Pemerintah Indonesia mengungkap hasil evaluasi terbaru penerapan PP Tunas terhadap sejumlah platform digital berisiko tinggi yang banyak digunakan anak Indonesia. Roblox disebut menunjukkan perubahan paling progresif, sementara X dan platform milik Meta masih dinilai belum optimal melindungi pengguna anak.
Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid mengatakan evaluasi dilakukan setelah enam bulan implementasi Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak atau PP Tunas.
Regulasi tersebut ditandatangani Presiden Prabowo Subianto pada 28 Maret 2025. Pelaksanaannya kemudian diperkuat melalui Peraturan Menteri Komunikasi dan Digital Nomor 9 Tahun 2026 yang diterbitkan pada Maret 2026.
“Enam bulan setelah implementasi PP Tunas, kami mencatat secara total 28 juta akun anak Indonesia kini telah mendapat perlindungan dari berbagai risiko. Ini kontribusi dari berbagai platform di ranah digital,” kata Meutya di Kantor Kementerian Komunikasi dan Digital, Jakarta Pusat, Senin, 14/09/2026).
Pemerintah sejak awal menetapkan delapan platform digital dengan profil risiko tinggi sebagai fokus pengawasan pelaksanaan PP Tunas. Platform tersebut mencakup YouTube, TikTok, Facebook, Instagram, Threads, X, Bigo Live, dan Roblox.
Evaluasi pemerintah menunjukkan tingkat kepatuhan maupun perubahan fitur pada masing-masing platform masih tidak merata. Beberapa perusahaan telah melakukan intervensi terhadap jutaan akun anak, sementara platform lainnya dinilai belum menunjukkan langkah yang sebanding dengan jumlah pengguna di Indonesia.
Roblox Dinilai Paling Progresif Jalankan PP Tunas
Dari delapan platform yang diawasi, Roblox menjadi salah satu perusahaan yang mendapat penilaian paling positif dari Kemenkomdigi. Platform gim tersebut dinilai melakukan perubahan cukup signifikan setelah mendapatkan masukan pemerintah terkait perlindungan anak.
“Masukan kami, yang paling melakukan perubahan cukup progresif adalah Roblox yang telah mengembangkan dan menerapkan sejumlah modifikasi fitur perlindungan anak yang khusus awalnya khusus diterapkan di Indonesia dan berdampak langsung terhadap pengguna,” ujar Meutya.
Perubahan yang dilakukan Roblox mencakup penerapan mekanisme age gate system, klasifikasi fitur berdasarkan kelompok usia, serta penggunaan teknologi age estimation untuk memperkirakan usia pengguna.
Melalui mekanisme tersebut, Roblox disebut telah memindahkan secara otomatis sekitar 23 juta akun anak menuju Roblox Kids. Langkah itu menjadi salah satu intervensi terbesar yang tercatat dalam implementasi PP Tunas hingga saat ini.
Roblox juga menggunakan teknologi pengenalan wajah dalam proses estimasi usia pengguna. Teknologi tersebut digunakan untuk membantu platform menentukan apakah pengguna termasuk dalam kelompok usia tertentu dan fitur apa yang dapat mereka akses.
Penerapan tersebut mendapat perhatian pemerintah karena tidak sekadar membatasi akun melalui notifikasi. Roblox dinilai melakukan perubahan teknis pada layanan sehingga pengalaman pengguna anak berbeda dengan pengguna yang sudah memenuhi batas usia tertentu.
Model seperti ini sejalan dengan tujuan PP Tunas, yakni mendorong platform digital tidak hanya mengandalkan pernyataan usia pengguna tetapi juga menyediakan mekanisme perlindungan yang lebih konkret.
Pemerintah berharap pendekatan serupa dapat diterapkan platform lain yang memiliki jutaan pengguna anak di Indonesia. Namun, hasil evaluasi menunjukkan belum semua perusahaan melakukan perubahan dengan tingkat komitmen yang sama.
