Akhir Sebuah Rivalitas Abadi: Lionel Messi Menepi, Biarkan Cristiano Ronaldo Berlari Sendirian Melawan Waktu

01.09.2026
Sederet Rekor Tak Masuk Akal yang Bisa Dipecahkan Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo di Piala Dunia 2026
Sederet Rekor Tak Masuk Akal yang Bisa Dipecahkan Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo di Piala Dunia 2026

Selama hampir dua dekade, dunia sepak bola terbiasa dengan narasi bahwa Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo akan selalu hadir berdampingan. Ketika satu nama mencetak rekor baru, nama lainnya akan langsung merespons dengan pencapaian yang tak kalah gila.

Saat Messi tampil magis bersama Barcelona, Ronaldo membalasnya dengan musim-musim fenomenal dalam balutan seragam Real Madrid.

Karier keduanya berjalan layaknya dua garis lurus yang sejajar, terus menarik standar sepak bola dunia ke level yang belum pernah tersentuh sebelumnya. Namun, siklus epik itu kini berubah wujud setelah salah satu dari mereka memutuskan pamit dari panggung tim nasional.

Lionel Messi resmi gantung sepatu dari tim nasional Argentina pada usia 39 tahun, menutup perjalanan panjang 21 tahun yang diwarnai 125 gol dalam 207 pertandingan, satu trofi Piala Dunia, dan dua gelar Copa America. Di sisi lain, Ronaldo yang kini menginjak usia 41 tahun masih menolak menyerah, terus mencetak gol untuk Al Nassr tanpa pernah menetapkan tenggat waktu pasti untuk pensiun.

Untuk pertama kalinya dalam sekian tahun, balapan epik ini hanya menyisakan satu pelari.

Rivalitas yang Kehilangan Sang Penantang Utama

Persaingan Messi dan Ronaldo tidak pernah sebatas gengsi di El Clasico. Perseteruan mereka merasuk ke dalam setiap perdebatan tentang rasio gol, Ballon d’Or, trofi Liga Champions, hingga kejayaan di turnamen internasional. Ronaldo mengoleksi lima Ballon d’Or, Messi membalas dengan delapan.

Ronaldo menahbiskan dirinya sebagai “Raja Liga Champions”, sementara Messi menjadi pusat dari poros Barcelona yang pernah menaklukkan daratan Eropa.

Bahkan ketika keduanya hijrah dari sepak bola elite Eropa—Messi ke Amerika Serikat dan Ronaldo ke Arab Saudi—komparasi itu menolak mati. Selama keduanya masih mengolah si kulit bundar, rivalitas itu tetap bernapas, meski mereka tak lagi sering berjumpa di lapangan dan tak pernah secara terbuka menyatakan permusuhan.

Kini, Messi secara sukarela memutus salah satu urat nadi terpenting dari rivalitas tersebut. Ia mundur dari skuat La Albiceleste bukan karena bensinnya sudah habis, melainkan karena ia merasa perjalanan internasionalnya sudah mencapai titik akhir yang tak perlu lagi diperpanjang.

Ini adalah anomali dari sebagian besar riwayat kariernya. Messi pernah menghabiskan bertahun-tahun meratapi kepingan puzle yang hilang bersama Argentina, mulai dari memori pahit final Piala Dunia 2014 hingga tangisan kegagalan beruntun di Copa America.

Semuanya berubah total lewat magis Copa America 2021 dan Piala Dunia 2022. Messi tak lagi memikul beban untuk membuktikan bahwa ia mampu memberi trofi mayor bagi negaranya, atau menjawab keraguan apakah ia layak bersanding dengan mendiang Diego Maradona.

Kekalahan dari Spanyol di final Piala Dunia 2026 mungkin membuat perpisahannya tidak berakhir bak dongeng sempurna, namun hal itu sama sekali tidak merusak warisan abadinya. Ia sudah mendapatkan penutup yang paling krusial empat tahun lalu di Qatar, memungkinkannya melangkah pergi tanpa meninggalkan beban utang apa pun pada Argentina.

Di sisi lain, Ronaldo berdiri di kawah realita yang berbeda. Trofi Piala Dunia masih menjadi lubang terbesar di lemari prestasinya, dan kejar-kejaran dengan angka statistik belum menunjukkan tanda-tanda akan berhenti.

Ronaldo dan Rasa Haus yang Tak Pernah Usai

Meski Ronaldo telah mengonfirmasi bahwa edisi 2026 akan menjadi Piala Dunia terakhirnya, hal itu bukan berarti ia siap angkat kaki dari sepak bola. Di usianya yang ke-41, kapten timnas Portugal ini masih terus merumput, mencetak gol, dan memburu tonggak sejarah 1.000 gol dalam kariernya.

Angka fantastis tersebut mencerminkan cara pandang Ronaldo terhadap sepak bola. Sepanjang kariernya, ia selalu membutuhkan target baru untuk dikejar—mulai dari jumlah gol, rekor penampilan, hingga berbagai pencapaian yang dianggap mustahil oleh manusia biasa.

Saat kecepatan larinya mulai tergerus usia, Ronaldo beradaptasi dan berevolusi menjadi “predator” kotak penalti yang jauh lebih mematikan. Ketika pintu kompetisi Eropa tertutup baginya, ia terbang ke Arab Saudi untuk memperpanjang napas kariernya, alih-alih menganggapnya sebagai sinyal untuk berhenti.

Mentalitas baja inilah yang membuat Ronaldo mampu bertahan lebih lama dibanding rekan-rekan seangkatannya. Namun, hal ini pula yang membuat kata “cukup” menjadi sangat sulit didefinisikan dalam kamus hidupnya, karena setiap kali satu rekor berhasil dipecahkan, ia akan langsung mengunci target yang baru.

Berbeda dengan Messi. Pasca-Piala Dunia 2022, La Pulga bisa menatap ke belakang dan melihat bahwa hampir seluruh ruang kosong dalam karier internasionalnya telah terisi penuh.

Sementara saat Ronaldo melihat papan statistik, ia masih menemukan sebuah angka masif yang terus memacunya untuk menolak tua.

Ini bukan soal siapa yang benar dan siapa yang salah. Realita ini sekadar menegaskan bahwa dua sosok yang saling adu sikut selama nyaris dua dekade tersebut memilih jalan keluar yang sangat kontras di senja kala karier mereka.

Messi memilih berhenti saat ia merasa ceritanya sudah utuh. Ronaldo, sebaliknya, tampaknya baru akan sudi berhenti ketika sudah tidak ada lagi rekor yang bisa dikejar, atau ketika fisiknya benar-benar tak lagi mampu diajak kompromi.

Perbedaan mendasar ini membuat epilog dari kisah rivalitas mereka terasa jauh lebih menarik ketimbang sekadar perdebatan usang mengenai siapa yang lebih hebat (GOAT). Selama bertahun-tahun, Messi dan Ronaldo menggunakan keberadaan satu sama lain untuk mendobrak batas kemampuan maksimal mereka.

Kini, Ronaldo harus terus berlari tanpa ada lagi bayang-bayang musuh bebuyutannya di lintasan yang sama.

Ia mungkin masih akan mencetak puluhan gol tambahan, menembus rekor 1.000 gol, dan bermain jauh melampaui prediksi semua orang. Namun, sejak Messi melepaskan seragam timnas Argentina, balapan di antara keduanya telah kehilangan wujud aslinya.

Messi sudah menemukan garis finisnya. Ronaldo masih terus berlari, tetapi musuh terbesarnya saat ini bukan lagi Lionel Messi, melainkan waktu.

Scr/Mashable





Don't Miss