Solusi AI Buatan Pelajar SMA: Dari Pelatih Public Speaking Hingga Detektor Bullying

03.05.2026
Solusi AI Buatan Pelajar SMA: Dari Pelatih Public Speaking Hingga Detektor Bullying
Solusi AI Buatan Pelajar SMA: Dari Pelatih Public Speaking Hingga Detektor Bullying

Teknologi Artificial Intelligence (AI) kini bukan lagi konsumsi laboratorium canggih semata. Dalam ajang ITECH Competition Season 9 yang digelar di STMIK LIKMI, ratusan pelajar SMA/SMK membuktikan bahwa mereka mampu menjadi kreator, bukan sekadar pengguna.

Mengusung tema “AI Playground: Battle of Creators”, kompetisi ini menjadi panggung bagi talenta muda untuk merancang solusi cerdas berbasis AI guna menjawab problematika nyata di lingkungan sekolah.

AI Center Bandung turut ambil bagian secara krusial sebagai dewan juri, mempertegas komitmennya dalam mengawal literasi digital sejak dini.

Menariknya, para peserta tidak hanya berteori; mereka mendemonstrasikan model AI secara langsung menggunakan Teachable Machine. Hal ini memperlihatkan tren baru di mana teknologi AI menjadi kian inklusif, mudah diakses, dan mampu dipahami secara praktis oleh generasi muda.

Sinergi Akademisi dan Industri dalam Penjurian

Kualitas ide para peserta diuji melalui proses penjurian kolaboratif yang ketat. Panel juri diisi oleh pakar dari STMIK LIKMI, yakni Djajasukma Tjahjadi, S.E., M.T. (Wakil Ketua I) dan Dhanny Setiawan, S.T., M.T. (Kepala UP Prodi Teknik Informatika).

Melengkapi sudut pandang akademis tersebut, Lusia Elsa Dika Damayanty selaku Business and Community Lead Telkom AI Connect Bandung, hadir membawa perspektif kebutuhan industri.

Sinergi ini memastikan bahwa karya yang dihasilkan tidak hanya unggul secara teknis, tetapi juga memiliki relevansi implementasi yang kuat di dunia nyata.

AI Center Bandung menitikberatkan penilaian pada kemampuan peserta dalam memposisikan AI sebagai alat pemecah masalah (problem solver) yang kontekstual, sederhana, namun memberikan dampak besar bagi ekosistem pendidikan.

Tiga Inovasi Juara: Dari Keamanan Hingga Kesehatan

Dari puluhan ide yang masuk, tiga tim terbaik terpilih karena gagasan mereka yang dinilai paling aplikatif. Ketiganya berhasil menyentuh isu-isu sensitif dan krusial yang dialami siswa sehari-hari:

  • SMA Santa Angela Bandung (Juara I): Menciptakan AI Teachable Machine for Public Speaking. Model ini membantu siswa melatih kepercayaan diri melalui deteksi gestur dan ekspresi saat berbicara di depan umum.
  • SMA Santo Aloysius Bandung: Mengembangkan Bullying Detector berbasis AI. Inovasi ini berfungsi sebagai sistem deteksi dini (preventif) untuk menciptakan lingkungan sekolah yang aman dari aksi perundungan.
  • SMKN 1 Cimahi: Menawarkan Tracker Konsumsi, sebuah solusi digital untuk memantau pola makan siswa guna mendukung gaya hidup sehat di area sekolah.

AI Sebagai “Tools” Sederhana dengan Dampak Luar Biasa

Lusia Elsa Dika Damayanty memberikan apresiasi tinggi terhadap pola pikir para peserta yang ia nilai setara dengan level mahasiswa atau startup tahap awal.

“Yang paling menarik adalah bagaimana siswa melihat AI bukan sebagai sesuatu yang rumit, melainkan sebagai alat bantu (tools) yang bisa mereka latih sendiri. Ini membuktikan bahwa pendekatan pembelajaran AI yang aplikatif sangat efektif membangun pemahaman sejak dini,” ungkapnya.

Kemampuan berpikir kritis para peserta terlihat jelas saat sesi tanya jawab, di mana mereka mampu mengaitkan AI dengan isu keamanan, kebersihan lingkungan, hingga aktivitas organisasi siswa.

AI Center Bandung memandang momentum ini sebagai bagian dari upaya berkelanjutan untuk mencetak talenta digital yang siap menghadapi masa depan. Melalui kompetisi seperti ITECH Season 9, terlihat jelas bahwa benih inovasi AI kini mulai tumbuh subur, justru dari dalam ruang-ruang kelas sekolah menengah.

Scr/Mashable




Don't Miss