X hingga Meta Masih Jadi Sorotan
Kemenkomdigi memberikan perhatian khusus kepada X setelah platform tersebut dilaporkan baru mengunci sekitar 250.000 akun milik pengguna berusia di bawah 16 tahun.
Jumlah tersebut dinilai masih sangat kecil karena pemerintah memperkirakan terdapat sekitar tujuh juta akun anak yang menggunakan X di Indonesia.
Perbedaan besar antara jumlah pengguna anak dan akun yang telah diintervensi membuat pemerintah menilai upaya X belum mencerminkan semangat perlindungan anak yang ingin diwujudkan melalui PP Tunas.
“Kami menilai upaya tersebut tidak dan belum pada semangat perlindungan anak di Indonesia,” kata Meutya.
Selain persoalan jumlah akun, pemerintah juga menyoroti belum adanya kantor perwakilan X di Indonesia. Kondisi tersebut dianggap mempersulit koordinasi, pemantauan, serta evaluasi pemerintah terhadap implementasi PP Tunas.
“Kita juga berharap X dapat segera membuka kantor perwakilan di Indonesia dalam kerangka juga memudahkan kami memonitor pelaksanaan PP Tunas yang dilakukan oleh platform ini,” ujarnya.
Platform di bawah Meta juga menjadi perhatian Kemenkomdigi. Perusahaan tersebut mengelola Facebook, Instagram, dan Threads, yang seluruhnya masuk dalam daftar platform berisiko tinggi dalam implementasi PP Tunas.
Meta disebut mulai memberikan notifikasi kepada pengguna berusia di bawah 16 tahun sejak 13 Juli 2026. Namun, pemerintah masih mempertanyakan skala intervensinya dibandingkan besarnya jumlah pengguna anak.
Meta terakhir melaporkan pemblokiran sekitar 184.000 akun Facebook milik anak. Data itu dilaporkan pada Mei 2026 dan hingga September belum terdapat pembaruan angka yang diterima pemerintah.
Padahal, Kemenkomdigi memperkirakan terdapat sekitar 33 juta akun anak di seluruh platform yang berada di bawah kelompok Meta.
“Namun ini dilaporkan terakhir pada bulan Mei tahun 2026. Meta belum melakukan update tambahan terhadap laporan di Mei 2026, sehingga kami juga menilai bahwa angka ini masih jauh dari total jumlah anak yang kita duga di seluruh grup Meta ada kurang lebih 33 juta anak,” kata Meutya.
Meutya bahkan menilai kondisi tersebut memperlihatkan perlindungan terhadap anak masih belum berjalan sesuai harapan pemerintah.
“Dengan demikian, kami juga menilai bahwa Meta masih gagal dalam melindungi anak-anak di Indonesia,” tegasnya.
Evaluasi itu membuat Instagram ikut berada dalam sorotan meskipun data pemblokiran yang disampaikan pemerintah secara spesifik berasal dari Facebook. Sebagai bagian dari ekosistem Meta, Instagram termasuk platform yang diwajibkan meningkatkan perlindungan pengguna berusia anak berdasarkan PP Tunas.
YouTube, TikTok, dan Bigo Live Belum Perbarui Data
YouTube yang berada di bawah Google sebelumnya melaporkan telah melakukan penindakan terhadap lebih dari 600.000 akun anak pada April 2026.
Namun, sejak laporan tersebut disampaikan, pemerintah belum menerima perkembangan terbaru mengenai jumlah akun anak yang telah ditindak atau mendapatkan pembatasan tambahan.
Kemenkomdigi tetap memberikan apresiasi terhadap penerapan fitur Safe Search oleh YouTube. Fitur tersebut dinilai membantu menyaring sebagian konten yang berpotensi tidak sesuai bagi pengguna usia anak.
Meski demikian, pemerintah menilai masih banyak anak yang dapat mengakses YouTube sehingga kewajiban perlindungan sebagaimana diarahkan dalam PP Tunas belum sepenuhnya terpenuhi.
