Penunjukan Zinedine Zidane sebagai pelatih baru Timnas Prancis seharusnya menjadi awal era baru Les Bleus setelah berakhirnya masa panjang Didier Deschamps. Namun, baru saja menjabat menjabat, legenda Real Madrid itu sudah terseret kontroversi yang tidak berkaitan dengan sepak bola.
Sorotan muncul setelah sejumlah pemberitaan di Prancis menyinggung latar belakang agama Zinedine Zidane seusai penunjukannya sebagai pelatih. Perlakuan tersebut memicu kritik karena agama tidak pernah menjadi isu utama ketika sejumlah pendahulunya dipercaya menangani Timnas Prancis.
Federasi Sepak Bola Prancis menunjuk Zidane menggantikan Deschamps, yang mengakhiri masa tugas selama 14 tahun bersama Les Bleus. Penunjukan tersebut sekaligus membawa salah satu figur terbesar sepak bola Prancis kembali ke tim nasional dalam kapasitas yang berbeda.
Dilansir Goal, polemik mulai berkembang ketika sejumlah laporan media menyoroti keyakinan Muslim Zidane setelah pengumuman penunjukannya. Sejumlah pihak kemudian mempertanyakan relevansi agama dalam membahas sosok pelatih yang baru saja memperoleh pekerjaan terbesar dalam karier kepelatihannya.
Isu Agama Langsung Muncul
Kritik paling keras datang dari Abdelkader Lahmar, anggota parlemen Prancis dari La France Insoumise sekaligus wali kota Vaulx-en-Velin. Melalui platform X, ia mempertanyakan alasan keyakinan Zidane tiba-tiba menjadi pembahasan setelah sang legenda ditunjuk.
Lahmar membandingkan perlakuan terhadap Zinedine Zidane dengan sejumlah mantan pelatih Timnas Prancis sebelumnya. Ia menilai pertanyaan serupa tidak muncul ketika Didier Deschamps, Laurent Blanc, Raymond Domenech, Jacques Santini, Roger Lemerre ataupun Aimé Jacquet pertama kali dipercaya menangani Les Bleus.
“Kami tidak pernah mengajukan pertanyaan mengenai agama kepada Didier Deschamps, Laurent Blanc, Raymond Domenech, Jacques Santini, Roger Lemerre, atau Aimé Jacquet ketika mereka ditunjuk,” ujar Lahmar. Ia kemudian mempertanyakan mengapa persoalan tersebut justru diarahkan kepada Zidane.
Menurut Lahmar, situasi menjadi semakin janggal karena Zinedine Zidane bahkan belum menjalani 24 jam sebagai pelatih Timnas Prancis ketika isu tersebut mulai berkembang. Kritik itu kemudian memperluas diskusi dari sepak bola menuju perlakuan terhadap identitas pribadi figur publik.
Terlepas dari polemik tersebut, keputusan menunjuk Zidane merupakan salah satu pergantian pelatih terbesar dalam sejarah modern Timnas Prancis. Les Bleus menyerahkan proyek berikutnya kepada sosok yang memiliki hubungan sangat kuat dengan perjalanan sepak bola negara tersebut.
Sebagai pemain, Zinedine Zidane merupakan salah satu simbol generasi terbaik sepak bola Prancis sebelum kemudian membangun reputasi luar biasa sebagai pelatih Real Madrid. Kini, pada usia 54 tahun, ia mendapatkan kesempatan memimpin negaranya dari pinggir lapangan.
Penunjukan tersebut sekaligus mengakhiri penantian panjang mengenai kapan Zidane akan kembali melatih setelah meninggalkan Real Madrid pada 2021. Sejak saat itu, namanya berkali-kali dikaitkan dengan sejumlah pekerjaan besar tanpa akhirnya kembali ke bangku cadangan.
Timnas Prancis kini menjadi tempat comeback tersebut, sekaligus menghadirkan tantangan berbeda dibanding ketika Zidane bekerja di level klub. Ia mewarisi tim dengan ekspektasi tinggi setelah era Deschamps yang berlangsung selama lebih dari satu dekade.
Pergantian tersebut juga menandai berakhirnya salah satu era kepelatihan terpanjang dalam sejarah Les Bleus. Didier Deschamps mengakhiri pekerjaannya setelah 14 tahun, membuka jalan bagi perubahan besar pada struktur teknis Timnas Prancis.
Selama periode tersebut, Deschamps menjadi figur yang sangat identik dengan tim nasional dan membuat pergantian pelatih memiliki bobot besar. Karena itu, siapa pun penggantinya akan langsung menghadapi tuntutan mempertahankan Prancis di jajaran kekuatan utama sepak bola dunia.
