Tim nasional Jerman berhasil mengamankan tiket ke babak gugur Piala Dunia 2026. Namun, performa anak asuh Julian Nagelsmann sejauh ini masih menyisakan banyak tanda tanya besar sebelum mereka menginjakkan kaki di fase knock-out.
Bagi Jerman, kelolosan ini tentu menjadi angin segar. Setelah hasil minor yang memalukan dalam dua edisi Piala Dunia terakhir, melaju dari fase grup dengan relatif aman merupakan sinyal positif. Tidak ada lagi drama ketakutan pulang lebih awal, tidak ada lagi situasi kacau seperti masa lalu. Target pertama Der Panzer sudah tercapai: mengamankan tempat di Babak 32 Besar.
Namun, bagi tim sekelas Jerman, sekadar lolos grup jelas jauh dari kata cukup. Pertanyaan besarnya adalah: apakah mereka sudah cukup tangguh untuk menyandang status kandidat juara? Melihat konstelasi permainan tim besutan Nagelsmann selama fase grup, jawabannya masih abu-abu.
Kemenangan telak 7-1 atas Curacao di laga pembuka sempat melambungkan ekspektasi publik. Saat itu, lini serang Jerman tampak begitu cair, kombinasi antarpemain berjalan mulus, dan fans punya alasan kuat untuk percaya bahwa tim ini berada di jalur yang benar.
Namun, kenyamanan itu mendadak hilang saat mereka bersua Pantai Gading, dan puncaknya ketika mereka dipaksa takluk 1-2 oleh Ekuador.
Kekalahan dari Ekuador menjadi alarm keras bahwa Jerman masih menyimpan banyak lubang. Mereka memang dihuni deretan pemain bintang dengan kualitas ofensif jempolan, tetapi keseimbangan permainan mereka masih jauh dari kata ideal.
Lini Serang Mewah, tapi Kurang Menggigit
Di sektor penyerangan, Jerman memiliki materi pemain yang membuat negara lain iri. Florian Wirtz, Jamal Musiala, dan Kai Havertz adalah jaminan mutu pemain teknik tinggi, cerdas, dan piawai dalam kombinasi ruang sempit. Ketika ketiganya on-fire, Jerman mampu memperagakan permainan umpan satu-dua yang sangat memanjakan mata.
Masalahnya, magis itu tidak muncul secara konsisten. Duet maut Wirtz dan Musiala belum benar-benar meledak sesuai ekspektasi. Keduanya memiliki kualitas masif, namun tampak belum mencapai bentuk permainan terbaiknya.
Saat dua kreator utama ini buntu, serangan Jerman cenderung monoton—dominan menguasai bola tetapi minim tusukan yang mematikan.Satu hal yang menjadi sorotan adalah tipikal pemain depan Jerman yang terlalu mirip. Wirtz, Musiala, dan Havertz sama-sama gemar menjemput bola di lini tengah, berputar, melakukan operan pendek, dan mencari celah kosong.
Gaya ini sangat efektif saat Jerman mengontrol penuh jalannya laga. Namun, saat menghadapi lawan yang menerapkan pertahanan rapat, mereka kekurangan sosok penyerang yang punya kecepatan murni, berani menusuk vertikal, dan mampu memecah konsentrasi bek lawan.
Leroy Sane sebenarnya bisa menawarkan opsi kecepatan itu. Sayangnya, ia bukan lagi winger eksplosif seperti masa jayanya dulu.
Di usia 30 tahun, Sane tetaplah pemain yang berguna, namun ia tidak lagi memberikan impresi menakutkan yang bisa mengobrak-abrik lini belakang lawan lewat akselerasi murninya.
Kondisi inilah yang membuat Deniz Undav menjadi pembeda. Ia mungkin tidak se-elegan Wirtz atau Musiala, tetapi ia menawarkan apa yang paling dibutuhkan di fase gugur: efektivitas mencetak gol. Menorehkan tiga gol dari tiga laga sebagai pemain pengganti adalah statistik yang impresif.
Bahkan, dua golnya menjadi penyelamat saat Jerman kesulitan meladeni Pantai Gading.
Bagi pencinta sepak bola, rumusnya sederhana. Jerman punya banyak pemain yang tampil hebat saat memegang bola, tetapi adakalanya mereka hanya butuh sosok pragmatis yang berada di posisi tepat untuk menyelesaikan peluang.
Undav sukses menjalankan peran tersebut. Kini, pekerjaan rumah bagi Nagelsmann adalah tetap menjadikannya supersub atau mulai mempercayainya sebagai starter di babak berikutnya.
Lini Pertahanan Jadi Titik Lemah Utama
Jika lini serang dinilai kurang bervariasi, sektor pertahanan justru menjadi area yang paling mencemaskan fans. Kolektivitas lini belakang Jerman di bawah asuhan Nagelsmann belum memberikan rasa aman. Saat kehilangan bola, mereka kerap meninggalkan ruang menganga yang sangat besar.
Duet gelandang Aleksandar Pavlovic dan Felix Nmecha memang piawai mendistribusikan bola, tetapi mereka dinilai belum cukup maksimal dalam memberikan proteksi kepada kuartet bek di belakang mereka. Akibatnya, lini pertahanan Jerman kerap kelabakan.
Menghadapi tim dengan transisi cepat dan serangan balik mematikan bisa menjadi mimpi buruk bagi Jerman. Pantai Gading hampir saja menghukum mereka lewat skema ini, dan Ekuador sukses membuktikannya dengan memberikan kekalahan 1-2 bagi Der Panzer.
Situasi kian pelik menyusul cederanya Nico Schlotterbeck. Ia bukan sekadar bek tengah biasa, melainkan motor penggerak Jerman dalam membangun serangan dari bawah (build-up).
Schlotterbeck punya kemampuan umpan progresif yang ciamik, dan kaki kirinya memberikan keseimbangan taktis yang krusial saat tim mengalirkan bola.
Ketika Antonio Rudiger dipaksa mengemban peran tersebut, stabilitas Jerman goyah. Rudiger tetaplah bek kaya pengalaman, namun menaruh pemain berkaki kanan dominan di posisi yang membutuhkan akurasi kaki kiri membuat sirkulasi bola Jerman menjadi tidak sekorporatif sebelumnya.
Bagi tim yang mengusung filosofi possession game, detail kecil seperti ini dampaknya sangat masif.
Jerman saat ini berada di persimpangan jalan. Mereka cukup kuat untuk melaju dari fase grup, tetapi performanya belum cukup meyakinkan untuk membuat tim lain gemetar.
Mereka punya bakat, tapi minus konsistensi. Mereka punya daya serang estetis, tapi rapuh di belakang.
Ada kemungkinan Nagelsmann sengaja tidak menguras seluruh tenaga skuadnya saat melawan Ekuador karena posisi puncak grup yang relatif aman. Namun, di babak knock-out, ceritanya akan sama sekali berbeda.
Di fase hidup-mati tersebut, satu blunder di lini belakang atau satu malam yang buntu di lini depan akan langsung mengirim mereka pulang ke Berlin.
Jerman masih memiliki modal untuk melangkah jauh di Piala Dunia 2026. Namun jika ingin benar-benar dihitung sebagai calon kuat juara, mereka wajib bermain lebih seimbang, bertahan lebih solid, dan menyerang dengan lebih klinis.
Babak grup telah usai, Jerman memang lolos, tetapi mereka masih menyisakan setumpuk keraguan bagi para pendukungnya.
Scr/Mashable















