Demam kecerdasan buatan (AI) yang melanda dunia saat ini memicu kebutuhan infrastruktur penyimpanan data ke tingkat tertinggi dalam sejarah. Raksasa teknologi dunia seperti Google, Microsoft, dan Meta berlomba-lomba membangun pusat data (data center) raksasa hingga seluas ribuan hektare.Namun, ada harga mahal yang harus dibayar.
Jumlah panas ekstrem yang dihasilkan oleh pusat data ini memicu fenomena “pulau panas data” (data heat island) yang memanaskan suhu udara di wilayah sekitarnya.
Untuk mengurangi beban di daratan, raksasa teknologi kini mulai memutar otak mencari jalan keluar baru. Gebrakan paling nekat datang dari Samsung Heavy Industries (SHI)—anak perusahaan galangan kapal milik Samsung Group.
Mereka resmi mengumumkan rencana gila untuk memboyong pusat data AI keluar dari daratan dan mengoperasikannya langsung di atas permukaan laut.
Bukan Pakai Kapal Bekas
Mengubah pusat data menjadi sebuah kapal laut tentu bukan perkara mudah. Berbeda dengan kompetitornya, Hitachi, yang memilih merombak kapal-kapal bekas, Samsung mengambil langkah yang jauh lebih berani: membangun kapal baru dari nol.
Samsung baru saja meneken kesepakatan dengan Capital Clean Energy Carriers, sebuah perusahaan pemilik kapal asal Yunani. Kerja sama ini bertujuan untuk merancang kapal khusus yang siap mengintegrasikan sistem data sejak awal proses manufaktur.
Tak main-main, sebelumnya Samsung juga telah menggandeng Supermicro untuk mendesain sistem server tangguh yang mampu bertahan di lingkungan laut yang ekstrem.
Kantongi Izin Internasional
Seperti laporan yang diungkap oleh Chosun Biz, konsep Pusat Data Terapung (Floating Data Center/FDC) berkapasitas 50 MW milik Samsung ini tidak sekadar isapan jempol. Proyek ini telah resmi mengantongi persetujuan desain dari Badan Klasifikasi Maritim Amerika Serikat (ABS) dan Lloyd’s Register.
Sistem FDC ini dirancang canggih agar bisa menghasilkan listrik sendiri atau menerima pasokan energi yang dialirkan dari darat. Keunggulan utamanya, operasional di laut lepas membuat Samsung bisa memanfaatkan sumber air yang melimpah secara gratis untuk mendinginkan server AI yang super panas, sekaligus mengatasi krisis kelangkaan lahan di darat.
Menantang Ganasnya Alam Laut
Meski terdengar menjanjikan, proyek ambisius ini masih harus melewati ujian berat melalui berbagai uji coba prototipe nyata. Samsung dan para mitranya kini wajib berhadapan dengan ganasnya lingkungan samudra.
Tingkat kelembapan yang tinggi, korosi garam laut yang rawan merusak komponen elektronik, hingga guncangan ombak yang tiada henti menjadi ancaman nyata bagi ketahanan perangkat keras (hardware).
Selain itu, menjaga koneksi internet pita lebar (broadband) agar tetap stabil dengan daratan guna memproses data AI secara real-time masih menjadi pekerjaan rumah yang sangat rumit. Walau begitu, para pihak yang terlibat mengaku sangat optimistis proyek ini akan sukses besar.
“Kolaborasi dengan perusahaan galangan kapal bereputasi tinggi seperti SHI adalah bukti nyata bahwa desain pusat data terapung ini sangat layak secara bisnis,” ungkap Min Suh, CEO Mousterian Corporation.
Langkah Samsung tampaknya kian mantap setelah mereka baru-baru ini menandatangani kesepakatan dengan OpenAI untuk memperluas kapasitas pusat data AI global. Jika uji coba kapal laut ini berhasil, jangan kaget jika infrastruktur penopang model-model AI raksasa di masa depan tidak lagi berada di dalam gudang daratan, melainkan terombang-ambing di lepas pantai.
Scr/Mashable




















