Jam tangan pintar kini bukan lagi sekadar perangkat penunjuk waktu atau penghitung langkah.
Dalam beberapa tahun terakhir, smartwatch telah berkembang menjadi perangkat kesehatan canggih yang mampu memantau detak jantung, kualitas tidur, kadar stres, hingga metrik kebugaran penting seperti Heart Rate Variability (HRV).
Namun, studi terbaru dari Georgia Southern University mengungkap bahwa kemampuan pengukuran HRV pada Garmin Forerunner 265 ternyata belum sepenuhnya akurat untuk kebutuhan serius, terutama bagi atlet dan pengguna profesional.
Temuan ini menjadi sorotan karena HRV saat ini dianggap sebagai salah satu indikator penting untuk mengetahui kondisi pemulihan tubuh, tingkat stres, hingga potensi overtraining pada atlet.
Apa Itu HRV dan Mengapa Penting?
Heart Rate Variability atau HRV adalah variasi jeda waktu antara satu detak jantung dengan detak berikutnya. Berbeda dengan pengukuran denyut jantung biasa yang hanya menghitung jumlah detak per menit, HRV menganalisis ritme serta perubahan interval antar denyut.
Semakin baik HRV seseorang, biasanya tubuh dianggap memiliki kemampuan pemulihan dan adaptasi yang lebih baik terhadap stres fisik maupun mental.
Karena itulah banyak atlet, pelari, hingga pengguna smartwatch modern memanfaatkan data HRV untuk mengatur intensitas latihan, kualitas istirahat, dan menjaga kondisi tubuh tetap optimal.
Studi Temukan Pengukuran HRV Garmin Belum Konsisten
Penelitian terbaru yang dibahas dalam laporan tersebut melibatkan 30 orang dewasa sebagai partisipan. Studi ini membandingkan hasil pengukuran smartwatch Garmin Forerunner 265 dengan alat medis elektrokardiogram atau ECG satu kanal yang dikenal lebih akurat.
Hasilnya cukup menarik. Pengukuran detak jantung saat istirahat menunjukkan hasil yang sangat baik, tanpa bias signifikan, dengan tingkat kesesuaian relatif dan absolut yang sangat tinggi serta batas kesepakatan 95% yang sempit di semua posisi tubuh.
Namun berbeda dengan hasil HRV. Pengukuran root-mean square of successive differences (RMSSD) dan standar deviasi interval RR normal menunjukkan tingkat kesalahan yang lebih besar (heteroskedastisitas) serta kecenderungan hasil yang lebih rendah dari nilai sebenarnya (bias proporsional) ketika nilainya meningkat.
Selain itu, tingkat kesesuaian absolut dan relatif untuk pengukuran HRV tergolong buruk di semua posisi tubuh, terutama saat berdiri.
Dengan kata lain, data HRV dari smartwatch tersebut dinilai masih memiliki deviasi yang cukup besar dibanding alat medis.
Kenapa Pengukuran HRV Lebih Sulit?
Pengukuran HRV memang jauh lebih kompleks dibanding sekadar membaca denyut jantung biasa.
Sensor optik pada smartwatch bekerja dengan mendeteksi perubahan aliran darah di bawah kulit menggunakan cahaya. Metode ini cukup efektif untuk menghitung detak jantung umum, tetapi menjadi lebih sulit ketika harus membaca interval mikro antar denyut secara presisi.
Faktor seperti posisi tangan, warna kulit, gerakan tubuh, suhu, hingga tekanan smartwatch pada pergelangan juga dapat memengaruhi akurasi pembacaan HRV.
Inilah alasan mengapa perangkat wearable sering kali masih kalah akurat dibanding ECG medis yang membaca sinyal listrik langsung dari jantung.
Meski hasil studi terdengar kurang positif untuk HRV, bukan berarti Garmin kehilangan daya tariknya.
Garmin Forerunner 265 tetap menjadi salah satu smartwatch olahraga populer berkat fitur fitness lengkap, GPS akurat, daya tahan baterai panjang, dan ekosistem olahraga yang sangat kuat.
Untuk pengguna umum, data HRV dari smartwatch sebenarnya masih cukup berguna sebagai indikator kasar kondisi tubuh sehari-hari. Namun bagi atlet profesional atau peneliti yang membutuhkan akurasi tinggi, penggunaan alat medis khusus tetap menjadi pilihan terbaik.
Scr/Mashable





