Federasi akhirnya memilih Zinedine Zidane, figur yang tidak membutuhkan banyak pengenalan bagi publik sepak bola Prancis. Kehadirannya membuat ekspektasi terhadap Les Bleus meningkat bahkan sebelum pertandingan pertama di bawah kepemimpinannya berlangsung.
Namun, awal perjalanan Zidane justru dibayangi pembicaraan mengenai persoalan di luar lapangan. Perdebatan mengenai agamanya kemudian dianggap sebagian pihak mengalihkan perhatian dari pertanyaan yang seharusnya lebih relevan, seperti rencana taktik dan susunan tim.
Polemik yang Bergeser dari Sepak Bola
Kontroversi tersebut menjadi sensitif karena agama merupakan bagian dari identitas pribadi seseorang dan tidak berkaitan langsung dengan kemampuan melatih. Kritik Lahmar berangkat dari anggapan bahwa Zinedine Zidane menerima perlakuan berbeda dibanding para pendahulunya.
Perbandingan dengan Deschamps, Blanc, Domenech, Santini, Lemerre dan Jacquet digunakan untuk mempertanyakan standar pemberitaan yang diterapkan kepada Zidane. Tidak ada perdebatan serupa mengenai keyakinan agama ketika nama-nama tersebut sebelumnya mendapatkan pekerjaan sebagai pelatih Prancis.
Polemik ini juga datang ketika masyarakat sebenarnya menunggu jawaban mengenai bagaimana Zidane akan membawa tim setelah lama tidak bekerja sebagai pelatih. Sudah lima tahun berlalu sejak ia terakhir kali berada di area teknis bersama Real Madrid pada 2021.
Karena itu, perhatian idealnya dapat diarahkan kepada kemampuan Zidane beradaptasi kembali dengan sepak bola kompetitif setelah masa jeda panjang. Tim nasional juga mempunyai ritme kerja yang berbeda dibanding klub karena waktu bersama pemain jauh lebih terbatas.
Bagi Zinedine Zidane, pekerjaan bersama Timnas Prancis membuka babak baru setelah periode panjang berada di luar dunia kepelatihan. Ia terakhir menangani Real Madrid pada 2021 sebelum memilih meninggalkan klub Spanyol tersebut dan tidak langsung menerima pekerjaan baru.
Lima tahun tanpa melatih tentu membuat kembalinya Zidane menarik dari perspektif teknis maupun manajemen pemain. Prancis kini mempercayakan skuad nasional kepada pelatih yang mempunyai reputasi besar, tetapi harus kembali menyesuaikan diri dengan perkembangan sepak bola terkini.
Tekanan juga akan berbeda karena Zidane sekarang menangani negara yang pernah dibelanya sebagai pemain. Setiap keputusan mengenai pemilihan skuad, formasi hingga hasil pertandingan berpotensi mendapatkan perhatian jauh lebih besar daripada pekerjaan normal seorang pelatih klub.
Itulah sebabnya kontroversi agama yang muncul pada hari-hari pertama terasa kontras dengan agenda besar yang sebenarnya menunggu Zidane. Les Bleus membutuhkan arah baru setelah berakhirnya era Deschamps, sementara Zidane harus membuktikan kapasitasnya setelah lima tahun absen.
Zinedine Zidane belum menjalani pertandingan pertamanya sebagai pelatih Prancis, tetapi ia sudah menghadapi situasi yang tidak pernah dialami sejumlah pendahulunya saat pertama menjabat. Perdebatan mengenai agama membuat hari-hari awal kepemimpinannya langsung diselimuti isu nonteknis.
Kritik Abdelkader Lahmar pada akhirnya membawa satu pertanyaan sederhana ke permukaan: mengapa keyakinan agama Zidane harus menjadi pembahasan ketika pelatih-pelatih sebelumnya tidak diperlakukan demikian. Pertanyaan itu kini menjadi bagian dari kontroversi yang mengiringi awal era baru Les Bleus.
Bagi Federasi Sepak Bola Prancis, fokus berikutnya tentu akan beralih kepada agenda pertandingan dan pembangunan tim di bawah pelatih baru. Bagi Zidane, pekerjaan sebenarnya baru dimulai setelah lima tahun tidak berdiri di pinggir lapangan sebagai seorang pelatih.
Zinedine Zidane kembali ke sepak bola untuk memimpin negaranya setelah meninggalkan Real Madrid pada 2021, tetapi ujian pertamanya justru datang bukan dari lawan di lapangan. Belum 24 jam menjabat, identitas agamanya sudah memicu perdebatan di Prancis.
Scr/Mashable















