Menarik kembali kejadian-kejadian yang belakangan terjadi di bumi pertiwi. Negara ini sedang tidak baik-baik saja, atau dunia saat ini sedang tidak baik-baik saja?
Kepanikan nasional sedang gonjang-ganjing, mulai dari gemuruh UU perampasan aset, kebarakan hutan, gempa bumi, abu vulkanik, 5 jurnalis dan 3 kru kapal hilang—alfatihah! kapal laut terbalik, sampai Maudy Ayunda yang di cancel karena tone deaf tidak pro palestine.
Harus Tetap Waras?
Saat ini kita harus tetap tenang, walaupun tidak perduli saat perut kenyang. Empati dan rasionalitas kita terus-terusan diuji, dengan berita-berita yang sliweran di sosial media.
Siapa yang tidak kesal? pemerintah begitu mudah mengambil kebijakan-kebijakan yang menurut kita tidak semestinya dilakukan seperti membakar hutan.
Disaat dunia sedang dilanda El Nino (gelombang panas) mereka dengan sadarnya meloloskan pohon-pohon yang berfungsi sebagai penyejuk untuk dibakar, demi stabilitas ekonomi.
Siapa yang tidak geram? melihat mereka para pejabat berusaha meloloskan UU perampasan aset dengan melobby warga Pati untuk berorasi didepan gedung DPR, padahal aparatur pengak hukumnya saja masih tidak kredibel?
Bayangkan, warga Pati dengan heroik berteriak koruptor harus dihukum mati, padahal banyak dari narapidana korupsi dijebak. Sengeja diseret, untuk menutupi dalang utama korupsi tersebut?
Pemerintahan kita saat ini sangat amat mudah memainkan narasi, tidak hanya di sosial media yang sebenarnya bikin kita muak. Sekarang mereka terang-terangan membolak-balikan narasi di kehidupan nyata!
Bung Rocky sudah selesai Party
Siapa yang tidak kecewa? seorang filsuf andalan kita, atau minimal gue yang mengikuti cara berfikir Rocky Gerung—sejak awal kuliah, kini sudah beralih profesi sebagai jubir pemerintah.
Kemarin, gue ngeliat diskusinya bersama Feri Amsari di kanal Youtube. Rocky berkata “ngapain takut sama tentara yang nanem jagung?” maaf bung, kali ini gue kurang sepakat dengan pernyataan anda.
Memang benar sih, kita selama ini takut dengan tentara yang turut serta dalam kegiatan sipil. Tentara ditumpulkan, dan fungsi tentara bukan soal keamanan tetapi juga ketahanan, ketahanan pangan misalnya.
Tetapi, gue tetep ga srek! karena tentara dibentuk dengan cara pandang yang berbeda dari masyarakat sipil. Tentara selalu berfikir dengan otot dan senjata!
Yang gue lihat, ada keuntungan terselubung dari kebijakan tentara nanem jagung dan membangun Kopdes. Yaitu menambah pasukan militer, merubah masyarakat sipil yang siap perang, layaknya wajib militer seperti negara-negara yang kekurangan personel. Menunjukan kepada dunia, bahwa kita adalah bangsa yang kuat.
Apa gunanya? yap, tidak lain dan tidak bukan, menjaga stabilitas ekonomi dan politik. Prabowo menginginkan masyarakat yang ngangguk, yang bisa di atur demi kelancaran investasi. Biar investor ga kabur, masyakat harus diatur!
Tetapi, untungnya kita masih punya kreativitas, agar bisa terlepas dari jiwa-jiwa yang mengangguk, dan bersuara Mbeeee~ P.U.N.K istilahnya, Pemuda Urakan Namun Kreatif.
Negara tidak akan pernah mendengar!
Ini yang sedang dirancang di era pemerintahan Prabowo, ia ingin percepatan, hilirisasi, dan penurunan kemiskinan bisa terus ditekan. Mega proyek layaknya MBG itu adalah kebijakan yang sangat luar biasa!
Bayangkan, siapa yang bisa ngasih makan seluruh anak Indonesia, mulai dari ibu hamil sampai anak SMA? ini cita-cita yang sangat amat mulia, mandat konstitusi, tetapi hanya terkendala dengan menejerial yang kurang baik.
Lalu kita bisa apa? sayangnya kita tidak bisa berbuat apa-apa! Indonesia sudah diatur sedemikian rupa. Negara ini tidak akan pernah mendengar, layaknya kita.
Apakah kita lupa? gue atau lo pun sama, selalu tidak mau mendengar dan merasa terancam saat diberi masukan/kritik. Itu sudah tertancap di Amigdala kita. Apalagi negara?
Namun, mungkin ada sedikit cercah. Setiap orang akan bisa berubah jika terus-terusan didesak dari berbagai arah. Begitupun negara. Negara tidak akan pernah mau mendengar, baik itu dari mulut pakar yang berbusah. Atau dari nyamuk yang membuatnya resah. Negara hanya akan mendengar jika terdapat gejolak politik yang mengancam stabilitas negara!
Kita pernah punya sejarah mengusir penjajah dan membuat Seoharto turun dari tahta dan titah. Tetapi apakah kita rela, menukar darah dan kesengsaraan demi sebuah cercah?
Penutup
Jika merah itu darah, maka putih adalah mati. Sepertinya untuk saat ini yang bisa kita lakukan adalah hidup seperti biasanya saja. Menjalani hari seperti biasa, bekerja, membeli sebuah kopi sambil bersuara memperjuangan hak-hak sesama, beristirahat, menjadi tua, mati menjadi bangkai ditanah yang kaya. Tumbuh, lalu menjadi pohon yang terbawa bencana. Tamat.




















