Di era layanan parkir yang semakin otomatis dengan sistem tiket digital, pembayaran non-tunai, dan palang pintu yang bergerak sendiri, ada satu elemen yang tak pernah tergantikan: manusia di balik layar.
Tepat pada peringatan Hari Kartini, Secure Parking Indonesia (SPI) mengangkat narasi yang jarang tersorot yaitu peran puluhan perempuan yang selama lebih dari tiga dekade menjadi tulang punggung operasional parkir modern di Tanah Air.
Bukan sekadar “petugas parkir”, mereka adalah manajer lapangan, pengawas keamanan, hingga administrator yang memastikan ribuan kendaraan keluar-masuk setiap hari tanpa kekacauan. Kisah mereka adalah potret lain dari emansipasi: bekerja di medan yang penuh tekanan, jam panjang, dan risiko nyata.
31 Tahun di Pos Jaga, Single Parent yang Berhasil
Pukul 05.50 pagi, jauh sebelum pusat perbelanjaan di Jakarta Selatan itu membuka pintu, Eni Wulandari sudah tiba. Ia menyempatkan diri salat Dhuha sebelum mengambil alih pos jaga dari rekan yang bertugas semalam. Lapangan parkir mal tersebut beroperasi 24 jam non-stop.
Sudah 31 tahun Eni menjalani rutinitas ini. Bukan karena paksaan, tetapi karena pilihan. “Saya suka pekerjaan ini karena bisa melayani masyarakat,” katarnya dengan nada sederhana.
Namun di balik kesederhanaan itu, ada perjuangan yang tidak ringan. Eni adalah seorang single parent yang membesarkan dua anak seorang diri dari gaji dan tanggung jawabnya di pos parkir. Ia selalu kebagian jadwal pagi hingga sore, sebuah konsistensi yang memungkinkannya tetap hadir untuk anak-anak sepulang kerja.
“Yang laki-laki bisa kerjakan, insya Allah perempuan juga bisa,” tegas Eni.
Kebanggaan terbesarnya bukanlah promosi jabatan, melainkan fakta bahwa ia bisa menghidupi dan menyekolahkan anak-anaknya sampai mereka bisa bekerja. Sebuah pencapaian yang tidak pernah ia anggap sebagai pengorbanan, melainkan tanggung jawab.
Hadapi Senjata Tajam dengan Kepala Dingin

Jika Eni berada di pos jaga, Lince Megawati Hutabarat telah menapaki jenjang karier hingga menjadi Car Park Manager (CPM) di sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta Utara. Bergabung sejak 1996, saat parkir bertingkat masih dianggap mewah, Lince memulai dari posisi kasir.
Perjalanannya tidak mulus. Salah satu momen paling berkesan—dan menegangkan—adalah ketika ia didatangi preman yang membawa senjata tajam saat bertugas.
“Bagi sebagian orang, situasi itu bisa menjadi alasan untuk mundur. Bagi saya, tidak,” kenang Lince. “Saya menghadapinya dengan kepala dingin, sabar, dan menyerahkan semuanya kepada Tuhan.”
Prinsip yang ia pegang selama tiga dekade sederhana namun berat: “Kalau kita sudah diberikan kepercayaan, kita harus bertanggung jawab dan harus jujur.” Bagi Lince, kepercayaan pelanggan bukanlah hak istimewa (privilege), melainkan amanah yang harus dijaga setiap saat.
Sambil Raih Gelar Diploma

Kisah Endang Lestari adalah bukti bahwa pos jaga parkir bisa menjadi batu loncatan. Datang dari Ponorogo, Jawa Timur, dengan tekad untuk mandiri dan tidak menjadi beban orang tua, Endang bersaing keras di ibu kota. Ia akhirnya diterima bekerja di SPI.
Namun, ia tidak berhenti di situ. Sambil bekerja di garda depan layanan parkir, Endang menyelesaikan pendidikan Diploma III Akuntansi di STEI Rawamangun. Malam demi malam ia gunakan untuk belajar di sela-sela jadwal kerjanya.
Kini, setelah 29 tahun mengabdi, Endang menjabat sebagai staf administrasi SPI di sebuah gedung perkantoran di Tebet, Jakarta Selatan. Setiap pagi pukul 07.00, ia sudah di lapangan: mengecek aset, memastikan operasional berjalan, merekap data pendapatan harian hingga bulanan.
“Tanggung jawab utama saya adalah memastikan seluruh operasional parkir berjalan dengan tertib, lancar, dan sesuai prosedur setiap hari,” ujarnya.
Tantangan terbesar? Gangguan teknis yang sering muncul di jam sibuk. “Saya menyikapinya dengan tetap tenang dan fokus mencari solusi. Kalau ada kendala, saya segera berkoordinasi dengan tim.”
20 Lebih Lokasi, Satu Prinsip Kuat

Margareta Purwanti bergabung sejak 1998. Dalam 28 tahun terakhir, ia telah menangani lebih dari 20 lokasi parkir di Jabodetabek, mulai dari pusat perbelanjaan, kampus, hingga mal terbesar di Tangerang.
Di setiap lokasi, tanggung jawabnya tetap: memastikan administrasi akurat, tepat waktu, dan dapat diandalkan.
“Menjadi perempuan harus kuat dan semangat. Harus berpenghasilan dan mandiri,” pesannya. “Kalau kita terlalu bergantung pada orang lain dan tidak menjaga diri sendiri, nantinya kita akan rapuh.”
Dedikasi para perempuan ini mendapat apresiasi langsung dari manajemen puncak Secure Parking Indonesia.
Queenta Sylvia, Deputy Managing Director SPI, menyatakan bahwa tanpa peran mereka, perusahaan tidak akan menjadi pelopor layanan parkir modern seperti sekarang.
“Perempuan-perempuan ini bukan sekadar menjalankan tugas, mereka adalah fondasi dan tulang punggung kepercayaan yang kami bangun bersama pelanggan selama lebih dari tiga dekade,” ujar Queenta.
“Di Hari Kartini ini, kami bangga menyebut nama mereka. Bukan karena mereka istimewa sebagai perempuan, tetapi karena mereka luar biasa sebagai profesional.”
Di era yang ramai membicarakan otomatisasi, artificial intelligence, dan sistem tanpa sentuhan, kisah Eni, Lince, Endang, dan Margareta menyentil sebuah fakta: teknologi parkir secanggih apa pun tetap membutuhkan manusia berintegritas.
SPI sendiri dikenal dengan inovasi seperti Epsilon Parking System (EPS) dan eNOS. Namun, dari pengakuan para pekerja lapangan, sistem yang paling sulit digantikan oleh mesin bukanlah palang otomatis, melainkan kemampuan membaca situasi, menghadapi tekanan, dan menjaga kepercayaan—sesuatu yang selama ini justru dikuasai oleh para Kartini di garda depan.
Scr/Mashable





















