Empat tahun lalu, Rafael Leão berada pada titik ketika AC Milan merasa tawaran €100 juta masih belum cukup untuk melepaskan pemain terbaik Serie A tersebut. Kini situasinya berbalik karena Rossoneri disebut siap berdiskusi pada angka sekitar €40–45 juta termasuk bonus.
Perbandingannya sangat mencolok karena secara nominal ekspektasi harga Milan terhadap Rafael Leão telah berkurang sekitar 55 hingga 60 persen dibandingkan proposal besar yang pernah ditolak. Lebih mengejutkan lagi, statusnya sebagai pemain inti pada era Ruben Amorim sekarang juga tidak otomatis terjamin.
La Gazzetta dello Sport mengungkap Chelsea pernah mengirimkan proposal tertulis sekitar €100 juta setelah Milan merebut Scudetto 2021/22, tetapi klub menolak menjual pemain simbol mereka. Ketika itu, Rafael Leão sedang dianggap sebagai salah satu penyerang sayap paling berbahaya di Eropa.
Situasi berubah drastis empat tahun kemudian karena SportMediaset pada 14 Agustus melaporkan Milan menurunkan permintaan dari sekitar €60 juta menjadi €40–45 juta termasuk bonus. Keputusan tersebut muncul setelah klub kesulitan menemukan pembeli yang bersedia memenuhi valuasi sebelumnya.
Angka itu tentu bukan perbandingan valuasi formal yang identik karena €100 juta merupakan tawaran klub lain, sedangkan €40–45 juta adalah harga yang kini dipertimbangkan Milan. Namun selisih nominalnya tetap menggambarkan seberapa jauh posisi tawar Rafael Leão berubah dalam empat tahun terakhir.
Rafael Leão Dulu €100 Juta, Mengapa Harganya Terjun?
Jawaban paling sederhana berada pada performa karena Rafael Leão tidak lagi menghasilkan angka seperti ketika menjadi pusat permainan Milan dalam periode terbaiknya. Musim 2022/23, ia mencetak 15 gol dan delapan assist dalam 35 pertandingan Serie A, memperkuat statusnya sebagai bintang utama.
Setelah itu produktivitasnya perlahan menurun, dengan sembilan gol dan sembilan assist pada 2023/24, kemudian delapan gol serta delapan assist pada musim berikutnya. Pada Serie A 2025/26, catatan Rafael Leão turun menjadi sembilan gol dan tiga assist dari 29 penampilan.
Penurunannya terutama terlihat pada kreativitas karena kontribusi assist liga yang pernah mencapai delapan atau sembilan per musim kini hanya tiga. Jumlah starter Rafael Leão juga menyusut menjadi 23 sepanjang Serie A 2025/26, sesuatu yang sulit dilepaskan dari masalah kebugaran dan perubahan peran.
La Gazzetta menggambarkan dua musim terakhirnya sebagai periode ketika Rafael Leão semakin kurang menentukan dan beberapa kali menjadi sasaran kekecewaan pendukung. Paulo Fonseca serta Sergio Conceição pernah mencadangkannya, sedangkan Massimiliano Allegri mencoba memainkan sang penyerang sebagai nomor sembilan.
Eksperimen sebagai penyerang tengah memang menghasilkan sembilan gol pada periode tertentu, tetapi tidak menghilangkan persoalan konsistensi yang telah mengikuti kariernya. Rafael Leão terlihat paling berbahaya ketika menyerang dari kiri dengan ruang terbuka, bukan ketika diminta terus bermain membelakangi gawang.
Faktor cedera juga ikut mengganggu kesinambungan performanya karena kesempatan menjaga ritme pertandingan berulang kali terputus sepanjang periode terakhir. Bahkan menjelang pertandingan pramusim menghadapi Manchester United pada Agustus, Rafael Leão kembali mengalami masalah otot sehingga tidak dimainkan oleh Milan.
Masalah berikutnya adalah usia karena Rafael Leão kini berumur 27 tahun, sehingga statusnya berubah dari prospek elite menjadi pemain yang seharusnya berada dalam masa puncak. Klub pembeli tidak lagi membayar terutama berdasarkan potensi, melainkan menuntut produksi konsisten pada level tertinggi.
