Bursa transfer musim panas resmi ditutup, dan kecemasan pendukung Manchester United akhirnya menjadi kenyataan: tak ada satu pun bek kiri baru yang mendarat di Old Trafford.
Padahal, sektor tersebut sudah lama dianggap sebagai titik lemah paling krusial dalam sistem permainan racikan pelatih Michael Carrick.
Saat ini, Luke Shaw menjadi satu-satunya bek kiri murni yang tersisa di tim utama.
Meski baru saja melewati musim fantastis dengan mencatatkan 38 penampilan sebagai starter di Premier League, berharap bek berusia 31 tahun itu terus banting tulang dalam maraton musim yang bisa mencapai lebih dari 60 laga adalah hal yang mustahil—terlebih setelah Tyrell Malacia resmi angkat kaki.
Incaran Utama Terbentur Harga Selangit
Bukannya tanpa upaya, manajemen Setan Merah sebenarnya telah menyusun daftar panjang target potensial. Bintang muda Newcastle, Lewis Hall, menjadi nama yang paling dicarikan jalan keluar.
Sayangnya, patok harga fantastis yang dipasang The Magpies memaksa United menunda rencana kepindahan sang pemain hingga musim panas mendatang.
Terbentur keterbatasan anggaran, United memilih mengalihkan fokus utama ke lini tengah dengan merampungkan transfer Carlos Baleba senilai £70 juta.
Opsi alternatif lain pun menemui jalan buntu. Barcelona hanya bersedia melepas Alejandro Balde lewat penjualan permanen, sementara Jorge Salinas lebih memilih pinangan Atletico Madrid.
Pergerakan di menit-menit akhir untuk meminang Rayan Ait-Nouri juga kandas setelah klub pemilik menuntut klausul wajib beli—hal yang secara tegas ditolak oleh kubu Old Trafford.
Langkah mundur ini menegaskan satu hal: manajemen baru di bawah naungan INEOS lebih memilih menanggung risiko ketimbang mengulang dosa masa lalu dengan membeli pemain “tambal sulam” yang tak efektif seperti kasus Alex Telles, Matteo Darmian, atau Sergio Reguilon.
Siasat Eksperimen Carrick dan Opsi Darurat
Dengan keputusan tersebut, Carrick dituntut memutar otak memanfaatkan kedalaman skuad yang ada hingga United siap berburu Lewis Hall secara maksimal musim depan.
Shaw jelas tetap menjadi pilihan utama. Namun jika kondisi darurat menghampiri, Noussair Mazraoui dan Diogo Dalot siap digeser untuk beroperasi di sisi kiri. Selain itu, bek muda berusia 19 tahun, Harry Amass, juga disiapkan sebagai opsi pelapis.
Di sisi lain, keberanian manajemen mengambil keputusan ini tak lepas dari suksesnya eksperimen terhadap Leny Yoro. Ditebus seharga £52 juta untuk posisi bek tengah, pemain berusia 20 tahun tersebut justru tampil mengkilap saat dipasang sebagai bek kanan.
Kecepatan, kekuatan fisik, serta ketenangannya menguasai bola membuat Yoro beradaptasi dengan sangat mulus.
Kehadiran Yoro di sisi kanan memberi fleksibilitas bagi Dalot atau Mazraoui untuk lebih sering beroperasi di sayap kiri—sebuah skema taktis yang mengingatkan publik pada transformasi Josko Gvardiol di Manchester City.
Keputusan tidak mendatangkan bek kiri anyar jelas merupakan sebuah perjudian besar, namun dihitung dengan sangat matang. Secara finansial dan strategi jangka panjang, menolak panik di bursa transfer adalah langkah yang sangat masuk akal.
Kendati demikian, ketangguhan benteng pertahanan Manchester United di tengah jadwal padat mendatang yang akan menjadi hakim pemungkas atas keberhasilan judi taktis ini.
Scr/Mashable















