar.

Juventus memilih mempertahankan proyek jangka panjang Luciano Spalletti meski kampanye sebelumnya mengecewakan, kemudian membawa kembali Randal Kolo Muani sebagai rekrutan terbesar musim panas. Konsistensi proyek tersebut dapat membuat persaingan semakin padat jika Juventus menemukan keseimbangan lebih cepat daripada musim lalu.

Como dan Roma juga tidak boleh diabaikan meski keduanya belum otomatis berada pada level favorit utama Scudetto. Como mempertahankan Nico Paz dan merekrut Trevoh Chalobah setelah lolos ke Liga Champions, sementara Roma menutup musim lalu dengan tujuh pertandingan tanpa kekalahan.

Inter Milan Bertaruh pada Regenerasi

Jika seluruh pergerakan transfer dibaca sebagai satu kesatuan, Inter Milan sebenarnya tidak melakukan revolusi total, melainkan regenerasi yang dikendalikan. Pemain veteran di pertahanan diganti, tetapi mesin gol utama dipertahankan dan pemain baru datang dengan pengalaman kompetisi elite yang cukup matang.

Strategi tersebut membedakan Nerazzurri dari tim yang membongkar skuad sekaligus mengubah identitas permainan dalam satu musim panas. Inter Milan masih memiliki kerangka juara, hanya saja Chivu berusaha membuatnya lebih muda, atletis, dan mampu bertahan dalam siklus kompetitif beberapa musim.

Stones menjadi simbol pengalaman, Akanji menawarkan kontinuitas, Spence menghadirkan energi baru, sedangkan Josep Martinez mendapat peluang untuk naik kelas setelah Sommer pergi. Komposisi itu memberi Inter Milan keseimbangan menarik antara pemain yang sudah memahami tuntutan besar dan wajah baru yang masih berkembang.

Namun, keberhasilan proyek ini pada akhirnya ditentukan oleh seberapa cepat para pemain baru membangun otomatisme ketika Serie A mulai berjalan pada 22 Agustus. Inter Milan tidak memiliki kemewahan menjalani masa transisi panjang karena setiap poin langsung berarti dalam perburuan gelar yang diprediksi lebih ketat.

Jadi, Inter Milan Masih Layak Disebut Favorit?

Secara kualitas, pengalaman, dan keberlanjutan struktur, Inter Milan masih pantas ditempatkan sedikit di depan para pesaing pada awal musim. Mereka mempertahankan duet Lautaro-Thuram, memiliki pelatih pemenang, dan mengganti pemain senior dengan rekrutan yang sudah terbukti menghadapi tekanan level tertinggi.

Tetapi jarak tersebut jauh dari aman karena fondasi pertahanan yang selama bertahun-tahun memberi stabilitas kini sedang dibangun ulang hampir seluruhnya. Jika Stones, Akanji, Spence, dan penjaga gawang baru cepat menyatu, Inter Milan bisa keluar dari regenerasi dengan skuad lebih segar.

Sebaliknya, jika pergantian generasi menghilangkan koordinasi dan ketenangan yang menjadi senjata utama musim lalu, AC Milan, Napoli, atau Juventus mempunyai peluang besar mengambil keuntungan. Itulah sebabnya status favorit Inter Milan musim ini datang bersama tanda tanya yang jauh lebih besar.

Bagi Chivu, mempertahankan Scudetto mungkin akan menjadi pencapaian lebih sulit daripada memenangkan gelar pertamanya karena ia harus menang sambil membangun ulang pertahanan. Musim 2026/27 akhirnya bukan hanya soal mempertahankan mahkota, tetapi membuktikan apakah generasi baru Inter Milan benar-benar siap mengambil alih.

Scr/Mashable





Don't Miss