Sony Xperia 1 VIII Dikritik, Fitur AI Kamera Lebih Jelek dari Foto Asli

20.05.2026
Sony Xperia 1 VIII Dikritik, Fitur AI Kamera Lebih Jelek dari Foto Asli
Sony Xperia 1 VIII Dikritik, Fitur AI Kamera Lebih Jelek dari Foto Asli

Fitur kamera berbasis AI milik Sony mendadak menjadi bahan perbincangan hangat di media sosial.

Bukan karena hasilnya memukau, melainkan karena kualitas foto yang dianggap justru lebih buruk dibanding hasil asli kamera smartphone mereka sendiri.

Kontroversi ini muncul setelah Sony memperkenalkan fitur AI Camera Assistant pada smartphone flagship terbaru Sony Xperia 1 VIII.

Alih-alih mendapat pujian, contoh foto yang dibagikan Sony justru menuai kritik dari berbagai kalangan teknologi. Banyak netizen menilai hasil rekomendasi AI terlihat terlalu terang, overexposed, hingga kehilangan detail penting pada gambar.

Situasi tersebut bahkan memancing komentar dari sejumlah figur teknologi terkenal, termasuk Marques Brownlee dan Carl Pei.

Kontroversi ini bermula ketika Sony mengunggah beberapa perbandingan foto untuk menunjukkan kemampuan AI Camera Assistant.

Dalam materi promosi tersebut, Sony memperlihatkan foto asli berdampingan dengan hasil rekomendasi AI. Namun, hampir seluruh hasil AI dianggap lebih buruk dibanding foto awal.

Beberapa pengguna internet menilai hasil AI terlihat terlalu pucat, warna kurang natural, dan pencahayaan menjadi berlebihan. Padahal Sony selama ini dikenal sebagai salah satu perusahaan dengan reputasi kuat di industri kamera dan sensor fotografi.

Setelah mendapat banyak kritik di media sosial, Sony akhirnya memberikan penjelasan resmi melalui platform X.

Dalam klarifikasinya, Sony menegaskan bahwa AI Camera Assistant sebenarnya bukan alat edit foto otomatis setelah gambar diambil.

Sony menjelaskan bahwa fitur tersebut bekerja dengan memberikan empat rekomendasi pengaturan kamera berbeda berdasarkan kondisi objek dan pencahayaan.

Pengguna nantinya dapat memilih salah satu rekomendasi tersebut atau tetap menggunakan pengaturan manual sesuai kebutuhan.

Bersamaan dengan klarifikasi tersebut, Sony juga membagikan contoh foto baru yang dinilai jauh lebih baik dibanding materi promosi sebelumnya.

Pada sampel terbaru, hasil AI terlihat lebih natural dan tidak lagi mengalami overexposure berlebihan seperti sebelumnya.

Meski begitu, penjelasan Sony justru memunculkan pertanyaan baru di kalangan pengguna dan pengamat teknologi.

Banyak yang mempertanyakan alasan Sony memilih contoh foto awal yang dianggap gagal merepresentasikan kemampuan AI Camera Assistant secara optimal.

Sebagian netizen juga mempertanyakan standar kualitas visual Sony. Pasalnya, perusahaan ini dikenal luas sebagai salah satu pemain besar di dunia imaging, termasuk sensor kamera smartphone yang digunakan banyak brand ternama.

Kritik ini menjadi cukup sensitif karena Xperia selama ini diposisikan sebagai smartphone premium untuk pecinta fotografi dan videografi.

Kehadiran fitur AI semestinya membantu pengguna menghasilkan gambar lebih baik, bukan malah memunculkan kesan penurunan kualitas.

Di sisi lain, tren penggunaan AI pada kamera smartphone memang terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir.

Banyak produsen mulai mengandalkan kecerdasan buatan untuk meningkatkan dynamic range, pencahayaan malam, detail wajah, hingga stabilisasi video.

Namun, kasus Sony menunjukkan bahwa implementasi AI dalam fotografi mobile masih menjadi tantangan tersendiri. Penggunaan AI yang terlalu agresif justru dapat membuat hasil foto terlihat tidak natural dan kehilangan karakter asli gambar.



Scr/Mashable




Don't Miss