Dari sudut bisnis, kondisi itu menjelaskan mengapa klub-klub besar Eropa lebih berhati-hati dibandingkan ketika Chelsea datang membawa uang besar. Membayar €60 juta atau lebih untuk Rafael Leão berarti mengambil risiko terhadap pemain bergaji tinggi yang performanya belum kembali mencapai standar musim Scudetto.
Kontraknya dengan Milan masih berlaku sampai 2028, sementara La Gazzetta menyebut penghasilannya berada sekitar €7 juta bersih per musim termasuk bonus. Kombinasi harga transfer dan beban gaji tersebut semakin menyempitkan daftar klub yang secara finansial mampu sekaligus bersedia mengambil risiko.
Itulah sebabnya cerita transfer Rafael Leão pada musim panas ini terasa sangat berbeda dibandingkan masa lalu, ketika Manchester United, Barcelona, atau Chelsea otomatis membuat namanya terdengar mewah. Sekarang persoalannya bukan kekurangan rumor, melainkan kekurangan tawaran yang benar-benar memenuhi kebutuhan Milan.
Galatasaray justru menjadi peminat paling konkret dengan proposal awal sekitar €30 juta ditambah €5 juta bonus yang ditolak Rossoneri. SportMediaset kemudian melaporkan klub Istanbul mempertimbangkan peningkatan hingga kisaran €45 juta, angka yang sekarang jauh lebih dekat dengan permintaan Milan.
Hambatannya berada pada sang pemain karena Rafael Leão sejauh ini belum menunjukkan ketertarikan nyata untuk melanjutkan karier di Liga Turki. Bahkan tawaran gaji sekitar €10 juta bersih per musim yang berpotensi meningkat menjadi €12 juta belum mengubah keinginannya menunggu opsi lain.
La Gazzetta sebelumnya juga menyebut Aston Villa sebagai salah satu destinasi yang secara ekonomi mungkin mampu melakukan transfer setelah mempunyai dana besar. Namun belum terdapat pembicaraan konkret yang membuat kemungkinan Rafael Leão pindah ke Premier League benar-benar mendekati tahap penyelesaian.
Pemain Portugal tersebut bahkan tidak tertarik menerima opsi Arab Saudi, meskipun mantan rekan setimnya Theo Hernandez disebut senang apabila mereka kembali bermain bersama. Keinginannya masih mengarah pada proyek Eropa yang dianggap selevel dengan ambisi pribadinya dan profil karier selama ini.
Ruben Amorim Beri Peringatan, Tempat Rafael Leão Tak Lagi Aman
Perubahan terbesar bukan hanya terlihat pada harga transfer, tetapi juga pada hierarki teknis di dalam skuad Milan sendiri. Ruben Amorim secara terbuka mengingatkan Rafael Leão bahwa status bintang maupun harga mahal tidak otomatis memberinya tempat dalam susunan pemain utama.
Setelah Milan mengalahkan Manchester United 4-2 dalam laga persahabatan pada 15 Agustus, Amorim menegaskan ada persaingan serius di sektor penyerang. Pelatih asal Portugal tersebut menyebut Cissé tampil bagus, Saelemaekers berganti posisi, sementara Christian Pulisic sedang kembali bergabung.
Amorim bahkan mengatakan Rafael Leão harus “berjuang mendapatkan tempat”, sebuah kalimat yang sangat berbeda dibandingkan status sang pemain empat tahun lalu. Ketika Chelsea membawa €100 juta, pertanyaan utama adalah berapa mahal Milan berani mempertahankannya, bukan apakah ia akan menjadi starter.
Pernyataan tersebut menunjukkan Milan tidak ingin lagi membangun sistem yang sepenuhnya bergantung pada ledakan individual Rafael Leão dari sisi kiri. Amorim dikenal menggunakan struktur 3-4-2-1 yang menuntut penyerang aktif saat pressing sekaligus disiplin menjaga posisi ketika tim kehilangan bola.
Pada sistem tersebut, kualitas menggiring bola dan kecepatan saja tidak cukup karena dua pemain di belakang penyerang harus terus bergerak dalam struktur kolektif. Christian Pulisic menawarkan produktivitas dan kerja tanpa bola, sedangkan Saelemaekers mempunyai fleksibilitas yang disukai pelatih untuk beberapa posisi.
