Mashable Indonesia – Google Cloud memperkenalkan rangkaian inovasi kecerdasan buatan (AI) terbaru dalam ajang Google Cloud Next ’26 yang digelar pada 22 April 2026. Teknologi ini dirancang untuk mendorong transformasi perusahaan menuju konsep “Agentic Enterprise”, yakni organisasi yang mengandalkan agen AI otonom dalam operasional bisnis.
Inovasi yang diperkenalkan mencakup platform agen AI terbaru berbasis Gemini, Tensor Processing Unit (TPU) generasi ke-8, hingga pembaruan di bidang data, keamanan, dan produktivitas.
Seluruh teknologi tersebut dibangun dalam satu ekosistem terintegrasi guna mengubah AI dari sekadar alat bantu menjadi mesin pertumbuhan bisnis.
CEO Sundar Pichai mengatakan penggunaan AI kini berkembang pesat dan mulai masuk tahap baru. Ia menyebut tantangan perusahaan bukan lagi membuat AI, tetapi mengelola banyak agen AI sekaligus.
“Pada kuartal pertama 2026, kami melihat pertumbuhan 40%. Percakapan telah bergeser dari ‘Bisakah kita membangun agen?’ menjadi ‘Bagaimana kita mengelola ribuan agen?’ Oleh karena itu, kami memperkenalkan Gemini Enterprise Agent Platform terbaru,” ujarnya, dalam keterangan resmi yang diterima, belum lama ini.
Sementara itu, CEO Thomas Kurian menegaskan bahwa sistem baru ini dirancang terintegrasi agar lebih efisien dalam mengelola AI di perusahaan.
“Gemini Enterprise kini menjadi sistem end-to-end yang mentransformasi seluruh proses menjadi satu alur cerdas,” kata Kurian.
Google Cloud mencatat hampir 75% pelanggannya telah menggunakan teknologi AI untuk mendukung operasional bisnis. Di Asia Tenggara, sejumlah perusahaan seperti CIMB Niaga, DBS, dan Emtek Group mulai mengintegrasikan AI dalam layanan mereka.
Sebagai contoh, CIMB Niaga telah mengembangkan agen AI berbasis Gemini untuk meningkatkan layanan perbankan. Teknologi ini membantu staf memberikan rekomendasi finansial yang lebih personal dan proaktif kepada nasabah.
Di sektor ritel, FairPrice Group memanfaatkan AI dalam konsep “Store of Tomorrow” melalui integrasi agen AI ke dalam keranjang belanja pintar. Sementara itu, perusahaan global seperti NASA hingga Virgin Voyages juga mengadopsi teknologi serupa untuk berbagai kebutuhan operasional.
Salah satu sorotan utama adalah peluncuran Gemini Enterprise Agent Platform, evolusi dari Vertex AI, yang memungkinkan perusahaan membangun dan mengelola ribuan agen AI dalam satu sistem. Platform ini juga mendukung lebih dari 200 model AI, termasuk Gemini 3.1 dan model dari Anthropic.
Selain itu, Google Cloud memperkenalkan TPU generasi ke-8 dengan dua varian, yakni TPU 8t untuk pelatihan model dan TPU 8i untuk proses inferensi. Teknologi ini diklaim mampu meningkatkan efisiensi hingga 80% dari sisi performa per biaya dibanding generasi sebelumnya.
Dalam 12 bulan terakhir, tercatat ratusan pelanggan Google Cloud telah memproses lebih dari satu triliun token, dengan total pemrosesan mencapai 16 miliar token per menit melalui API—menunjukkan lonjakan signifikan dalam penggunaan AI skala besar.
Google Cloud juga memperkenalkan konsep Agentic Data Cloud, arsitektur data berbasis AI yang memungkinkan integrasi lintas platform tanpa perlu memindahkan data. Teknologi ini didukung fitur seperti Cross-Cloud Lakehouse dan Lightning Engine untuk pemrosesan data real-time.
Di sisi keamanan, perusahaan menghadirkan sistem pertahanan berbasis AI untuk menghadapi ancaman siber yang semakin kompleks. Salah satu inovasinya adalah agen investigasi otomatis yang mampu memangkas waktu analisis dari 30 menit menjadi hanya 60 detik.
Transformasi menuju Agentic Enterprise disebut sebagai langkah besar berikutnya dalam evolusi teknologi bisnis. Dengan agen AI yang mampu memahami konteks, mengambil keputusan, dan menjalankan tugas secara mandiri, perusahaan diharapkan dapat meningkatkan efisiensi sekaligus membuka peluang pertumbuhan baru.
“Transformasi menuju Agentic Enterprise adalah masa depan setiap organisasi, dan Google Cloud secara unik menghadirkan sistem terpadu untuk mewujudkannya,” tutup Kurian.
Scr/Mashable


