Kondisi hampir serupa ditemukan pada TikTok. Platform video pendek tersebut sebelumnya melaporkan telah menonaktifkan sekitar 4,1 juta akun anak.
Angka itu terbilang jauh lebih besar dibandingkan beberapa platform lain. Namun, Kemenkomdigi menyoroti data tersebut sudah berusia sekitar empat bulan dan belum diperbarui.
“Sejak empat bulan lalu, TikTok juga belum melakukan update terhadap angka jumlah akun anak yang telah diintervensi, dan juga belum melaporkan perubahan fitur secara signifikan yang diambil dalam kerangka perlindungan anak sesuai dengan arahan atau yang termaktub dalam PP Tunas,” ujar Meutya.
Pemerintah ingin platform tidak berhenti pada penghapusan atau penonaktifan akun. Perubahan desain layanan, pembatasan fitur berdasarkan usia, hingga mekanisme verifikasi usia menjadi bagian penting dalam implementasi PP Tunas.
Bigo Live juga telah melaporkan tindakan terhadap akun yang diduga digunakan anak. Platform tersebut tercatat menonaktifkan sebanyak 9.409 akun anak.
Menurut Meutya, Bigo Live memiliki karakter berbeda karena secara resmi menetapkan layanan mereka hanya untuk pengguna berusia 18 tahun ke atas.
“Bigo Live ini telah memang menjadi akun untuk di atas 18 tahun. Jadi dari sisi notifikasi dari Bigo Live-nya sendiri, mereka bahkan mengatakan ini bukan 16 tahun ke atas, tapi 18 tahun ke atas,” kata Meutya.
Dengan ketentuan tersebut, akun anak yang masih ditemukan menggunakan Bigo Live seharusnya tidak memenuhi syarat usia pengguna platform.
Evaluasi enam bulan implementasi PP Tunas pada akhirnya menunjukkan pemerintah masih menghadapi tantangan besar dalam memastikan perlindungan anak diterapkan secara konsisten oleh seluruh perusahaan digital.
Sebanyak 28 juta akun anak memang telah mendapat bentuk perlindungan dari berbagai platform. Namun, perbedaan antara jumlah akun yang diintervensi dan perkiraan jumlah pengguna anak menunjukkan ruang perbaikan masih sangat besar.
Roblox menjadi contoh platform yang dinilai pemerintah mengambil perubahan lebih progresif karena melakukan modifikasi fitur dan menggunakan sistem estimasi usia, bukan hanya melakukan penghapusan akun setelah pelanggaran ditemukan.
Sebaliknya, X menghadapi tekanan karena jumlah akun yang ditindak masih jauh dibandingkan perkiraan tujuh juta pengguna anak. Belum adanya kantor perwakilan X di Indonesia juga menjadi persoalan tambahan bagi Kemenkomdigi.
Meta menghadapi sorotan tidak kalah besar karena laporan terakhir baru menunjukkan 184.000 akun Facebook anak diblokir, sementara pemerintah memperkirakan terdapat sekitar 33 juta pengguna anak di seluruh layanan Meta.
YouTube dan TikTok memang telah melaporkan intervensi terhadap ratusan ribu hingga jutaan akun. Namun, pemerintah meminta pembaruan data serta perubahan fitur yang lebih jelas untuk memastikan pelaksanaan PP Tunas tidak berhenti sebatas laporan statistik.
Dengan meningkatnya penggunaan media sosial, platform video, serta gim daring oleh kelompok usia muda, pemerintah menempatkan PP Tunas sebagai instrumen utama untuk memaksa perusahaan teknologi membangun ruang digital yang lebih aman bagi anak Indonesia.
Evaluasi berikutnya akan menjadi penting untuk melihat apakah platform yang saat ini dinilai tertinggal mampu mengejar standar yang diterapkan pemerintah, termasuk memperkuat verifikasi usia, membatasi fitur berisiko, dan memberikan perlindungan yang benar-benar berdampak bagi pengguna anak.
Scr/Mashable
