Kemunculan Cissé ikut memperumit keadaan karena pemain muda yang sebelumnya tidak mempunyai status sebesar Rafael Leão justru mendapatkan pujian langsung dari Amorim. Persaingan internal seperti inilah yang membuat Milan memiliki keberanian lebih besar dalam mempertimbangkan penjualan pemain nomor 10 mereka.
Ada paradoks yang sulit diabaikan karena Rafael Leão masih merupakan pemain dengan kemampuan individual yang jarang dimiliki penyerang Serie A. Kecepatan, kekuatan dalam duel satu lawan satu, dan kapasitas menciptakan peluang dari situasi sederhana membuat potensinya tetap sangat tinggi.
Namun sepak bola elite akhirnya menilai pemain berdasarkan konsistensi, bukan hanya potongan aksi terbaik, dan di sinilah masalah Rafael Leão semakin terasa. Dari 15 gol liga pada 2022/23, catatannya turun menjadi sembilan, delapan, kemudian sembilan dalam tiga musim berikutnya.
Milan juga harus mempertimbangkan kesempatan finansial karena penjualan Rafael Leão dapat membuka ruang untuk mendatangkan pemain yang lebih sesuai dengan proyek Amorim. La Gazzetta menyebut Konstantinos Karetsas dari Genk sebagai salah satu target, dengan klub Belgia memasang harga sekitar €40 juta.
Genk bahkan dikabarkan telah menolak proposal Borussia Dortmund sekitar €30 juta sehingga Milan membutuhkan pemasukan signifikan untuk masuk dalam persaingan. Artinya, masa depan Rafael Leão tidak berdiri sendiri karena hasil penjualannya dapat menentukan bagaimana wajah baru lini serang Rossoneri dibangun.
Di sinilah penurunan harga tersebut menjadi persoalan strategis bagi Milan karena klub pernah mempunyai kesempatan menguangkan sang pemain pada puncak nilai ekonominya. Menolak €100 juta dahulu masuk akal secara olahraga, tetapi keputusan itu sekarang terlihat jauh lebih mahal ketika dilihat menggunakan perspektif empat tahun.
Milan memang mendapatkan manfaat besar dari mempertahankan Rafael Leão, termasuk kontribusinya dalam perjalanan hingga semifinal Liga Champions dan sejumlah momen penting berikutnya. Karena itu, menyebut penolakan terhadap Chelsea sebagai kesalahan mutlak juga terlalu sederhana dan mengabaikan nilai olahraga yang diterima Rossoneri.
Tetapi angka €40–45 juta membuat gambaran hari ini sulit dibantah karena Milan berpotensi menerima kurang dari separuh uang yang pernah ditawarkan Chelsea. Lebih ironis lagi, Rafael Leão sekarang tidak mempunyai jaminan menjadi pemain utama apabila akhirnya memilih bertahan di San Siro.
Masih tersedia peluang bagi sang penyerang untuk membalikkan situasi karena musim kompetitif baru belum dimulai dan Ruben Amorim belum menutup pintu. Pelatih Milan bahkan mengatakan klub senang memiliki Rafael Leão, tetapi persaingan akan menentukan siapa yang benar-benar pantas mendapatkan kesempatan bermain.
Bila Rafael Leão kembali mendekati performa ketika memenangkan penghargaan pemain terbaik Serie A, harga €40–45 juta akan terlihat sebagai valuasi yang terlalu rendah. Namun tanpa peningkatan konsistensi, pasar akan terus menganggap risiko membeli sang winger lebih besar daripada daya tarik reputasinya.
Inilah alasan kisah Rafael Leão menjadi salah satu paradoks transfer terbesar Milan pada musim panas 2026: aset yang pernah dianggap terlalu berharga untuk €100 juta kini dapat dilepas kurang dari separuhnya. Penurunan tersebut merupakan gabungan performa, cedera, usia, gaji, dan perubahan kebutuhan taktik.
Pada akhirnya, beberapa pekan terakhir bursa transfer akan menentukan apakah Milan menerima kerugian nilai tersebut atau kembali mencoba membangun Rafael Leão bersama Amorim. Apa pun hasilnya, status pemain Portugal itu telah berubah drastis dari simbol proyek Rossoneri menjadi aset mahal yang masa depannya terbuka.
Scr/Mashable















